Kang Muayyad (Bagian 2)

0
194
(sumber: flikr.com)
(sumber: flikr.com)

Oleh: Salwa Nida

Pena para santri berhenti menghiasi kitab kuning gundulnya, doa menjadi penutup malam ini, dan mbah Yai harus segera istirahat kembali. Kang Rais sebagai santri ndalem sudah siap siaga mengawal mbah Yai. Hal yang tak pernah hilang dari mbah Yai sesudah mengajarkan ngaji adalah mengembangkan senyumnya kepada para santrinya. Bagi para santri senyum adalah tanda kasih sayang beliau kepada mereka.

Beliau beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan, didepan pintu mbah Yai berdiri sejenak menunggu kang Rais menyiapkan sandal beliau. Kang Rais celingak celinguk, sandal mbah Yai tidak ada di tempat. Sangat mengherankan, sandal yang biasanya ditaruh pada tempat yang sama tiba-tiba lenyap. Satu persatu barisan sandal diamatinya. Mbah Yai pun paham dengan tingkah kang Rais itu, dan memintanya untuk pinjam sandal dari salah satu santri. Segera ia menjalankan dhawuh mbah Yai.

“Nang aku nyilih sandal siji kanggo mbah Yai. Ojo balik pondok sedurunge aku rene meneh”

“Ya kang”

Semua santri masih berdiam diri ditempat dan tak ada satupun yang berani beranjak dari zona duduknya. Mereka mulai gaduh menanyakan apa yang terjadi, adapula yang sejenak terlelap, adapula yang tak sabar makan malam. Begitu kang Rais datang, hening menghampiri jajaran para santri yang sedari tadi duduk. Kang Rais tidak sendiri, ia ditemani dua bodyguardnya. Dua bodyguardnya adalah kang Ghofur dan kang Rozaq. Mereka berdua mencari sesuatu diantara sandal-sandal santri, dengan bersenjata senter usaha mereka tak menuai hasil.

Sandal mbah Yai benar-benar hilang. Kang Rais sebagai pemandu sangat geram. Ia mengumumkan kepada para santri mencari sandal mbah Yai yang telah sah dinyatakan hilang. Hanya sepasang sandal yang hilang mampu menghebohkan satu pondok. Bukan hanya sekedar milik mbah Yai, tapi sandal itu punya filosofi yang mendalam. Sandal itu merupakan pemberian dari teman akrab mbah Yai, Yaitu Yai Nafi. Yai Nafi memberikan oleh-oleh sandal kepada Yai Umar setelah pulang dari Yaman. Sandal langka tersebut sebagai kenangan terakhir dari Yai Nafi, karna setelah itu Yai Nafi meninggal.

Kian larutnya malam ini tak memberikan jawaban pasti. Syafiq yang mengetahui kepergian Muayyad dan memungkinkan dugaan ghoshob tidak memberi tahu kang Rais dengan alasan takut terkena semprot dari kang Rais. Waktu telah menunjukkan jam 12 semua santri dipersilahkan kembali ke kamarnya. Karna ada perasaan takut bersalah dari Syafiq ia pun merancang ide. Baru beberapa menit masuk kamar, ia tergesa-gesa keluar.

“Kang, Muayyad gak ada di kamar.”

“Tadi dia gak ikut ngaji?”

“Saya tadi liat dia ikut ngaji, tapi saya gak liat dia lagi.”

“wes iso dipastikan iki, pelakune muayyad. Balik neng kamar sampeyan.”

Embun pagi membasahi pepohonan yang rindang akan daunnya, dingin merasuk dalam jiwa. Dan gigitan-gigitan nyamuk menusuk tajam kulit kusam sengatan asap rokok. Aku langsung terbangun dari gubuk kecil beratap pelepah pisang. Hanya sarung yang lusuh dan bau menyelimutiku. Sarung yang hampir dua minggu tak kucuci lumayan menghangangatkan badanku , meskipun aroma sedapnya yang tak seperti aroma mi sedap selalu menggantung dilubang hidungku.

