Akhir Kesetiaan Sang Legenda

0
618
Info Grafik: Afif (Justisia)

Justisia.com- Choirul Huda bukan sekedar bermain sepakbola. Ia mengajarkan permain bola bak sebuah drama kehidupan. Siapa yang setia dia akan memetiknya di akhir hayatnya. Setelah itu, kesetian adalah harga mati yang tak bisa ditawar.

Kesetiaan, mendapatkan nilai kehendak dari kita. Kapan itu ? Sebuah nilai yang tak pernah mengenal waktu ia teurai kapan dan terbongkar oleh siapa. Dirinya akan membekas ditengah gegap gempita parodi didunianya.

Bak Laila dan Majnun yang menantikan cinta hingga akhir hayatnya. Huda membuktikan cinta tidak hanya “lipstick” yang menghiasi sisi alat ucapnya. Praksisnya, ia menganggap Laskar Joko Tingkir hunian nyaman bagi pemain kelahiran 7 Juni 1979. Sorak-sorai La Mania dan Curva Boys dari berbagai sudut Stadium Surajaya.

Ajal, memang tak bisa di tahan. Ia datang seperti gledek. Lalu, kesedihan menghantui segenap orang terdekatnya.

Huda tidak merencanakan ia akan berangkat ke Alam Baqa di Lapangan Hijau. Ramon Rodrigues hanya berusaha untuk menyelamatkan gawang klubnya dari gempuran Marcel Sacramento (striker Semen Padang).

Semuanya tak terencana. Semuanya mengalir sebegitu menyedihkan dan menyesakkan dada.

Huda sudah membuktikan bahwa kesetiaan masih ada di dada pesepakbola di tengah gelontoran kapital klub yang jor-joran. (F/J)