sumber illustrasi: vocerealmentesabia.com
(sumber illustrasi: vocerealmentesabia.com)

Oleh: Alhilyatuzzakiyah Hay

Ku seduh malam lewat secangkir chocolatos panas. Ku berusaha melawan rasa panasnya seperti aku melawan perasaanku. Rasa yang mampir di lidah mengajakku menutup mata. Kau pun menerpaku. Manis rasanya, sayang. Kata orang kalau kau menutup mata lalu kau melihat seseorang, kau itu sedang jatuh cinta kepadanya. Bibirku kalu, rupanya senyuman adalah impian.

Seperti di film waktu itu, aku bukan seorang pianis asal Korea Selatan yang menuliskan cita-citanya sejak kecil menjadi pemusik, dan hanya bermain untuk orang-orang yang dicintainya. Ketika tunangannya meninggal dunia, ia tak lagi memainkan pianonya. Aku lebih realistis, tetapi terkadang aku pun tak bisa dinalar. Apakah ini yang namanya terbawa perasaan? Asal aku tak bunuh diri saja, yang jelas kau pembunuh batinku. Siapa? Kau, ku bilang.

Apakah kau kira bermain rindu dan ketidakjelasan seperti ini selalu mengasyikkan? Barangkali karena kau merasa selalu diperjuangkan, kau dalam keadaan aman. Terdengarlah lirik membalut malam datang menghampiri kesepianku. Malam tiba-tiba menjadi kekasih yang begitu pengertian, memberi lagu kejutan.

I often close my eyes

And I can see you smile

You reach out for my hand

And Im woken from my dream

Althought your heart is mine

Its hollow inside

I never had your love

And I never will

So why am I still here in the rain

Yiruma selalu menyentuh hatiku melalui lagu. Aku harus segera mengakhiri malam ini, kalau tidak aku sama halnya lama-lama berada di neraka. Mengingatmu, menangisimu, tetapi tak boleh sampai lupa akan kesibukanku di sini. Aku harus segera pulang. Mengerjakan penelitian yang menjadi pelarianku.

***

Selter IV pagi ini dipenuhi orang-orang. Alamat telat, gara-gara semalam begadang. Sepertinya aku lebih baik naik ojek saja, daripada nunggu bus belum lagi masih nunggu transit. Sampai kampus, tiba-tiba Dita mengajakku menemaninya untuk mencari narasumber.

Lusa temenin aku ke Jogja ya!

Ngapain? Aku sensi sama itu tempat .

Iya, aku tahu Za. Ini untuk menemui narasumber penelitianku Iza. Kalo nggak kamu, siapa lagi yang ku minta bantuan?

Mas Fatah?

Dia sibuk dengan tesisnya Za.

Sesekali kalian berdua musti jalan-jalan bareng deh, Jogja tempat yang cocok Dit untuk kalian berdua supaya tidak sepaneng! Celutukku.

Aku jadi tak tega, studi sarjana yang belum dirampungkannya membuatku semakin dilema. Sahabatku itu pasti ingin jua segera S2 seperti aku sekarang.

Yowis, aku udah 5 tahun nggak ke sana. Kalau aku gimana-gimana kamu kudu tanggunng jawab.

Za, nggak boleh egois lho. Hanya gara-gara masa lalu kau musuhi satu kota, tak baik Za. Gimana nanti kalau keturunanmu ke sana? Apa tak kau perbolehkan? Ckckckckckck.

Ih, Dita aaaaah. Aku sebel karo sampean.

***

Jogja, 17 Agustus 2016

Iza, kamu pesen apa?

Chocolatos.

Sama apa?

Sama sego brabuk njih ning Dita. Aku mecoba mencairkan suasana sebelum narasumber datang. Dita nampak gugup.

Ih kamu, masak ada, di sini ya nggak ada.

Sama apa ajalah yang penting minumnya chocolatos njih ning.

Ih, ih, ih Iza Iza.

Sepertinya aku dilanda dingin yang luar biasa di sini, entah. Mungkin karena kota lama dengan terik matahari yang menyengat sudah biasa menerpaku. Chocolatos panas jua tak menghiraukan kedinginanku.

Kamu masuk angin Za? Pulang saja ke tempat penginapan ya Za. Aku jadi khawatir.

Sepertinya flu ini juga yang membuatku semakin dingin Dit.