***

Pagar pondok sedikit terbuka, takut untuk ketahuan bukan lagi menjadi alasan masuk pondok. Bismillah.. gerbang pondok terbuka. Tiba-tiba saja dua orang berpeci, berbaju koko putih, berekspresi garang meskipun wajah aslinya macam pelawak. Berdiri tegap dihadapanku, mereka melihat kearah kakiku, kupikir mereka melirik sarung ku, ternyata.

Itu sandal siapa? tanya kang Ghofur dengan membelalakkan matanya kearahku.

Lepas sandalmu! perintah kang Rozaq sambil menginjak kakiku.

Kebingunganku mulai memuncak, ada apa dengan sandal ini?. Kulepaskan sandal tua ini dari kakiku dan kang Rais muncul dari belakang kang Ghofur dan kang Rozaq.

“Makin pinter aja kamu Muayyad, sudah berkakli-kali kena takzir tak pernah puas, malahan kamu menantang kami untuk membuat takziran yang lebih berat. Mulai dari hafalan, lari, bersihkan kamar mandi, nyuci baju satu kamar, nyuci karpet masjid, nyapu-ngepel masjid, adzan, imam sholat, tak pernah jera. Kesalahanmu kecilmu dari ketiduran, kelayaban malam, tidak setor hafalan, ghoshob sandal, ghoshob pakaian teman dan sekarang kamu ghoshob sandalnya mbah Yai buat kelayaban malam. Apa yang kamu inginkan wahai saudara Muayyad?”

Sangat miris sekali, ternyata aku telah mengghoshob sandal Yai. Sedari tadi aku seperti melihat orang yang sedang tampil membaca puisi. Tapi ternyata mereka menghujamkan kalimat yang membangunkanku dari mimpi semalam. Yaa.. aku ghoshob sandal mbah Yai, tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Pasrah saja dengan situasi ini.

Aku digiring kang Rais dan kawan-kawan ke ndalem. Menghadap mbah Yai dengan penampilan tak pantas dan kesalahan yang makin menjatuhkan martabatku. Aku duduk dilantai keramik marmer, meski ada kursi-kursi disana, tapi rasanya tak pantas tubuhku ini mengotori kursi mewah Yai. Mbah Yai menghampiriku dengan penampilan beliau yang kubilang santai, beliau tersenyum dan menatapku. Seolah tak ada rasa marah dari wajah beliau.

“Sandal saya pakai saja, jangan ghoshob lagi. Ngaji yang rajin biar mondoknya gak percuma, kalo pengen nonton ke ndalem saja gak usah keluar ngabisin duit,” dhawuh mbah Yai dengan kelembutan sikapnya.

“Inggih Yai,” kataku serasa cukup untuk menjawab nasehat beliau. Air mataku seketika ingin mengalir, harapku dengan airmata kesalahanku luntur . tapi itu konyol, kutahan sangat-angat agar tak menetes. Kutundukkan wajahku dihadapan mbah Yai. Dan kucium tangan suci beliau, tangan mbah Yai mengelus pundakku.

“Saya gak marah sama santri saya, karena mereka sedang berjihad.”

Ungkapan itu sangat menggetarkan hati. Semakin kusadari semua tingkah jelekku disini, tak ada kemulyaan dari diriku ketika aku menghadap mbah Yai. Semua keburukan yang kubuat adalah nyata dan kebaikanku hanyalah fatamorgana.

Sandal ini hal yang remeh tapi kesalahanku tak bisa diremehkan. Aku ini santri tapi aku sudah berbuat berani sama Kyai. barokah yang kucari dengan kesalahan akhirnya mengantarkan pada kesadaran setelah kesalahan yang besar pula. Andaikan beliau tidak ridha dengan tingkahku ini tak akan pernah kudapatkan secuil barakah dari beliau. Ini bukan sebesar apa kesalahan yang dibuat, melainkan sikap besar seperti apa untuk menghadapi kesalahan orang lain. Selalu kuingat jiwa besar mbah Yai. Sandal ini adalah amanah terbesar bagiku, beliau telah meninggal tapi kenangan sandal ini selalu melekat. Sandal ini membawa barokah yang besar, kedudukanku dipondok bukan santri biasa lagi, aku menjadi santri ndalem yang selalu mengawal Yai.