Melawan Takdir Tuhan

0
270
sumber: Flikr.com
sumber: Flikr.com

Kalau kita lapar, maka kuncinya adalah makan untuk menghilangkan rasa lapar.  Kalau kita haus, maka jalan tempuhnya adalah meminum untuk menghilangkan dahaga. Kalau kita ingin sampai pada tujuan yang akan kita tempuh, maka solusinya adalah melangkah bahkan berlari. Tidak akan pernah sampai kalau kita hanya berjalan ditempat, apalagi berdiam diri menunggu takdir ilahi.

Pembahasan masalah takdir atau ketentuan Tuhan yang sudah menjadi kepercayaan umat manusia masih saja menjadi biang kerok yang menghalangi untuk merubah keadaan dalam perjalanan hidup manusia. Khususnya umat Islam yang menjadi keyaqinannya pada salah satu rukun Iman. Namun pembahasan semacam ini bukanlah sesuatu yang baru dalam tradisi agama Islam untuk diwacanakan.

Dalam Agama Islam muncul semacam aliran yang berbeda-beda pasca nabi Muhammad wafat mengenai hal tersebut. Aliran satu, percaya bahwa ketentuan, sikap dan nasib kita adalah Tuhan yang menentukan dengan tanpa sangkut paut tangan manusia. Disini, Tuhan ibaratkan sebagai dalang yang memainkan wayang. Aliran satunya lagi percaya, bahwa semua sikap dan ketentuan manusia yang dilakukan merupakan kehendak manusia itu sendiri.Tanpa tangan panjang dari Tuhan.

Persoalan atas keyakinan terhadap kedua pandangan tersebut sampai saat ini, masih menjalar dalam kehidupan masyarakat kita. Utamanya pada masyarakat yang menganut paham bahwa semua ketentuan hidup baik di dunia ataupun akhirat sudah ditakdirkan oleh Tuhan, Dengan tanpa berbuat sesuatu bagaimana menghilangkan persoalan yang dihadapi dengan usahanya sendiri.

Masalah Indonesia

Sebagai negara yang mengimpikan kemajuan. Baik maju secara ekonomi, politik dan hal lain yang ada korelasinya dengan kemajuan. Suatu keharusan untuk meminimalisirkan atau bahkan membebaskan masalah yang dihadapi negara. Agar tidak menghambat menuju Indonesia maju.

Masalah serius yang menjerat Indonesia saat Ini adalah “kebodohan dan kemiskinan” yang sering kali mayoritas masyarakat kita menganggap seolah – olah tidak bisa di otak – atik kembali, karena sudah digariskan oleh Tuhan (takdir). Dari kedua problem tersebut, tentu tidak melupakan banyaknya masalah lain yang masih banyak untuk disebutkan.

Kebodohan adalah masalah serius yang perlu dicari solusinya, tentu jawabannya bukanlah diam tidak berbuat apa apa, apalagi hanya menyerahkan semuanya kepada Tuhan dengan berpasrah diri dan berdoa saja. Dengan tanpa berusaha bagaimana cara menghilangkan kebodohan tersebut. menurut Emha Ainun Najib, dalam tradisi Nahdiyyin dikenal dengan Istilah Ghayah dan Washilah.

Ghayah adalah tujuan, sedangkan Washilah adalah perantara bagaimana agar supaya sampai dalam meraih ghayah/tujuan. Belajar inilah yang menjadi washilah bagaimana agar kebodohan dapat dientaskan. Ibarat kita mau ketempat yang dituju, maka kita harus melangkah atau bahkan berlari agar tiba. Tidak akan pernah sampai kalau hanya berjalan ditempat apalagi berdiam diri menunggu kehendak Tuhan.

Masalah kedua yang tak kalah dahsyatnya, yakni kemiskinan yang kebanyakan masyarakat yaqin, bahwa kondisi tersebut sudah kehendak Tuhan memiskinkan masyarakat yang miskin, dan mengkayakan masyarakat yang dikehendakinya. Secara filosofis, bahwa Tuhan tidak memberikan secara cuma-cuma kepada siapa yang tidak mau bekerja, tetapi ber optimis kaya.

