Belajar Akhlak Lewat Syair

0
518

Nama Buku : Syiir Ngudi Susilo Suko Pitedah Kanti Terwila

Pengarang : KH. Bisyri Musthofa Rembang

Penerbit : Menara Kudus

Tahun Terbit : 1373 H.

Halaman :16 hlm.

Ukuran : 10 cm x 15 cm

Presensi : Alaik Ridhallah

 

Sebagai alumni Pondok Pesantren (Ponpes) atau yang pernah mengaji di ponpes, kitab ini tidaklah asing karena sering dipelajari, bahkan dimasukkan dalam kurikulum Forum Komunikasi Diniyyah Takmiliyyah (FKDT) sebagian kota di Jawa Tengah. Kitab ini diberi nama Syiir Ngudi Susilo Suko Pitedah Kanti Terwila dalam penyajiannya menggunakan redaksi bahasa Jawa. Apabila diterjemhkan dalam bahasa Indonesia maksudnya ialah (mencari akhlak dengan memberikan petunjuk yang jelas-contohnya) supaya dilaksanakan dalam aktifitas sehari-hari.

Kitab ini disajikan dalam bentuk syiiran, dengan menggunakan nada sederhana. Ini bertujuan mempermudah yang mempelajarinya untuk memahami dan menghapalkannya. Bahkan bisa dibuat sindiran atau mengingatkan seseorang yang berkelakuan tidak sesuai moral dengan cara melagukannya.

Sebagai orang timur yang sudah terkenal dengan kesopanan dan ketawadhuannya, maka yang dilakukan kiai Bisyri untuk mengarang kitab sederhana ini tidaklah salah, karena isinya sangat bermanfaat dalam memengaruhi dan membentuk akhlak anak-anak, orang tua, baik laki-laki maupun perempuan supaya mempunyai budi pekerti yang santun dengan memberikan contoh perilaku orang-orang terdahulu yang baik.

Namun secara garis besarnya isi kitab ini ditekankan kepada anak-anak, ini menandakan bahwa urgennya pendidikan karakter melalui tingkah laku dimulai sejak dini. Dengan adanya tatanan akhlak, maka akan terwujudnya hidup yang adem ayem dan tentrem damai. Adapun bagian-bagian yang ada di dalam kitab ini yaitu menerangkan :

Bab ambagi wektu (Bab Membagi Waktu), Ing Pamulangan (Di sekolahan), Mulih Sangking Pamulangan (Pulang Sekolah), Ana ing omah (Di Rumah), Karo guru (Terhadap Guru), Ana Tamu (Ada Tamu), Sikap dan Lagak (gaya) serta Cita-cita Luhur.

Pada bab awal yaitu ambagi waktu diterangkkan pentingnya seseorang untuk bisa menjadwal dirinya secara teratur dan istikamah (sikap konsekuan), disiplin. Keikhlasan dalam menjalankannya pasti akan mempengaruhi waktu yang akan datang.

Ini bukan karena hal apapun tapi untuk meraih masa depan yang gemilang pastilah tidak menafikan prosesnya. Mbah Bisyri juga menekankan di setiap ikhtiar sebaiknya harus disertai juga dengan doa, kita sebagai hamba yang menghamba kepada tuhan pastilah mengakui bahwa manusia adalah makhluk yang lemah.

Kitab Ngudi Susilo ini bukan hanya satu-satunya karangan mbah Bisyri yang menerangkan cara bertingkah laku, akan tetapi masih banyak, seperti mitra sejati dan lain-lain. Kitab ini akan selalu relevan sesuai zaman meskipun hanya dikemas dalam bahasa jawa yang santun.

Meskipun pemerintah sudah membuat kurikulum 2013 yang menekankan pada pendidikan karakter, namun ulama-ulama terdahulu sudah mencontohkannya langsung saat kegiatan belajar mengajar di sekolah yang non formal seperti yaitu madrasah Diniyyah (Madin).

Saran presensi. perlunya transliterasi ke dalam bahasa Indonesia supaya orang yang di luar Jawa notabennya belum bisa berbahasa Jawa dapat juga memahami dan mempelajarinya.

Sekian, terima kasih.