Kang Muayyad (Bagian 1)

0
164
(sumber: flikr.com)
(sumber: flikr.com)

Oleh: Salwa Nida

Srek, srek, srek… para santri bergegas menuju kamar masing-masing. Seketika masjid pondok tampak sepi. Lampu-lampu neon yang biasanya menerangi ruangan terbuka itu mati semua, tinggal lampu bohlam warna putih yang tetap menerangi di sudut masjid seluas 100 m2.

Seseorang duduk diatas anak tangga masjid, sembari menikmati hembusan angin pagi hari, laki-laki berkulit sawo matang sedang mengamat-amati sepasang sandal yang yang tertata rapi di depannya.

Sandal berwarna hitam, kusam dan agak sobek dibagian bawahnya. Sandal slop ukuran 42 itu tak terlihat mahal, mewah apalagi modis. Aura yang terpancar dari sandal ini adalah kuno. Seorang santri muda, gagah, tinggi dan berwajah kota sepertiku tak layak memakai sandal khas orang sepuh.. Sandal jepit… bolehlah.. karna tak pernah ada diskriminasi bagi pemakainya. Nah.. sandal ini.. khusus bagi orang sepuh berusia kisaran 70 tahunan. Tapi ocehan-ocehan seperti itu tak pernah ku hiraukan, kuanggap saja angin berlalu. Empat tahun lamanya kesetiaanku dalam merawat dan menjaga sandal ini dari ghosoban santri yang kepepet. Sejenak memori lamaku terbuka, impuls-impuls masa lalu menjalar ke otakku.

Imala laisa umilat ma duna in # maa baqon nafyi wa tartibin zukin

Lantunan Alfiyyah malam itu terasa hangat dalam pelukan jiwa. Seluruh santri berkumpul di aula pondok, rutinitas yang tak pernah tertinggal Yaitu melantunkan Alfiyyah 20 bait sebelum ngaji kitab bersama kyai. Bagi yang sudah hafal, melantunkan Alfiyyah sangatlah ringan daripada melafalkan bahasa inggris. Tapi bagi santri yang masih merintis hafalannya, kitab Alfiyyah bagai azimat yang selalu dibawa kemanapun, kecuali kawasan rawan misalnya kamar mandi.

Malam adalah keindahan, karna malam yang mengajakku untuk bertamasya melewati kegelapannya. Sampai pagipun hadir menjemputku untuk kembali.

Tek.. tek.. tek.. tak ada lagi bisikan-bisikan yang terdengar kecuali suara tongkat Yai Umar . beliau berjalan menuju mimbar aula, dengan kawalan santri ndalem, beliau sangat berhati-hati saat melangkah. Bahkan terkadang santri ndalem itu menggandeng lengannya dan membantu beliau yang hendak duduk. Beliau adalah pusat perhatian para santri ketika sedang mengajar ngaji, lemah lembutnya sikap beliau yang terpancar melalui sinar wajahnya sangat dikagumi santrinya.

Kacamata berbentuk segi empat besar dikeluarkan beliau dari sakunya. Mulailah ngaji kitab malam itu dengan suasana hening. Posisi paling strategis untuk kabur dari ngaji yaitu dekat dengan pintu. Sengaja kupilih tempat itu agar aku bisa melewati keindahan malam ini dengan sempurna. Bulan sabit yang menggantung dilangit seolah memberi isyarat padaku supaya segera melangkahkan kaki.

Yad, malem iki arep metu neh? tanya Syafiq yang tampaknya mengamati gerak gerikku dari tadi.

Iyolah, tapi nunggu bentar biar entuk barokah, jawabku lirih.

Kamu itu lho, ajeg.. iki sing mucal mbah Yai isih arep keluyuran. Piye iso entuk barokah? kalam ampuh Syafiq selalu menyertaiku, tapi kubiarkan saja kalam itu menjadi angin yang sekedar menelesup telingaku.

Langsung saja ku lancarkan niat ini. Kuhadapkan badan ini ke arah pintu keluar dan mulai berjalan mengendap-endap. Hanya ada sinar rembulan dan satu lampu neon yang menerangi gelapnya depan aula. dari kejauhan terlihat bayangan seseorang yang sedang berjalan menuju aula, segera tangan ku meraih sandal terdekat dan kabur menjauhi aula. Tak kusangka usaha terdesak ini berhasil, gerbang pondok sedah terlewati. Brak.. kujatuhkan sandal ini ketanah dan kupakai di kaki. Alhamdulillah pas. Pas ukurannya, dan pas pasangannya. Jarang sekali aku mengghoshob dan beruntung.

Setapak demi setapak kurangkai jejak kakiku menuju warung pak Slamet. Bunyi jangkrik dan kodok di sawah sepanjang jalan semakin membuat merdu keindahan malam ini. Bisik angin yang menabrak dedaunan melepas semua beban berat dipunggung. Sejauh 100 meter warung kecil pak Slamet sudah terlihat, warung dengan julukan remang-remang itu selalu ramai dikunjungi pemuda. Pemuda-pemuda menyebutnya remang-remang karena minimnya pencahayaan disekitar warung pak Slamet. Di radius 100 meter itulah terdapat pos ronda, dan sudah menjadi adatku Yaitu menitipkan baju koko dan sarung, sehingga yang menempel di badanku tinggal kaos lengan pendek dan celana pendek. Kumantapkan langkah kakiku menuju warung pak slamet.

Yadi rene…!!! itulah panggilanku bagi mereka. Nama asliku Muayyad, namun kusuruh mereka memanggilku Yadi, berbeda ketika aku dipondok semuanya mengenalku dengan panggilan Muayyad. Ini adalah cara keduaku untuk menghilangkan identitas santri. Warung pak Slamet ramai oleh pengunjung, mereka tak sekedar ngopi ataupun makan sego kucing, tapi juga nonton layar tancep. Malam yang mencekam telah melebur dalam suasana canda tawa. Hiburan seperti ini yang selalu kuharapkan, suasana formal di pondok makin membuat sumpek saja. (Bersambung)