Romo Budi Pr (kanan) dan Gus Ubaidillah Ahmad (kiri), saat berduet bersama pada acara Sumpah Pemuda di JKI Golden Gate Community Church, komplek Graha Padma Boulevard, Kamis (26/10). Foto: Doc Pribadi, Setyawan Budy.
Romo Budi Pr (kanan) dan Gus Ubaidillah Ahmad (kiri), saat berduet bersama pada acara Sumpah Pemuda di JKI Golden Gate Community Church, komplek Graha Padma Boulevard, Kamis (26/10). Foto: Doc.Pribadi, Setyawan Budy.

Justisia.com– Refleksi peringatan Hari Sumpah Pemuda diselenggarakan komunitas Lintas Agama se-Kota Semarang bertempat di JKI Golden Gate Community Church, komplek Graha Padma Boulevard, Kamis (26/10).

Salah satu tokoh Agama yang hadir, Romo Budi, mengatakan peringatan Sumpah Pemuda ini untuk mengenang 89 tahun yang menjadi tonggak keberanian yang istimewa untuk mempersiapkan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh para pemuda.

“Itu semua menjadi embrio penyemangat bagi para pejuang kita untuk gagah berani dari 28 Oktober 1928 sampai 17 Agustus 1945. Suatau perjuangan yang panjang itu menjadi spirit yang mestinya menyadarkan orang-orang hari ini dengan tanggung jawab baru mempertahankan persatuan, bangsa dan Bahasa kita sebagai bingkai hidup bersama,” ungkap Romo Budi.

Beliau juga menuturkan bahwa acara ini sungguh luar biasa. Dalam cara ini berbagai unsur lintas agama terlibat. Hal ini menurutnya sangat mencerminkan kala Sumpah Pemuda dibacakan.

“Untuk pemuda-pemuda hari ini jangan mau kalah dalam berjuang untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Tidak lagi bahasa sebagai bahasa yang diucapkan, tetapi bahasa persatuan dan persatuan yang dihayati dan yang dihidupi dengan cinta kasih,” kata Romo Budi yang jugaKetua Komisi Hubungan Antar Agama – Keuskupan Agung Semarang (HAK-KAS).

Romo sangat menekankan bahwa jangan sampai keberagaman ini tercerai-berai karena persoalan pribadi bangsa ini.

“Apapun agama kita, latar belakang, budaya, suku, dan kelompok kita, itu yang harus digemakan. Jangan sampai sesobek kertas yang dilumuri darah perjuangan itu menjadi hancur oleh pertumpahan darah anak-anak negeri sendiri,” pungkas Romo yang kini mengajar di UNIKA Soegijapranata tersebut. (Red:Yaqn/ed:Muft)