Sumber Ilustrasi: perpus.akprind.ac.id

 

Sumber Ilustrasi: perpus.akprind.ac.id

Justisia.com- Ketidakpastian adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.Perpustakaan yang semestinya dibuka pada pukul 08.00 WIB sering mengalami keterlambatan, juga sebaliknya waktu tutup perpustakaan yang semestinya pada pukul 16.00 WIB justru semakin cepat menjadi pukul 15.00. Sehingga, banyak mahasiswa yang mengeluh karena ketidak jelasan jam kerja perpustakaan.

Saat reporter justisia.com mengklarifikasi hal ini, salah satu petugas perpus mengatakan, bahwa keterlambatan buka perpustakaan karena harus membersihkan dan menata buku di rak dahulu.

“Kami harus menata ratusan buku dirak setelah dibaca, maupun dipinjam. Kami pernah terlambat itu pun hanya sekali. Sebenarnya, pukul 08.00 tepat kami sudah standby, namun kami perlu bersih-bersih terlebih dulu, belum lagi menata buku di rak yang tidak rapi. Hal ini pun juga berlaku sama ketika menutup perpustakaan,” ujar bagian Administrasi Perpustakaan Fakultas, Nafia, Rabu (11/10).

Ia juga mengungkapkan bawa kurangnya staf dan relawan juga menjadi salah satu sebab. “Dulu sebenarnya 10 orang relawan, sekarang hanya 2 orang saja di karenakan padatnya waktu kuliah. Sehingga relawan hanya singgah ke perpustakaan sebentar, mungkin hanya satu jam saja dan waktu break pun tidak datang. Maka dari itu terjadinya molornya waktu buka dan terlalunya cepat waktu tutup,” imbuh wanita berkacamata.

Beberapa mahasiwa merasa kecewa dengan layanan kampus yang cenderung tidak sesuai, disaat mahasiswa membutuhkan buku untuk keperluan tugasnya.

“Saya merasa kecewa karena ketika saya sudah berencana pergi mencari buku sekitar pukul setengah 4 sore (setelah kuliah) . Eh, lha kok malah tutup padahal belum waktunya tutup. Kan ya kesel “ucap Azzam mahasiswa semester 3 jurusan Hukum Keluarga Islam ketika diwawancarai di depan Kantor Fakultas Syariah dan Hukum

Wakil Dekan II, Agus Nurhadi menaggapi hal ini, bahwa solusinya adalah menambah relawan dan staf perpustakaan, ia menyarankan agan relawan yang ambil minimal mahasiswa semester 7 karena kegiatan kuliah mereka yang sudah berkurang.

“Sebaiknya menambah relawan untuk mengoptimalkanjam kerja, tapi relawannya dari mahasiswa semester 7 yang sudah tidak padat kuliah,” kata Agus.

Ia juga meminta kita agar juga maklum, karena persoalan perpustakaan sistem yang di gunakan juga kerap mengalami eror.

“Kelabilanam kerja perpustakaan tidak bisa disalahkan sepenuhnya pada pihak perpustakaan fakultas. Lantaran mereka sendiri kekurangan staf, belum lagi jika ada masalah server error yang memang harus menunggu pihak PTIPD (Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data) datang. Mahasiswa pun perlu ikut memaklumi alasan ini, sebab pihak perpustakaan telah berusaha semaksimal mungkin agar mahasiswa mendapatkan pelayanan yang optimal,” pungkasnya di akhir wawancara. (Red:Mail&Tiara/Ed:Muft)