Dr. Qosim Ahmady, Ph.d saat tengah diwawancarai, Rabu (15/06).

justisia.com – Krisis konflik peperangan berkepanjangan di Timur Tengah, semakin menyeret banyak persoalan dan kepentingan didalamnya. Aksi terorisme oleh kaum radikalis dituding menjadi salah satu penyebabnya, hingga persoalan gesekan sekterianian antar golongan agama disinyalir juga menjadi pemicunya.

Belakangan dampak dari konflik tersebut menjadikan hubungan angar negara di kawasan Teluk semakin retak. Aksi saling tuding antar negara tanpa tujuan dan bukti yang jelas tak bisa dihindari.

Mari simak wawancara eksklusif Addib Mufti dari justisia.com terkait permasalahan tersebut dengan salah satu pengamat Timur Tengah, Dr. Qosim Ahmady. Ph.D. Beliau juga menjadi pengajar di Fakultas Filsafat dan Teologi, Universitas Qum, Teheran, Iran.

Disela-sela kunjungannya ke UIN Walisongo Semarang, untuk mengisi diskusi dengan para dosen di Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Walisongo , Rabu (14/06) sore.

Bagaimana pandangan anda terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah, apakah ada kaitannya dengan gesekan antara golongan Syii dan Sunni ?

Saya pikir bahwa sekarang kita mengalami di Timur Tengah itu sama sekali bukan persoalan Syiah dan Sunni, bukan karena masalah itu. Ini merupakan masalah musuh-musuh Islam dan orang muslim disana. Kalau kita merujuk ke sejarah masyarakat Timur Tengah kita menemukan bahwa tidak ada sama sekali konflik diantara Syiah dan Sunni sebelum masuknya Amerika dan pasukan-pasukan Amerika seperti Israel atau negara-negara yang mengikuti musuh-musuh Islam.

Tidak ada sama sekali konflik antara Sunni dan Syiah di semua negara bahkan di Syiria dan Iraq dan iran itu sendiri. Ada satu keluarga di Iran, yang suaminya ahlussunah namun istrinya Syiah dan anak-anaknya sebagian Syiah dan Sunni, tidak ada masalah sama sekali. Sekarang di Iran juga masih seperti itu Alhamdulillah.

Tapi masuknya Amerika ke Timur Tengah ini, seperti perang Iraq termasuk Syiria, dengan memasukan teroris adalah Amerika dan negara-negara musuh Islam tersebut. Baru Kita dapat menemukan masalah konflik ini, dan saya pikir bahwa ini bukan persoalan Syiah dan Sunni, sebagaimana sebelum masuknya musuh-musuh Islam di negara-negara tersebut.

Terkait masa depan Timur Tengah, apakah akan menemukan titik temu sebuah perdamaian ?

Saya pikir bahwa kalau kita bisa mengenal oran lain (golongan lain) dengan cara memahami satu sama lain, kita dapat menghapus kesalah pahaman diantara kita, dengan paham bahwa kita berasal dari satu sumber, alhamdulilah tidak ada perbedan banyak diantara orang muslim Syiah Sunni di Timur Tengah.

Tuhan kita, kiblat kita semua sama, inti akidah kita sama, dengan sumber yang sama. Budaya-budaya yang ada di dalmnya sama.Kalu kita bisa kembali dan mengenal diri kita, Insyaallah setelah itu kita bisa menani-nanti good feature di tengah masyarakat Timur Tengah itu sendiri.

Bagaimana di tengah upaya negara-negara Timur Tengah untuk bersatu merajut perdamaian, ada pemutusan hubungan diplomatik terhadap Qatar oleh negara arab Saudi dan beberapa negara lainnya ?

Saya hanya mengkutip satu kalimat dari salah satu emir dia berkata Kita lama sahabat Saudi, dan kita semua yang diktakan oleh Saudi kita mengatakan siap. Tapi sekarng kita baru mengetahui bahwa kita salah. Kita masuk ke perang Yaman dan Syuriah, namun sekarng kita tahu bahwa kita salah. Kalau kita mau pisah dari Saudi mereka tidak mau.

Arab Saudi menganggap Qatar ini mendukung teorisme, sementara yang mendukung terorisme adalah Arab Saudi sendiri. Ini sudah dibuktikan dengan bantuan mereka dalam pendanaan terorisme. Sebenarnya Qatar mendukung Hamas di Palestina, mereka menggangap ini sesuai mendukung teroris oleh Amerika dan Israel.

Maka Arab Saudi menggap ini mendukung teroris di Palestina, sementara mereka adalah penduduk dan masyarakat Palestina sendiri. Padahal yang sebernnarnya adalah terorisme yang mereka dukung sendiri, seperti ISIS yaitu Jabhatun An-nusra yang ada di Syiria yang membunuh dan menyiksa masyarakat muslim sendiri.

Oleh karena itu saya berfikir Insyaallah negara Timur Tengah yang sekarang di pihak Yahudi, dekat terorisme dan Arab Saudi akan kembali lagi ke mainstream Islam yang mendukung Palestiana, rahmatal lil alamin akan segera bersatu kembali.

Apakah dengan konsep Islam rahmatan lil alamin, Indonesia dapat mengambil peran dalam persatuan dalam konflik di Timur Tegah ?

Alhamdlillah saya kira dengan pengalaman saya di Indonesia, bisa kita lihat Indonesia termasuk negara yang mempraktikan Islam Rahmatan lil alamin di negaranya. Sampai sekarang ini, Sya pikir upaya itu harus maju dan Insyaallah bisa untuk menyelesaikan.

Terakait media yang selalu memberitakan Iran sebagai negara yang intoleran, atas konflik golongan agama di dalamnya ?

Saya sudah menyampaikan bahwa sama sekali tidak ada konflik berlatar belakang agama di Iran, sepertihalnya Sunni dan Syii. Kita sebagai negara Syiah hidup berdampingan dengan mereka ahlussunah hidup dengan ramhat, dengan ramah semuanya.

Dalam kursi perpolitikan kelompok Ahlussunah juga mempunyai perwakilan sekitar 20 orang di parlemen Iran, jadi semua golongan minoritas kita berikan hak yang sama, bahan mereka orang Kristen dan orang Yahudi namun yang anti terhadap Israel. Oleh karena itu semua minoritas di Iran mempunyai hak, tidak ada sama sekali masalah konflik. Bahkan Ahlussunah banyak yang mendirikan pesantren untuk tempat pendidikan. (MUF/LES)