Pakar Ilmu Komunikasi: Produsen Hoak Mempolarisasi Isu

0
157

(Pakar Ilmu Komunikasi, Nurul Hasfi saat menyampaikan materi dalam diskusiHoax, Antara Media Sosial dan Media Arus Utama yang diselenggarakan TAMBORAE Media dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang di Library Caf John Dykstra Kota Lama, Kota Semarang, Kamis (31/08) siang) (Justisia/Rais)

 

Polarisasi isu yang di usung oleh produsen hoak berupa, politik pencalonan, agama, dan etika politik.

“Ketiga pola (politik pencalon, agama, etika politik) penebaran hoak akan terus berlanjut dalam Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019,” ucap Dosen Universitas Diponegoro, Nurul Hasfi dalam diskusi Hoax, Antara Media Sosial dan Media Arus Utama yang diselenggarakan TAMBORAE Media dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang di Library Caf John Dykstra Kota Lama, Kota Semarang, Kamis (31/08) siang.

Dari ketiga pola itu, penebar berita bohong secara rinci menebarkan ajakan untuk saling membenci satu sama lain menggunakan akun resmi, relawan, serta anonim.

“Mulai dari yang pertama politik yang berupa identitas, kesalehan individu, nasionalisme, karakter, dan kompetensi. Kedua, agama juga ikut kena, seperti organisasi agama dan nilai-nilai agama. Ketiga, etika politik yang meiputi korupsi, kebijakan pengelolaan sumber daya alam, dan pelanggar hak asasi manusia (HAM),” papar Pakar Ilmu Komunikasi

Internet dan pesta demokrasi itu dapat saling mendukung juga merusak. Kebebasan menggunakan media sosial dalam kontestasi politik mempengaruhi keberlanjutan demokrasi.

“Media sosial yang sakit akan menyebabkan proses demokrasi sakit. Begitu pun sebaliknya,” jelasnya kepada peserta diskusi

Ia menuturkan, media sosial yang dianggap oleh sebagian besar orang merupakan ruang kebebasan justru melahirkan monopoli informasi. Warganet mengkonsumsi kabar yang sudah dipengaruhi pemilik modal di dunia maya.

“Setelah ramai kasus Saracen ramai diberitakan oleh media massa. Ia memiliki sturuktur organisasi secara heirarkis. Si ahli ilmu tekonologi hanya mengoperasikan SARACEN, sedangkan ia dipesan oleh orang yang memiliki afiliasi dengan pemodal dan kepentingan politik tertentu untuk menebarkan berita bohong di dunia maya,” tegasnya.