Sumber ilustrasi : ayeey.com

Hari ini bukan lagi menjadi hari pertama bersekolah, aku sudah melewatkan hari-hariku di sekolah sejak lima tahun silam. Sekarang aku duduk di bangku SDN Nusantara kelas 5. Aku Riani, bocah perempuan yang rambutnya ikal berwarna coklat sedikit hitam. Dua hari yang lalu usiaku baru saja menginjak 10 tahun, di gubuk sederhana ini aku bersama ibu merayakan hari kelahiranku. Kucing kampung yang warnanya belang coklat putih menjadi pelengkap dikeseharian kami. Ia juga turut memeriahkan hari kelahiranku. Ekor panjangnya selalu bergoyang-goyang ketika aku meraihnya, hewan penurut itulah yang menjadi teman bermainku.

Entah kenapa untuk memulai hari baru aku selalu menjadi pemburu matahari, atau bahkan bisa dikatakan jika matahari adalah lawan berburu. Mentari akan memburu manusia-manusia yang masih tertidur pulas untuk segera memulai harinya, sedangkan aku harus berburu segala sesuatu yang aku butuhkan sebelum berangkat sekolah. Itulah kenapa aku menganggap matahari adalah lawanku. Aku harus balapan dengan mentari untuk memulai hari baru dan berburu. Adapun kawan untuk memulai hari baruku adalah ayam berkokok yang lantang suaranya dari belakang rumah. Sekitar pukul 03.00 WIB ibu sudah terbangun dari mimpinya, dan satu jam kemudian aku dibangunkan dari lelapku.

“Rian, bangun Nak. Mandi dan segera sarapan” Ibu senang memanggilku dengan sebutan Rian, baginya aku ini putri kecilnya yang tangguh. Segera setelah ibu membisikkan kalimat penggugahnya aku menyingkirkan selimutku dan mengambil peralatan mandi. Aku tak pernah takut dengan dinginnya pagi, bagiku dingin itu adalah penggugah semangat untuk memulai semuanya.

“Ibu sarapan pagi ini apa?” usai menyegarkan tubuhku, aku segera menghampiri ibu dengan pertanyaan seperti biasa. Fajar yang baru tergelincir bebarengan dengan diriku yang mulai untuk sarapan pagi. Yang tak pernah terlewatkan dari sarapan pagiku ialah kucing kesayangan yang sudah duduk manis di sampingku. Telur mata sapi pun tak pernah terlupakan dari sarapan pagiku, serasa tak lengkap jika belum ada telur mata sapi. Selain menjadi lauk favoritku, kata ibu telur mata sapi mengandung kalori yang baik untuk menambah energi. Telur mata sapi yang selalu aku santap di pagi hari merupakan hasil ternak ayam ibu. (bersambung)