Sumber Ilustrasi: bukusosial.com
Sumber Ilustrasi: bukusosial.com

Penulis : Radhar Panca Dahana

Judul Buku : Ekonomi Cukup: Kritik Budaya pada Kapitalisme

Penerbit : PT. Kompas Media Nusantara

ISBN : 987-979-709-916-9

Tahun Terbit : Maret, 2015.

Halaman: xxvi + 218 hlm.

Peresensi : Lesen

(Eine grosse epoche hat das Jahrhundert geboren, aberde grosse Moment fondet ein kleines Geschlcht(suatu masa besar dilahirkan abad, tetapi masa besar itu menemui manusia kerdil)Pujangga Jerman, Johann Fristoph Friedrich von Schiller (1759-1805)

Indonesia dianugerahi seribu satu kehidupan yang membuat warganya harus survivemenjalankan tradisi yang berlandaskan pada cinta. Kemudian diteruskan kepada penghayatan bernama wilayah geografi sebagai tanggung jawab makhluk yang dikata homo humanus, homo societas, dan homo yang peduli akan nilai yang telah ditata dan ditanamkam semenjak kita lahir ke bumi nusantara.

Ketika itu, kita mencari jati diri sebagai bangsa yang berdikari, mandiri, dan berdaulat secara kaffah. Orator-orator politik menyerbu pendengaran masyarakat dengan janji bahwa dirinya kelak menjadi manusia yang dikaruniai kewajiban memelihara ribuan rakyat yang akan disejahterakan. Janji peningkatan taraf hidup layak pun menjadi jualan yang ampuh untuk mengurangi kemiskinan dan pengangguran yang riwayatnya menjadi kambing hitam setiap terjadi chaos ditingkat grass root masyarakat kita.

Perlu kita amini bersama argumen Radhar Panca Dahana dalam buku ini tentang parlemen kita yang terjerembab oleh kepentingan semata walau sebenarnya rumus politik adalah kepentingan- yang berujung pada realita wakil rakyat yang patuh pada pemodal bukan pada rakyat seperti yang digaungkan oleh defines demokrasi- tanpa pandang suku, ras, agama, dan golongan.

Dikatakan kapitalisme mendorong pemerintah dan parlemen menjadi “public master” bukan lagi “public servant” bahkan menjadi “public monster” terhadap “public sector dan “public services” . Terlepas pandangan Galbraith yang mencoba mengetengahkan padam budaya “ekonomi cukup” baca menolak affluence- yaitu ekonominya manusia yang tidak materialistik dan tidak hedonistic yang tidak terjebak oleh hidup konsumtif semata-semata. Itulah barangkali ia maksudkan sebagai kehidupan ekonominya orang-orang prasaja yang kebersahajaanya dilandasi misi-misi kultural yang secara etik dan estetik terpenuhi dan tidak perlu lebih. Hidup prasaja pernah ditetapkan dalam GBHN kita. (hlm. xx)

Selain budaya parlemen kita yang tunduk terhadap pemodal, buku ini juga mencoba mengetengahkan kesadaran bangsa ini tentang kapitalisme yang semakin hari menggerogoti setiap individu-individu nusantara. Pandangan ortodoksi masyarakat terhadap ekonomi berupa daulat modal dan daulat pasar sebagai acuan yang menjadikan kolektivitas masyarakat berubah menjadi persaingan modal yang destruktif. Seketika itu pameo homo humanus bertransformasi menjadi homo economicus yang berimbas pada rakyat jelata dan orang miskin papa memimpikan “daulat rakyat” yang akan mengankat dirinya bukan saja setara di mata hukum, tapi juga ekonomi serta kemudahan pelayanan pemerintah.

Budaya ekonomi culas yang mementingkan orang-orang yang memiliki modal. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin pun tak terelakan. Jaraknya amat jauh sehingga sirkuit modal dimainkan oleh si kaya yang memiskinkan si miskin secara struktural dan berkelanjutan. Lantas, apa gunanya kita bekerja saban hari tenaga diperas untuk melanggengkan industri berdiri di bumi ini ?

Bukankah, karakter manusia-manusia Indonesia seperti dipaparkan oleh Mochtar Lubis,

Bangsa ini memiliki karakter yang tidak achievement oriented tetapi status oriented, berorientasi pada masa lalu, menggantungkan diri pada nasib konformis, takut menerobos pakem, berorientasi pada atasan, meremehkan mutu dan suka nerabas (tidak teliti dan sistematik, tidak peraya pada diri sendiri, tidak berdisiplin, suka mengabaikan tanggung jawab, munafik, feodal, percaya pada takhayul, berwatak lemah (terutama lemah terhadap uang), tidak hemat (boros), kurang ulet, terlalu fleksibel, hidup manja (santai), kurang inovatif, kurang waspada (gampang merasa aman), suka sok kuasa (kleptorat, haus kekuasaan, mencapuradukkan kepentingan pribadi dengan kepentingan umum, tidak zakelijk, kurang membedakan yang formal dan yang informal, mengemban sikap hidup miskin, berlagak ramah (friendly) padahal sebenarnya menghambal (servile, minderwaardig) berlagak wajar-diri (low profile) padahal sebenarnya adalah lemah (soft) (hlm. xvii)

Lantas mengapa kita bisa terjebak di sirkuit kapitalisme yang mengubah kontur peradaban bahari-egalitarian- menjadi kontinental-homo economicus. Adab bahari mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi dan tidak memperkaya diri dengan mengeksploitasi alam besar-besaran. Ajaran untuk tidak menimbun kekayaan dengan alasan anak cucu kita lah yang akan memetik buah dari perilaku nenek moyangnya menjaga segenap kekayaan hayatinya. Namun, adab stok tiba-tiba ingin mengubah pola keseimbangan yang telah kita upayakan. Menumpuk kekayaan untuk mengubah perilaku pasar menjadi monopoli. Tingkah lakunya berangkat dari menambang habis sumber daya alam tanpa peduli alam sekitar dan generasi masa depan. Ya, adab bahari kita sedang ditarungkan dengan adab stok.

