sumber ilustrasi : jogja buku

 

Judul : Politik Hukum Tan Malaka

Penulis : Muhtar Said

Penerbit : Thafa Media

Cetakan : Pertama,November 2013

Ukuran : 14,8 x 21 cm

Jumlah Halaman : 444 hlm.

ISBN : 9786021420768

Peresensi : Sunandar

 

Tan Malaka. Beliau adalah salah satu filsuf Indonesia yang peduli dengan rakyat kecil. Setiap idenya selalu memposisikan rakyat kecil (proletar) sebagai aktor utama dalam pembangunan negeri. Alhasil, tidak sia-sia jika presiden Indonesia waktu itu, Soekarno Hata memberikan gelar kepadanya sebagai pahlawan nasional. gelar itu diberikan Soekarno sebagai kehormatan negeri atas jasa-jasanya khususnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi, nama harumnya sempat tenggelam pada masa Orde Baru ( Orba ) karena sifatnya yang keras membuat orang apatis kepadanya. Terlupakan dan bahkan cenderung dilupakan oleh bangsa Indoensia waktu itu. Makanya, dia lebih dikenal sebagai pemberontak ketimbang seorang pahlawan nasional. Masa itu, bangsa Indonesia telah dibutakan oleh sifat Tan Malaka yang keras. Bahkan sampai melupakan penghormatan gelar pahlawan yang diterimanya, Oleh Pemimpin revolusioner kemerdekaan, Soekarno Hata.

Anehnya, hanya Tan Malaka dari sejumlah deretan pahlawan Indonesia yang dilupakan oleh bangsanya sendiri. lebih parah lagi. Nama Tan Malaka tidak ada dalam buku-buku sejarah diajarkan dalam pendidikan formal saat ini. Padahal banyak koleganya waktu itu yang namanya tercatut dalam buku-buku sejarah, sebut saja Soekarno dan Hatta.

Poltik menjadi nilai paling kuat dalam mencatutkan nama Tan Malaka. Alasan bangsa melupakanya, karena Tan Malaka termasuk dalam anggota Partai Komunis Indonesia ( PKI ). Akibatnya, dengan ajaran Marxisme yang dilarangan kala itu, banyak orang yang tidak mengenal namanya. Padahal posisi Tan Malaka waktu itu adalah sebagai pemantik. Karya-karyanya menjadi santapan empuk para pemuda bangsa. Pemikirannya selalu menggunakan metode komparasi dengan negara lainya, terutama dalam perekonomian.

Selain karya karyanya yang menjadi santapan para pemuda, sebelum berkecimpung di dunia aktivis politik kemerdekaan, pengabdian pertamanya utnuk negeri tercinta adalah sebagai guru. Di sisi lain hanya dia yang mendapat kesempatan sekolah pada kweekschool di Bukit Tinggi. Sehingga dari sini dia menjadi tokoh pahlawan Indonesia dan pemikiran-pemikiranya masih bersemi hingga sekarang.

Ekspektasi tertua telah dibuktikan melebihi mereka. Bahkan setelah pendidikan tamat di Indonesia, dia melanjutkan pendidikanya di negeri yang pernah menjajah dirinya, Belanda. Meskipun pengalaman pahit didapatkan selama belajar di negeri yang menyakitkan. Di imbangi dan kematangan berfikir yang kuat, di negara penjajah dia banyak bertemu dengan tokoh penganut faham Marxis sehingga membuat pemirianya menganut faham Marxisme. Pondasi dasar gerakanya dibentuk dengan ide-ide Marxisme.

Setelah menjadi guru, hidupnya serba kecukupan, karena mendapatkan gaji yang layak. Namun dibalik semua kebahagianya itu, ternyata dia menikmati gaji yang uangnya didapat dari perasan keringat buruh-buruh di perusahaan tersebut. Mengetahui keadaan kaum buruh semakin gelisah, diperas dan dieksploitasi dan keuntungan hasil produksi lari ke tangan penjajah. Membuat nalar marxismenya tumbuh kembali, setelah lama dia pendam. Marxisme adalah teori kritis yang menyibak adanya ideologi penindasan dalam struktur masyarakat berkelas yang menindas.

Karena pendidkan yang diajarkan oleh Belanda yang bertentangan dengan ideologinya, Tan Malaka lebih memilih untuk keluar dari pekerjaanya sebgaia guru. Ternyata pendidikan yang dikembangkan Belanda saat itu adalah mencetak kaum kapitalis yang berasal dari pribumi. Tan Malaka mengkritk tajam mengenai pendidikan yang memberikan pengetahuan diskriminatif kepada murid-muridnya. Karena memberikan wawasan yang tidak objektif.

