(sumber illustrasi: ukhtiindonesia.com)

(Hanya manusia bodoh lah yang mengumandangkan sampai berkeyakinan bahkan menjadikan itu prinsip hidup bahwa perempuan hanya memiliki peranan macak, masak, manak. Tradisi tidak akan membuat bodoh jika tidak berhenti menceguk ilmu pengetahuan.)

Zaman ini zaman edan. Padahal sejak dulu Sunan Ampel sudah menegur dengan ajarannya mo limo gui; mo mabok, mo main, mo madon, mo madat, lan mo maling. Artinya tidak melakukan lima perkara yaitu; tidak mau mabuk, judi, berzina, narkoba, dan mencuri. Tetapi tetap saja memandang Kota Lama beserta keindahan Tugu Muda di sampingnya, lengkap pula anak-anak kecil menjajakan gambar-gambar tikus kota. Atau orang-orang yang mendadak menjadi seniman berpentas tepat lampu merah menyala. Fenomena apa ini? Kau masih biasa saja memandang, bahkan menertawakan. Mereka lumpuh pada guyuran hujan yang baru saja berlarian. Matahari pun muram, mirip kesedihan.

Orang-Orang di Persimpangan Jalan kira-kira begitu hasil kerja untuk keabadian salah seorang pemilik kata. Persimpangan jalan yang menjelma pembahasan diskusi-diskusi kalangan akademisi. Sedangkan persimpangan jalan bagi mereka adalah takdir yang selalu ingin diubah. Lalu seorang yang memiliki hobi travelling dari penjara ke penjara bertanya; Bukankah masyarakat foedal pun lebih baik daripada masyarakat kayau-mengayau (buas bunuh-membunuh)?, tanya Tan Malaka. Sepertinya mereka tuan pemilik tanah sibuk mengurusi persiapan haji dibandingkan memikirkan kenapa kemiskinan merajalela padahal setiap tahun semakin tinggi tingkat kemiskinan, anehnya orang-orang berbondong-bondong pula naik haji. Para tuan ini juga sok sibuk memikirkan alih-alih pendidikan dengan jargon one day full. Ah, subjeknya lebih sibuk mencari sesuap nasi, daripada pendidikan. Dipikirkan atau tidak memikirkan? Bukan begitu. Memang yang dibutuhkanlah yang sesegera mungkin dipenuhi. Miskin harta, juga miskin jiwa pula oh Indonesia.

Tuhan telah bermusyawarah bersama malaikat akan masa depan manusia di muka bumi (lihat QS. al-Baqarah: 30). Manusia bertugas sebagai pemimpin, mengatur ketentraman. Jika bumi terluka siapa yang paling menangis atas kesemrawutan bumi? Perempuan. Ialah ibu. Perempuan diciptakan Tuhan dengan keberlebihannya; sumber airmata, sumber pengajaran, serta sumber keindahan. Sumber segala sumber yang senantiasa menjadi kekuatan tagaknya manusia, terpeliharanya bumi.

Jika kau berpulang ke kampung halaman, tatap lah wajah seseorang yang telah melahirkanmu di muka bumi. Ia sudah memimpinmu, sejak di dalam rahim sampai dirimu tua. Ia-perempuan-sang pemimpin. Merawat anak, juga merawat seorang Ayah, rumah, belum lagi yang di luar rumah. Sejenak lihatlah gaya Dian Sastro! Meskipun ia seorang mahasiswa filsafat, juga artis ia tetap mampu menjaga mandi sehari 2 kali. Atau Avianti Armand yang seorang arsitek yang bekerja juga menulis, di sisi lain mereka juga perempuan yang jauh memikirkan banyak hal yang sering ditinggalkan lelaki. Pada sisi ini perempuan melakukan pekerjaan yang wajib dilaksanakan lelaki, yaitu bekerja. Tetapi tetap melaksanakan apa yang sepatutnya dikerjakan oleh perempuan. Sampai kapanpun perempuan memang tercipta dengan segudang kesibukan, karena apa yang dilakukan perempuan berlebih maka jangan heran jika perempuan memiliki sifat yang berlebihan.

Coba kita simak kisah seorang mantan Presiden Gus Dur. Dibalik kepemimpinanya yang sering tak ternalar oleh para pengamat politik, Gus Dur memiliki peran serta isteri yang pernah berjualan untuk membantu perekonomian keluarga. BJ Habibie yang menciptakan pesawat terbang, memiliki seorang yang cerdas untuk berbagi pikiran yakni Ainun sang isteri. Selalu ada peran perempuan, kisah perempuan yang terselubung dibalik hidup seseorang.

Perempuan dengan seabrek kesibukan, juga seabrek keindahan. Secara kejiwaan perempuan lebih cepat dewasa dibanding lelaki. Tradisi Jawa yang mengajari laku perempuan untuk pandai berdandan, lihai memasak, dan juga bertugas melahirkan. Ini stigma. Perempuan tak cukup puas, aman, dan nyaman di sini saja. Ada kebutuhan yang perlu disiapkan dengan matang, yaitu pendidikan.

Pada abad generasi menunduk saat ini, terasa impian RA. Kartini memperjuangkan pendidikan perempuan kembali menjadi impian yang tak berhujung. Dewasa ini perempuan terlena dengan budaya konsumerisme melebur dalam watak masyarakat Indonesia yang cenderung boros. Padahal dalam pembelajaran semasa sekolah yang cenderung mendoktrin siswa terdapat konsep akhlak tidak boleh berlebihan la ishraf!

Mengingat eksistensi kaum realis yang meyakini sejarah selalu berulang dengan caranya sendiri, karena generasi baru cenderung melakukan kesalahan seperti sebelumya. Pemandangan yang menusuk perasaan ini, secara futuristik akan memperoleh jawaban permasalahan dengan pola yang sama. Degradasi yang memuncak bukan tidak mungkin memunculkan Kartini masa depan yang kembali memberikan pembaharuan. Kini ditemui perempuan-perempuan yang berkabung, ulah matinya batin manusia yang tak menerima pendidikan secara sempurna. Airmata banjir, anak-anak gadis menjadi ibu tidak tepat waktu. Pemilik dasi lupa tak pulang kampuang halaman, lebih gemar menghitung kekayaan. Doakanlah bumi, wahai ibu. (Hilya/j)