Adab stok muncul dari kapitalisme yang amat predatorik. Pebisnis berwajah Leviathan serta bala imperialis Herrenvolk mengutarakan pada dunia bahwa adab stok sebuah ortodoksi mazhab ekonomi yang membawa peradaban mondial yang berubah wajah komidi global. Sampai di sini kapitalisme dengan laissez faire-nya yang mengagungkan bahwa pasarnya Adam Smith The Invisible Hand (tangan-tangan ajaib) telah gagal secara praksis karena menjerumuskan masyarakat dunia untuk mengamini bahwa ketimpangan struktural harus terjadi sebagai konsekuensi sebuah pasar. Semangat ini jelas bertentangan dengan ekonomi kita yang dilandasi oleh kebudayaan. Kebebasan pasar yang dijadikan alibi untuk memonopoli persaingan. Asa perorangan dengan miliaran dolar mencabik-cabik asas bersama. Radhar Panca Dahana beragumen kapitalisme yang berkuasa atas daulat pasar harus disaingi oleh daulat rakyat sebagaimana dipaparkan

Mengunggulkan daulat rakyat dan meminggirkan daulat pasar artinya dalam pembangunan yang dibangun adalah rayat bukan modal pembanguna ekonomi perlu diposisikan sebagai derivate dari pembangunan rakyat bangsa dan negara. (hlm. 78)

Melawan (dengan) Ekonomi Cukup

Lantas, setelah kebobrokan kapitalisme yang saban hari kita telurkan dalam diskusi dari ahli ekonomi hingga politk, haruskan di ubah orientasinya ? Jawaban RPD, Ya.

Ekonomi cukup adalah sebuah sistem ekonomi yang nilai-nilai fundamentalnya mengacu pada nilai-nilai luhur dan mulia-ekonomi berbudaya-. Mempertahankan warisan ekonomi yang dilandasi budaya. Dimana manusia-manusianya menjalankan laku ekonominya untuk berusaha secara terbuka seluas-luasnya. Menihilkan imperialisasi kekayaan untuk diri sendiri atau sekelompok orang. Pameo yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin menjadi buah karma penerapan ekonomi tanpa budaya

Justru ekonomi tampa kebudayaan tak akan berarti apa-apa. Manusia dan pekerja Indonesia berada dalam situasi vacant, kosong dalam arti sepi dari kerja. Lalu ia memanfaatkannya untuk berpesta, bepergian, bersilaturahmi, ber-vacantie. Berlibur. Liburan manusia tradisi kita adalah masa di mana lingkunga tempat kita bekerja juga libur, entah itu peternak, peladang, petani, nelayan, dan seterusnya. (hlm. 177)

Memahami ekonomi cukup bukan sebagai bentuk tak mau bekerja keras mendapatkan sesuatu yang kita butuhkan. RPD dalam buku ini mencontohkan salah seorang tukang kopi Bang Uki, yang merasa tenang duduk di depan rumah setiap pagi setelah pensiun dari tempat dinasnya (red: warung kopi). Saat Bang Uki ditanya tentang rencana membuka kios baru justru jawaban yang meluncur dari mulutnya menyiratkan makna ekonomi cukup.

“Bang, tak mau buka kios baru lagi ?”Tanya sesorang

“Buat apa ?” jawab ketus dengan raut wajah kesal. “Anak gua udah es te em, emak sama babe udah naik haji. Apalagi coba ?

Moralitas berdagang Bang Uki tentu bertentangan dengan apa yang kini menjadi moral dasar perekonomian material-kapitalistik. Dimana prinsip laizzez faire atau fre will dan free market digunakan tidak hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit mungkin. Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir taka ada daya tolak atau daya koreksinya. (hlm. 167)

Perilaku Bang Uki sebagai contoh nyata jelas bukan dia seorang yang menerapkan hal demikian, terdapat ribuan orang yang menerapkan moralitas ekonomi yang berkecukupan dengan melawan hidup lebih. Kenapa demikian ?

Budaya hidup lebih ini adalah satu cara memandang dan melakoni hidup dengan sebah nilai dasar dimana kita berhak bahkan wajib memperoleh atau berusaha mendapat lebih dari apa yang telah kita miliki. Budaya hidup “lebih” ini adalah satu cara memandang dan melakonn hidup dengan sebuah nilai dasar dimana kita berhak bahkan wajib memperoleh atau berusaha mendapat lebih dari apa yang telah kita miliki. Untuk itu kita seolah wajib untuk berjuang keras, berkompetisi, bahkan jika perlu menggunakan semua cara, antara lain dengan menyikut atau menghabisi para pesaing kita. (hlm. 157)

Seringkali kita menemui orang lain sudah membeli sedan keluaran terbaru, kita melihat dengan mata terbelalak saya harus membeli lebih dari itu. Rumput tetangga lebih hijau dari rumput diri sendiri, menggambarkan dengan bahasa sederhana agar dekat kepada masyarakat kita. Iya, masyarakat kita konsumtif. Kalaupun selama ini hal tersebut berjalan di alam bawah sadar. Bangsa ini butuh mundur sejenak untuk maju secara ekonomi yang menjunjung budaya.