Yasudah, maafin aku ya Dita ku seruput dulu minumanku. Ku habiskannya, eman-eman.

Hati-hati sayangku Iza.

Ku sengaja tak naik taksi, entah ingin menaiki becak di sini. Melankolis sekali rasanya. Menyusuri sudut kota demi kota sendirian. Untungnya aku tak melihat pantai tempat perpisahan, dan luka itu dimulai. Ku nikmati ayuhan kaki becak, juga dingin di kota ini.

Pak di Jogja ada apa nih Pak? Kan perayaan Hari Kemerdekaan Pak? Tanyaku pada tukang becak.

Ada apa aja Mbak, wah macem-macem.

Hih, saya serius Pak!

Saya juga serius lho Mbak.

Ah, Bapak kalau geguyonan begini membuat saya teringat teman saya yang di Jogja suka sekali bercanda.

Ya ditemui to Mbak.

Saya ingat sekali ini hari Ulang Tahunnya Pak. Dia jahat kok Pak dia mengkhianati saya, saya malas.

Tidak Mbak maafkan?

Belum sepenuhnya Pak.

Gusti Allah saja Maha Pemaaf Mbak. Ingat karena ini Hari Kemerdekaan tak kandani Mbak. Sila pertama Pancasila apa Mbak?

Hehehehehe. Ketuhanan Yang Maha Esa Pak. Ku jawab sambil tertawa cekikikan, pusingku seakan-akan hilang.

Dalam negara yang berketuhanan, memiliki penduduk yang beragama. Beragama berarti bertuhan. Bertuhan itu bercinta Mbak. Mencintai Tuhannya, makhluk-Nya, ciptaan-ciptaan Tuhan, semuanya. Maka idealnya penduduknya juga harus mencerminkan sikap saling menyanyangi, tidak ada perasaan dendam, tidak ada perasaan saling menyakiti, dan saling memaafkan. Mbak kan orang berpendidikan, pasti paham lah.

Bapak seperti alumni sekolah filsafat deh. Hah, Bapak ini lho saya jadi keingat teman saya ini. Rasa-rasanya beru beberapa menit saja aku seperti cepat sekali merasakan kedekatan hati.

Haha, semoga segera bertemu Mbak.

Pak, berhenti di penginapan yang catnya berwarna hijau ya.

Njih Mbak.

Pelan-pelan aku turun dari becak. Tidak terasa aku begitu menikmati kota ini. Mungkin juga karena hiburan dari tukang becak itu. Aku segera ingin berterimakasih padanya.

Pak.

Aku menyapa dan menghampiri, ku lihat rambutnya panjang terurai. Memakai caping juga kacamata. Lalu aku seperti merasakan sesuatu. Sesuatu yang satu sisi ku tunggu-tunggu, juga aku hindari. Ku panggil sekali lagi.

Pak, terimakasih banyak ya Pak. Juga sudah memberikan diskusi ringan tadi. Berapa Pak?

“Sudah kau bayar dengan kehadiranmu di kota ini Za,” Sahutnya sambil membuka caping dan kacamatanya, dan masih duduk di becak sambil tersenyum. Lalu pergi.

“Han..,” bibirku lemah, badanku lemas, dan jantungku berdegub sangat kencang.

Kepergian yang aku tak mampu menahannya, juga kepergian yang aku sebenarnya jauh lebih ingin berpaling dahulu jauh sebelum ia pergi, setelah melongokkan wajahnya. Aku pun tetap berdiri ditemani air yang menggaris deras sekali alirannya hingga membuatku sesenggukan. Aku diam membisu, hanya satu ucapan di depannya. Sudah itu saja. Lalu memoriku seolah berjuntaian menghadirkan percakapan-percakapan sewaktu kau bersamaku. Tadi.

***

Ditemani secangkir chocolatos, ku buka seonggok surat. Darimu nun, tukang becak. Entah itu pekerjaanmu atau ini hanya kebetulan saja kau bermain becak. Ku tahu kaulah orang teraneh dan teriseng, yang ku kenali. Surat yang isinya;

Terimakasih ucapan selamat ulangtahunnya. Semoga kita diberi kesadaran Tuhan untuk bersama. Dan terimakasih sudah mau berdamai dengan masa lalu, ini kau buktikan dengan kedatanganmu di sini.

Aku ternganga. Lalu tangisku tiada tara.

***