Sambut Ramadhan, Suara Merdeka Gelar Gerakan Santri Menulis

0
312
Rukardi, sedang menyampaikan materi tentang hoax di media sosial, pada Sarasehan Jurnalistik Satri Menulis di Audit I Kampus I, Rabu (14/06).
Rukardi, sedang menyampaikan materi tentang hoax di media sosial, pada Sarasehan Jurnalistik Satri Menulis di Audit I Kampus I, Rabu (14/06). (Foto: Danil istimewa)

justisia.com – Suara Merdeka gelar Sarasehan Jurnalistik Ramadan 2017 di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Rabu (14/5). Acara ini diikuti lebih dari 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan santri.

Bertemakan “Gerakan Santri Menulis”, tujuan diadakannya Sarasehan Jurnalistik adalah untuk mengembalikan semangat menulis santri. Ada 15 kota/kabupaten yang menjadi sasaran Suara Merdeka.

Dalam sesi pertama acara ini diisi oleh ketua Forum Komunikasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah, yang juga salah satu Dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Najahan Musyafak. Menurutnya, ada perubahan pola gerakan kelompok radikal-teroris dari semula berskala besar dengan sasaran Amerika Serikat, menjadi skala kecil dengan sasaran dalam negeri.

“Bahaya seperti ini yang harus kita hindari. Walau tergolong kelompok kecil dengan rakitan bom yang lebih sederhana, namun sasaran mereka kini adalah pola pikir masyarakat. Mereka juga menyebarluaskan paham melalui dunia maya,” terang Najahan.

Terkait pembahasan tentang dunia maya, Redaktur Pelaksana Suara Merdeka, Rukardi, juga mengatakan bahwa Indonesia tengah dirundung hoax dan krisis literasi. Dari 51% warga Indonesia pengguna media sosial inilah hoax menjadi viral. Maka untuk membendung fenomena itu, gerakan literasi dan menulis masyarakat perlu ditingkatkan.

“Santri sudah mempunyai modal literasi kitab di pesantren. Mereka juga perlu menulis untuk menyampaikan gagasannya, terutama di media massa. Karena dibaca lebih banyak orang, sehingga gaungnya lebih besar,” kata pria kulit sawo matang itu.

Ia juga menjelaskan beberapa hal tentang teknis jurnalistik. Menurutnya, tulisan yang baik adalah yang mampu memberikan solusi. Oleh karena itu, tema tulisan harus sesuai dengan peristiwa yang sedang menjadi perhatian utama masyarakat.

Dua materi terakhir disampaikan, wartawan senior Suara Merdeka, Fahmi Zulkarnain, dan kepala Desk Semarang Metro Aris Kurniawan,. Fahmi menjelaskan beberapa hal tentang fotografi jurnalistik yang baik. Foto tersebut harus memuat peristiwa yang aktual dengan angle yang tepat.

Sedangkan Aris memaparkan tentang Bahasa Jurnalistik. Ia mengatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam berita harus memenuhi kriteria tertentu seperti sederhana, singkat, padat, dan jelas. Hal ini berguna untuk memudahkan wartawan dan redaksi yang harus bekerja cepat.

“Persaingan antarmedia kian ketat. Pembaca juga senang tulisan yang enak dibaca. Jadi bahasa jurnalistik ini adalah modal awal laku tidaknya laporan berita kalian,” pungkasnya. Selanjutnya rangkaian kegiatan ini diakhiri dengan buka puasa bersama seluruh peserta sarasehan dengan narasumber. (VVI/MUF)