(Sumber Ilustrasi: randomhouse.com)
(Sumber Ilustrasi: randomhouse.com)

“Boleh skeptis asal jangan abai” . Itulah ungkapan yang dapat diambil dari teori Descartes. Iya, Sesuatu yang bisa dikatakan aneh dan sulit untuk dilogika bagi khalayak umum, Rene Descartes (1596-1650), seorang filsuf Perancis dengan teorinya Cogito Ergo Sum (aku berfikir maka aku ada).

Di sini saya tidak akan membicarakan tentang sejarah kelahiran, pendidikan, tempat tinggal Descartes dan yang lainnya. Tetapi kita akan mencoba memahami pola pikirnya, apakah pemikiran yang dilakoni Descartes tersebut masih relevan ataukah hanya sebagai bahan pembicaraan yang mengasyikkan bagi kaum intelektual saja.

Entah bagaimana cerita rincinya, akan tetapi dia mulai merasakan kesulitan untuk membedakan antara alam mimpi dan alam nyata, sampai suatu ketika ia mengatakan, “aku dapat meragukan bahwa aku duduk disini dalam pakaian siap untuk pergi ke luar, ya, aku dapat meragukan itu karena kadang-kadang aku bermimpi dalam keadaan itu, sedangkan aku ada di tempat tidur sedang bermimpi.”(Solehah: 2008)

Apa yang dikatakan Descartes kalau saya rasakan adalah sebuah proses pencarian sebuah kebenaran eksistensi kehidupan, seperti para filsuf pendahulunya. Akan tetapi Descartes lebih rasionalis, ya, benar saja karena ia hidup pada masa pasca renaissance, yakni pada awal era modern.

Hal yang bersifat indrawi saja mampu ia ragukan apalagi yang bersifat ilahi dan ilmiyah. Descartes mengajak untuk berpikir dengan meragukan setiap sesuatu yang dapat diragukannya. Ilmu pengetahuan adalah hal yang sangat strategis untuk diragukan kebenaranya, dengan melakukan anti tesis.

Coba kita lihat ketika ia mulai menolak dasar sebuah falsafah bukanlah wahyu seperti orang Kristen meyakini, melainkan akal. Orang Kristen menjadikan keimanan sebagai dasar falsafah, iman adalah sebuah keyakinan terhadap suatu hal dan tidak mengharuskan melihat realitanya, yang perlu digaris bawahi dari konsep keyakinan tersebut adalah kata melihat. Setidaknya begitulah konsep keimanan yang dilakukan oleh para pemeluk agama Islam, seperti yang dialami Abu Bakar saat mendengar cerita isra dan mikraj Nabi.

Skeptis Akar Keimanan dan Pengetahuan

Skeptis yang dipakai Barat atau kali ini Descartes, adalah akar yang kokoh dari pohon keimanan. Seseorang akan lebih kuat imannya apabila didahului oleh keraguan. Hal yang semula diragukan kebenaranya lalu ditemukan bukti yang membenarkannya, akan lebih kuat keyakinannya terhadap hal tersebut.

Walau demikian konsep cogito Descartes yang sangat rasionalis dan mendewakan akal itu, tidak sepenuhnya bertentangan dengan dasar falsafah Islam. Sebagaimana para teolog Islam seperti Abu Hasan al-Asyari dan Abu Mansur al-Maturidi atau para usuliyyin (sebutan untuk ahli usul fikih) mengajarkan tentang berpikir lalu mencari dalil/bukti yang membenarkan.

Kalau kita mau mencoba masuk lebih dalam pada alam pemikiran Descartes ini, maka kita akan merasakan atmosfir skeptisme yang luar biasa. Kita akan mulai skeptis terhadap hal-hal yang sebelumnya kita yakini kebenarannya.

Bisa jadi ini yang benar atau mungkin itu yang sebenarnya benar, perasaan semacam itu akan berputar-putar di alam pikiran kita. Lalu apakah hal semacam itu termasuk penyakit dan harus diobati dengan membunuh penyakitnya?.

Dalam buku Tahafut al-Falasifah diceritakan, sebelum mendapatkan ketenangan sebuah kebenaran, Abu Hamid al-Ghazali pernah mengalami rasa keraguan yang luar biasa mulai dari dasar falsafah adalah Indra lalu beralih ke akal, hati sampai ia mengkolaborasikan semuanya untuk mencapai kebenaran.

Perasaan semacam itu hanya bisa dirasakan oleh para pemikir yang sangat memperhitungkan sebuah kebenaran. Mereka yang pola pikirnya biasa-biasa saja akan jauh dari rasa semacam itu, pemikiran mendalam terhadap sesuatu akan menumbuhkan rasa sportif dalam menanggapi sebuah perspektif keilmuan, sehingga akan melahirkan sikap mau belajar dan menghilangkan sikap apriori yang dapat membuat perpecahan. (Ali Masruri)