Wejangan untuk Adik-adik Mabaku

0
203
(Doc: Salwa)

“Mahasiswa, kau ingin jadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya, yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin? Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu adalah sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas, dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini”(Victor Serge, Bolshevik)

Selamat datang adik-adik mahasiswa baruku tersayang. Selamat datang di tempat yang nantinya akan menuntunmu menggapai impianmu kelak. Bebaskan dan ekspresikanlah dirimu senyaman mungkin, karena di sinilah wadah penampung kreativitasmu wahai adik-adikku. Jangan percaya kalau sarjana itu tujuan utamamu. Juga jangan percaya kalau IP (indeks prestasi) tinggi adalah harta segala-galanya bagimu. Kau salah besar jika berujar sedemikian rupa. IP (indeks prestasi) tinggi tak menjamin akan menjadikanmu orang-orang besar dan sukses. Nyatanya coba kalian lihat saja isi Lapas Sukamiskin, tempat para koruptor ditahan. Siapa saja yang di dalam sana? Tentunya banyak dari petinggi negeri yang katanya bergelarkan profesor, doktor, ataupun insinyur, nyatanya mereka malah mengkhianati negara dan kita sebagai rakyatnya dengan cara memakan uang kita. Tak ubah sama sekali seperti halnya maling-maling di kampung kita, bedanya mereka hanya mengenakan dasi, dan berbaju rapi plus jas yang mengkilap dan mempunyai ilmu yang tinggi saja. Ya, ilmu yang tinggi tapi untuk membodohi dan menipu orang. Jangan sekali-kali kau menirunya dik!

Mulai sekarang rubahlah diri dan sekitarmu. Terutama ruang kuliah yang mulai membosankan ini. Setiap hari hanya mengandalkan metode yang monoton saja, ceramah di depan kelas. Dosen hanya bertitik pada satu pandangan, dan seolah-olah dia sebagai junjungan Ilahi yang setiap sabdanya harus didengar dan dikerjakan oleh semua orang di kelas. Dialah yang maha benar atas segala sabdanya. Layaknya kita hanya dipandang sebagai boneka saja. Ingat dik, kuliah itu bukan tempat untuk patuh. Melainkan untuk mencari apa itu arti kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya. Mulailah mengubah suasana yang ada. Karena kau adalah agen perubahan, kau adalah benih-benih penerus bangsamu dik. Itulah sebabnya ubahlah suasana kelasmu jadi ledakan segala pertanyaan. Ajari dosenmu untuk mendidik bukan untuk menakut-nakuti dan merasa paling pintar sendiri. Cobalah berdebat dengan perkataan-perkataan yang mereka lontarkan, dan luruskan jika mereka salah. Ingat dik, kuliah itu bukan tempat untuk mencari jodoh, gelar, juga bukan pula tempat kau bermain-main. Kuliah itu tempat kita memahami hati rakyat, karena kitalah penyambung lidah mereka kepada para petinggi negeri. Kalau kata Pak Eko Prasetyo, kuliah adalah belajarnya orang dewasa dan berakal: protes itu wajar dan diskusi itu wajib.

Terjunlah ke organisasi-organisasi yang ada, nikmatilah prosesmu di sana. Kau akan diajarkan bagaimana nikmatnya menjadi mahasiswa, dan suatu saat kau juga akan melihat dan menemukan rakyat yang rindu akan sebuah arti keadilan, polisi yang tiba-tiba ada di belakangmu yang siap dengan pentungannya untuk membubarkan diskusimu, para politisi yang berkunjung ke kampus dengan acara palsunya demi maraup pundi-pundi suara masa. Ya begitulah, kau akan mengalaminya sendiri nanti. Tunggu saja prosesnya. Aku juga berpesan padamu dik, jangan terburu-buru untuk mengejar ijazahmu. Karena prosesmu tidaklah mudah dan gampang. Kau masih butuh proses yang panjang dan matang. Bagunlah idealisme yang kokoh. Kuliah hanya pengantar yang membawamu berpetualang saja, itu semua akan menguji keberanianmu. Jangan bosan-bosannya untuk membaca dan berdiskusi. Karena membaca adalah jembatan untuk menguasai situasi. Dan diskusi adalah jembatan untuk melakukan perlawanan jika kau mulai merasa terancam dan tertindas. Jaga baik-baik diri dan otak kalian dik. Serta ingatlah jangan menomor satukan urusan perut kalian masing-masing dik. Karena itu adalah pangkal dari kebobrokan dirimu nantinya. Sekali lagi selamat berproses! (Yaqin/j)