Sekjend MPR RI, Ma'ruf Cahyono S.H, M.H (kiri) saat di wawancarai reporter justisia.com seusai seminar "Sosialisasi Empat Pilar Indonesia" di Fakultas Syariah dan Hukum, Minggu (29/10). Foto: Syaifur.doc

 

Sekjend MPR RI, Ma’ruf Cahyono S.H, M.H (kiri) saat di wawancarai reporter justisia.com seusai seminar “Sosialisasi Empat Pilar Indonesia” di Fakultas Syariah dan Hukum, Minggu (29/10). Foto: Syaifur.doc

Justisia.com-Menengok sejarah Indonesia, tidak lepas dari peran pemuda yang berjuang sekuat tenaga dengan keringat penuh semangat dan cita cita yang mulia, hanya demi satu keinginan yaitu “Kemerdekaan Indonesia”. Soekarno pernah berkata, “Berilah aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia,”. Petuah ini mengindikasikan, bahwa peran pemuda sangat diharapkan kehadirannya sebagai agen perubahan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Momentum hari sumpah pemuda, yang jatuh pada tanggal 28 Oktober, dapat dijadikan refleksi bagi pemuda genarasi selanjutnya, untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dalam sanubari, dan menyadari betul bahwa kemerdekaan Indonesia, tidaklah dibangun tanpa perjuangan dan pengorbanan.

Berikut petikan wawancara Reporter Justisia.com, Hasan Ainul Yaqin dengan Sekretaris Jendral MPR RI, Ma’ruf Cahyono SH.MH seusai acara sosialisasi dan seminar yang bertajuk “Peran Mahasiswa dalam Menjaga Empat Pilar MPR RI” di Fakltas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang, Minggu, (29/10/2017).

Apa peran pemuda di era saat ini?

Peran pemuda sangatlah bernilai, dilihat dari sejarahnya, mereka memiliki posisi yang penting sejak sebelum kemerdekaan, proklamasi tahun 1945, dan era reformasi. Generasi muda harus selalu terus menerus diberi pemahaman tentang nilai kebangsaan dalam rangka mendorong persatuan dan kesatuan bangsa. Karena dengan pemahaman seperti ini, pemuda memiliki ketahanan untuk melaksanakan nilai nilai kebangsaan itu sendiri. Sebagai generasi selanjutnya, pemudalah pemegang tongkat estafet perjuangan.

Apa yang harus dilakukan pemuda dalam berbangsa dan bernegara saat ini ?

Generasi muda sebagai generasi yang masif fresh, seharusnya ikut andil pada generasi yang lebih muda, dengan mendorong bersama sama terhadap setiap elemen bangsa lain, termasuk generasi yang lebih tua, untuk mewujudkan tujuan negara kita.

Bagaimana tantangan pemuda dahulu, dengan pemuda saat ini, adakah perbedaan ?

Jelas berbeda, Kalau dulu, tantangan yang dihadapi pemuda adalah kemerdekaan, dan cara berjuangpun berbeda. Di masa sekarang, seiring dengan perkembangan teknologi, tentu pemuda diharapkan memiliki pertahanan. Sehingga dapat memanfaatkan suatu tantangan menjadi peluang. Pemuda harus mempunyai daya saing yang tinggi ditengah arus globalisasi dan tantangan yang sifatnya internal. Oleh karena itu daya saing menjadi penting.

Perkembangan teknologi, bukankah terdapat dampak pada diri pemuda ?

Setiap gejala dan fenomena akan mempunyai dampak, positif maupun negatif. Tetapi jadikanlah globalisasi itu menjadi peluang. Jangan membuat kita kontra produktif menghadapi perkembangan teknologi, para pemuda harus mampu mempunyai daya saing yang tinggi. Pada daya saing yang tinggi itulah, kemudian tantangan menjadi peluang positif.

Bagaimana dengan perkembangan teknologi yang semakin hari terekspose ?

Perkembangan teknologi informasi adalah suatu hal alamiah yang tidak bisa ditolak, karena kita harus bergerak maju, masuk dalam era modern. Tetapi pada kondisi seperti itu, jangan sampai kita tidak mampu mengikutinya. Oleh karena itu, kita harus secara terus menerus memiliki daya saing yang tinggi, sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman yang ada. Generasi sekarang, jadikanlah perkembangan semacam itu membuat kita memproduksi, bukan kemudian kontra produktif. Begitupun media sosial yang ada, jadikanlah sebagai instrumen yang betul betul membuat kita masuk dalam tantangan. (ed:Muft/Sfr)