Kerinduan Pada Gus Dur dengan Menjaga Tradisi Pesantren

0
326
Greg Barton saat diwawancarai oleh reporter Justisia.com setelah acara Lailatul Ijtima di Kantor PWNU Jawa Tengah, Rabu (09/08) malam. (Foto: Yaqin)
Greg Barton saat diwawancarai oleh reporter Justisia.com setelah acara Lailatul Ijtima di Kantor PWNU Jawa Tengah, Rabu (09/08) malam. (Foto: Yaqin)

Kemelut yang terjadi pada bangsa Indonesia akhir-akhir ini merujuk kepada persoalan suku, ras, agama, dan golongan (SARA). Masyarakat menjadi resah karena adanya keretakan antar warga yang membawa sentiment SARA ke setiap ruang-ruang sosial yang ditranformasikan ke dunia maya. Ujungnya menyiarkan kabar yang tak sedap untuk saling membakar.

Ketika peristiwa tersebut berulang-ulang diputar bak komidi putar. Ingatan kita kembali ke masa dimana Gus Dur sapaan akrab Abdurahman Wahid, memperjuangkan hak-hak sipil tanpa memasukkan sentiment SARA di dalamnya. Kaum-kaum minoritas di bela sebagai warga negara, umat beragama di beri ruang ekspresi, hingga beliau lengser karena kharismatiknya. Pameo, dimana ada kasus intoleransi disitu kisah seorang Gus Dur bergema.

Kehidupan pasca Gus Dur dan NU menjadi penting sebagai tolak ukur atas keberhasilan pluralisme yang ia sampaikan dan lakukan di tengah keragaman nusantara. Reporter justisia.com mewawancarai selama 03.09 menit dengan penulis Biografi Gus Dur Profesor Greg Barton yang kini menjadi pengajar di Dakin University di Australia setelah menjadi tamu pada acara Lailatul Ijtima di Kantor Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Rabu (9/08) malam.

Bagaimana pendapat anda tentang ungkapan Setelah Gus Dur meninggal, kehidupan baru di mulai ?

Ya. Memang sampai sekarang belum ada kedua setelah Gus Dur dan Cakn Nur. Tidak ada tokoh yang sekaliber mereka berdua sebagai pemikir sekaligus pemimpin. Kita semua merasakan rugi tidak ada Gus Dur, lagi.

Apakah kerinduan terhadap Gus Dur bisa menjadi paradoks atau penyemangat ?

Susah juga untuk menciptakan tokoh seperti beliau. Namun, saya tetap optimis ketika Gus Dur sebagai semangat di NU untuk menjaga pesantren sebagai kawah para intelektual muda berpeluang muncul layaknya Gus Dur dahulu.

Apa yang harus dilakukan oleh NU untuk hal tersebut ?

NU harus menjaga tradisi pesantren. Di dalamnya suasana intelektual dan spiritual dijaga bersama, supaya ada peluang muncul generasi baru yang mewarnai di NU maupun negeri.

Bagaimana NU harus mewarnai ditengah gempuran Islam Transnasionalisme ?

NU harus percaya diri menghadapi Islam Transnasional di nusantara. Komplitnya NU harus dibarengi dengan penyampaian pesan yang jelas tentang prinsip Islam. Contohnya, saling peduli terhadap sesama, menghormati antar keyakinan, membela kebenara, yang miskin tidak ditelantarkan. Kalau NU tidak demikian akan hancur bangsa ini. (Rep. Rais/Ed.Mufti)