Jalan Tengah Pergulatan Tafsir Al-Quran

0
209
(sumber: flikr.com)
(sumber: flikr.com)

Babak sejarah Islam diawali dengan turunnya wahyu dari Allah sebagai tanda bukti diangkatnya Muhammad sebagai utusan, wahyu inilah yang kemudian hari dinamakan dengan al-Quran. Wahyu dalam perspektif Islam dapat diartikan sebagai pembicaraan Tuhan dengan utusannya dengan menggunakan sarana komunikasi tertentu. Meskipun komunikasi tuhan-manusia tidak seperi komunikasi antara manusia dengan manusia namun bukan berarti komunikasi tersebut tidak bisa diteliti kembali, maka munculah penelitian al-Quran dengan menggunakan motodologi klasik maupun modern.

Perlu diketahui bahwasanya model penafsiran al-Quran secara garis besar terbagi menjadi dua macam meskipun sebenarnya banyak sekali tinjauannya yakni model penafsiran secara saintifik dan pemahaman kesusastraan. Model yang petama berupaya mendeduksikan segala bentuk ilmu pengetahuan kontemporer dari teks-teks al-Quran, model ini lebih dikenal dengan sebutan tafsir ilmiyyah. Pemahaman ini lebih ingin membuktikan kebenaran al-Quran melalui keilmuan modern.

Adapun tafsir susastra menurut al-Khuli (1937) dalam bukunya al-naqd (1956:4) adalah pemahaman turats secara total namun juga menghidupkan budaya kritik terhadapnya, sasaranya untuk mendapatkan pesan al-Quran secara menyeluruh dan terhindar dari tarikan-tarikan individual ideologis. Tafsir ini lebih menitik beratkan penerimaan nilai estetik al-Quran karena melihat fenomena masyarakat arab yang menjadikan bahasa sebagai tolok ukur mahir tidaknya seseorang dalam menggubah suatu karya atau sastra.

Kedua gagasan metodologis penafsiran al-Quran tersebut tumbuh subur pada pertengahan abad ke-19 semenjak menjamurnya karya-karya kesarjanaan modern. Sebenarnya model tafsir ilmiyyah telah ada sejak masa Dinasti Abasiyyah sebagai respon terhadap perkembangan keilmuan pada saat itu, kemudian kaum cendekia kontemporer mulai mengembangkannya sesuai dengan perkembangan zaman. Sedangkan tafsir secara susastra baru berkembang setelah di pelopori oleh al-khuli, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Nasr Hamid Abu Zaid dan lain sebagainya.

Kritik terhadap wacana penafsiran saintifik gencar sekali dilakukan oleh al-Khuli dan ulama yang lebih mengdepankan pendekatan sastra (al-manhaj al-adabi) seperti pernyataan al-Khulli Cara kerja tafsir Saintifik terkesan semena-mena dengan selalu mengkampanyekan persesuaian antara teks al-Quran dengan penemuan-penemuan ilmiyah yang pasti akan selalu berubah-ubah.

Sebaliknya menurut pendapat al-Ghazali (w.1111) yang dikutip oleh Nor Kholis setiawan dalam bukunya Al-Quran Kitab Sastra Terbesar (2005:21) al-Quran memuat informasi-informasi ilmu kealaman dan tidak kontradiktif dengan penemuan-penemuan saintifik. Pendapat al-Ghazali ini kemudian diadopsi oleh al-Razi (w.1186) dengan menulis karya yang berjudul Mafatih al-Ghaib al-Musytahir bi al-Tafsir al-Kabir yang banyak berisi eksplanasi ilmu-ilmu fisika dan penemuan-penemuan abad ke-12.

Padahal kalau dirunut kembali kedua cara penafsiran tersebut masing-masing mempunyai kelemahan, misalnya tafsir sastra masih belum bisa dianggap memenuhi kapasitas interpretasi makna teks dikarenakan pendekatannya yang terlalu memegang teguh prinsip keindahan bahasa al-Quran itu sendiri (ijaz) selain itu dalam penafsiran seperti ini membutuhkan berbagai alat kesastraan yang meliputi nahwu, shorof, balaghah, pemahaman terhadap majaz, tamtsil dan lain sebagainya sehingga model penafsiran ini sulit melahirkan intelektual yang dapat menguasainya, hal ini dikarenakan pemahaman keilmuan seseorang hanya akan condong terhadap satu fan ilmu meskipun tidak mengabaikan ilmu lainnya.

Adapun tafsir secara saintifik juga mempunyai celah dengan mengabaikan substansi al-Quran yang merupakan kitab suci dengan misi-misi moral keagamaan, selain itu teori ini terlalu memaksakan keselarasan dengan penemuan-penemuan dibidang keilmuan seperti fisika, kimia, astronomi dan lain sebaginya. Tafsir saintifik ini juga terkesan memberi pemaknaan umum terhadap teks teks dalam satu surat.

Melihat runcingnya permasalahan kedua tafsir ini maka diperlukan sarana yang menjembatani pergulatannya. Sampai hari ini keduanya terus dispesifikasikan dan tidak pernah disatukan menjadi satu kesatuan. Memang kedua konsep tersebut dipandang sangat sulit disatukan namun setidaknya keduanya mempunyai relasi yang saling melengkapi satu sama lain.

Apabila keduanya disatukan maka akan menjadi satu kekuatan tersendiri terhadap tafsir al-Quran dengan menjunjung nilai-nilai estetik dan keindahan seni gramatikal bahasanya namun tidak meninggalkan sistematika penalaran modern ala saintifik yang membuktikan kebenaran ayat al-Quran terhadap fenomena yang terjadi di alam semesta.

Meskipun begitu, penafsiran terhadap al-Quran tidak boleh terkesan anti kritik karena dengan terus mengkritisi teks-teks al-Quran maka akan selalu timbul interpretasi baru yang sesuai dengan realitas yang ada. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Arkoun yang dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya Metodologi Studi Islam (2014:213) Al-Quran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tidak terbatas. Kesan yang diberikan oleh ayat-ayatnya mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Dengan demikian ayat selalu terbuka untuk interpretsi baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal. (Aziz/j)