Dan Tuhan tidak akan membiarkan manusia yang berusaha bekerja keras tetapi tetap dalam taraf kemiskinan. Bukankah Allah sudah berjanji, bahwa ia tidak merubah nasib manusia, sehingga manusia merubah dengan sendirinya?

terdapat suatu Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, (lihat: Shahih muslim juz II hal 453). Bahwa setiap manusia sudah dituliskan apakah ia orang celaka ataukah orang bahagia. Sayyidina Ali berkata, ada seorang laki-laki bertanya kepada nabi. Ya Rosulullah ! kalau begitu, apakah kita tidak usah bersusah payah bekerja? Lagian Allah sudah menetapkan sesuai kehendaknya siapa yang ditakdirkan menjadi orang bahagia dan celaka. Lantas nabi menjawab, tidak, kamu mesti beramal, beramallah ! dan setiap orang akan dijuruskan pada takdirnya.(Siradjuddin Abbas, 1993:275).

Dari kutipan hadist tersebut, dapat diambil pelajaran untuk memutar balikan kesalah pahaman manusia tentang masalah yang mengatas namakan Tuhan sebagai sumber kemiskinan (takdir) dan dapat diambil kesimpulan, bahwa takdir Tuhan beriringan dengan usaha manusianya.

Negara Melawan Takdir

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan sesuatu yang memang dicita citakan oleh negara Indonesia yang tertera dalam konstitusi. Menyelenggarakan lembaga pendidikan menjadi hal utama dan pertama untuk dibangun sebagai upaya mengentaskan kebodohan yang ada.

Demi mengentaskan kebodohan tersebut, tentu bukan orang tertentu saja berdasarkan kelas sosial tertentu yang dicerdaskan. melainkan semua warga negara berhak memperoleh asupan pengetahuan melalui pendidikan. Oleh karenanya, menurut Eko Prasetyo, agar Negara tidak menghianati tugas dan tanggung jawabnya, maka lembaga pendidikan harus mudah diakses yang siap menampung semua golongan, khususnya masyarakat miskin.

Mensejahterakan masyarakat miskin, orang pinggiran merupakan amanah yang tidak dilupakan oleh konstitusi. Negara mempunyai tanggung jawab untuk melawan takdir kemiskinan dengan mengangkat martabat bangsa untuk dijamin kesejahteraan sosialnya dengan tanpa memanjakan seperti obral janji menjelang pemilu.

“kalau kami menang pemilu, maka akan kami beri subsidi sebesar sekian selama sekian”janji semacam ini yang sering kali di ombar – ambir oleh kebanyakan para calon. justru proses politik sedemikian, bukan mendidik masyarakat untuk melawan takdir dengan usahanya sendiri, tetapi menunggu jemputan takdir akan hadirnya tindakan politik yang memalaskan masyarakat.

Tindakan seperti inilah yang perlu diganti dengan proses politik yang lebih mendidik seperti memberikan lapangan pekerjaan dan memberdayakan masyarakat untuk membantu mengubah nasibnya sendiri dengan tidak selalu menunggu santunan pemerintah yang sering kali dilupakan ataupun menunggu kepastian Tuhan yang telah diyaqini banyak orang. kalau Menurut bahasa Klise, negara janganlah memberi ikan kepada rakyat, tetapi memberikan kail kepada rakyat untuk mencari ikan sendiri.

Dengan pemberian kail tersebut, taraf kemiskinan menuju tingkat kesejahteraan ditentukan oleh masyarakat sendiri. Menurut pemikiran politik Abdurrahman Wahid, bahwa negara mempunyai kewajiban untuk memberdayakan masyarakat melalui pemberian kail, oleh karena itu, negara dengan segenab pemerintahnya harus bertanggung jawab menjaga keselamatan negeri sesuai fungsinya serta wewenang yang jelas yang dimiliki.

Dengan ini, peran aparatur negara dapat membantu melawan takdir kemiskinan yang telah menjadi kepercayaan masyarakat Indonesia yang melulu mengantungkan kemiskinan yang dialaminya kepada Tuhan (takdir Tuhan). Menurut Abdurrahman Wahid Dalam bukunya Islamku, Islam anda, Islam kita. Bahwa Islam menganggap hal tersebut berubah ubah sesuai struktur masyarakatnya.

Dengan demikian, sesuai masyarakat jualah untuk melestarikan kemiskinan atau menghapuskannya. Tuhan dan nasib tidak ada hubungannya dengan hal ini. semuanya diserahkan kepada manusianya sendiri(Abdurrahman Wahid, 2011:235). Tentu dalam hidup bernegara, ada tangan negara yang bertanggung jawab untuk melawan takdir kebodohan dan kemiskinan melalui pemberian kail yang telah disebutkan diatas.(Inunk/J)