Dunia pendidikan memang selalu menjadi perbincanga masyarakat, pendidikan dianggap bisa membantu seseorang dalam meraih kesejahteraan. Di sekolah Tan Malaka sekolah memberikan apresiasi terhadap anak yang pintar menggambar. Tidak heran lagi jika sekolah Tan Malaka mendapat kecaman dari kolonial. Akan tetapi ancaman dan kecaman dari colonial tidak menyurutkan perjuanganya demi mencerdaskan bangsa serta mengentaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

Negara tidak akan berjalan jika tidak ada orang yang menjalankanya. Karena menduduki kursi di lembaga yang menjadi mendukung sistem negara dalam mensejahterakan dan menerbitkan masyarkat. Dan orang-orang politikus pastinya mempunyai kendaraan berupa partai politik, menjadi elemen penting dalam pembangunan bangsa. Menilik fakta Indonesia yang luas, tidak mungkin negara ini akan maju jika hanya dengan modal karya-karyanya. Oleh karena itu, baginya harus ada aksi yang jelas yaitu menggunakan partai politik.

Berbeda dari politisi pada zamannya, Tan Malaka lebih suka bergerak dalam tataran bawah. Tan Malaka termasuk dalam kategori intelektual yang organik. Intelektual yang bersikap kritis dan cerdas melihat persoalan tatanan sosial yanga ada. Gaya politik Tan Malaka memang terkenal radikal dan rela mengorbankan apa saja demi mengorbankan terlaksananya tujuan. Dia menggunakan sistem diplomasi agar bisa tawar menawar. Sedangkan waktu itu indonesi jauh kalah di bandingkan dengan belanda. Sehingga hal inilah yang yang memberikan dasar pemikiran Tan Malaka bahwa perjuangan kemerdekaan harus dilakukan dengan menggunakan aksi bangsa.

Sebagai seorang politisi idealnya memang harus mempunyai kendaraan politik guna memberikan wadah dan merangkul kepada orang-orang yang mempunyai kesamaan pandang dalam menjalankan partai. Alhasil dalam perjalanan politiknya, Tan Malaka, pernah mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI) dan Parta Musyawaroh Orang Banyak ( Murba ). Pragmatisme dalam pendirian partai poltik merupakan hal yang paling tidak disukai oleh Tan Malaka, karena dalam mendirikan partai poltik Tan Malaka mempunyai program jangka pendek dan jangka panjang. Jangka panjangnya menggunakan konsep siosialisem. Tentunya, masalah sosialis tidak akan pernah lepas dari ajaran Karl Mark. Ajaran Partai Murba tidak jauh berbeda dari ajaran Karl Mark, karena hakikat partai politik dibentuk sebagai alat perjuangan untuk mewujudkan masyarkat Indonesia agar sama dalam tingkatan strata sosial..

Kontek pemikiran Tan Malaka tentang kebendaan mengadopsi dari pemikiran Immanuel Kant karena kalau pemikiran seperti masih dibudayakan maka masyarkat akan masih menganggap kemiskinan adalah suatu hal yang menjadi takdir yang diberikan Tuhan. Dalam hidupnya, Tan Malaka tidak pernah jauh dari dunia filsafat merupakan landasan dia untuk bergerak dalam memerdekakan Indonesia dari penjajah. Memang ilmu filsafat kurang diperhatikan oleh dunia pendidikan, karena dianggap sebgai ilmu yang tidak bisa digunakan secra praktis. Namun tidak bisa di pungkiri kenyataanya. Negara-negara maju seperti Jerman, Prancis dan China bisa disegani dunia karena mereka di bangun oleh filsuf yang pernah hidup disana, pembangunan ideal tentu tidak akan pernah lepas dari ilmu filsafat.

Matrealisme Karl Mark merupakan fisafat untuk perubahan, karena kajianaya adalah sauatu yang ril. Matrialisme merupakan cara pandang abstraksi kebendaan yang diluar disebut benda sedangkan di dalam memori otak adalah idea. Kedua pemikiran ini memang selalu bertengkar dan ingin membuktikan dahulu mana benda dan idea. Menurut Tan Malaka pertikaian kedua pemikir ini hanyalah permasalahan pilihan antara benda atau pikiran.

Singkat cerita Tan Malaka ingin mengatakan tahapan-tahapan mengenai perubahan negara itu bisa terjadi karena adanya pertentanagan kelas. Hukum dealektika dalam kemjauan negara akan selalu digunakan yaitu tesis, anti tesis dan sintesis. Sebagai tesisnya adalah masyarakat yang ada dalam masyarakat yang ada batas dasar kerjasama dan memilki alat serta hasil produksi bersama. Anti tesisnya adalah masyarakat kapitalis yang mulai terpecah karena pertentangan atas dasar kepemilikan pribadi. Dari kedua pertentangan tersebut maka akan memunculkan masyarakat yang berfaham komunis modern. Tan Malaka mengindikasikan Indonesia akan menjadi negara yang berfaham komunis modern karena sudah memulai ada pertentangan antara kaum pekerja dan pemilik modal.