Sunber Ilustrasi: kotatua.org
Sumber Ilustrasi: kotatua.org

Oleh: Alhilyatuzzakiyah Hay

Kota itu penuh kenangan. Bagiku, bagimu, dan wanita itu. Kota itu beralih fungsi dari hiburanku, menjadi pesakitanku. Aku tak menyangka Tuhan alihkan semuanya, ya Tuhan memang Maha Ujug-Ujug (tiba-tiba). Sekali lagi, ah dan kenapa aku juga masih saja begini. Perlahan ada luka berlomba lari ke permukaan pipiku yang mereka bilang kemerah-merahan. Ah, nyatanya aku masih memikirkanmu, padahal kau. Kau memang tak bertanggungjawab. Hah, aku mencoba mengaduk-aduk cappuccino, malah makin aromamu tercium bersamaan adukanku. Sial.

Kau tahu? Ada banyak syarat yang harus terpenuhi sebelum melakukan perjalanan menuju kota itu. Bukan karena kali pertamanya ke sana, tetapi kali pertamanya kita bersua semenjak empat tahun yang lalu kau mengirim pesan. Pesan yang seketika melebarkan senyumku.

“Selamat menjadi lulusan terbaik,” Katamu.

Kembali pada syarat. Syarat itu adalah menyiapkan lahir batin untuk menatapmu. Sepasang mata yang tanpa aku menatapnya saja aku berikan setia. Terkadang harus menunda-nunda karena aku belum siap, meski kau selalu mempersilahkan. Kotamu memang indah, tetapi lebih indah dirimu.

Sejak di bangku sekolah itu kau katakan melalui surat, bahwa kau padaku aku menjerit menahan rasa karena kau tahu alasan mengapa. Meski aku tak membalasmu. Bagiku, cinta itu tak butuh balasan. Bisakah kau berkorban untuk tidak apa-apa? Aku pikir kau setuju tetapi semuanya terbukti di kota itu. Aku yang belum pernah memilih, berusaha mengingatkan hari-hariku bahwa aku yakin kau masih sama. Masih pada ucapmu beberapa tahun lalu.

Kau dan aku menjalani hari-hari seperti biasa. Tak lepas komunikasi, meski jarang. Sesekali kau bahkan merayuku, terkadang lucu itu yang membuatku yakin kau masih sama. Meski semenjak itu kita tak pernah membicarakannya lagi. Sama sekali.

Anehnya, ketika kau lukis wajah-wajah wanita, aku tak mengapa. Kau menulis wanita-wanita aku bahagia. Karena kau bahagia dengan duniamu. Tetapi jangan lupa aku pun diam-diam mengimani kau menyimpan tentangku pula. Hanya saja, kau tak segan itu dinikmati orang lain.

Hingga aku memutuskan untuk memilih kotamu sebagai persinggahanku. Harapanku satu bertemu denganmu. Karena sejak masa sekolah kita tidak pernah melakukan pertemuan sampai sekarang, kecuali malam itu untuk membuktikan kau masih sama.

Menuju kotamu aku gemetar. Aku berdoa, semoga kau menerima keadaanku yang mencoba sempurna dari sisi mana saja kau memandang. Disambutlah aku oleh langit yang dipasangi kapuk-kapuk putih berhias kemerah-merahan serta angin yang menerpaku mesra. Di sampingku, tertata rapi patung-patung yang unik dilengkapi kerumunan orang-orang yang memainkan alat musik. Sering sekali aku menjumpai para pejalan kaki dengan raut wajah yang bahagia. Apa kotamu ini surga dunia? Meski roda mobil melaju kencang, ku akui kotamu lebih mengesankan. Hari yang gilang-gemilang, pikirku. Semakin aku menikmati, darahku makin kencang berdebar akibat jarak semakin dekat. Kotamu memang indah, tetapi lebih indah dirimu bagiku.

Kita bersua. Aku agak kaku, sepertinya kau lebih pandai dan berpengalaman menghadapi lawan jenis. Aku takut menatapmu. Lalu kau mengajakku memilih menu. Kopi hitam, dan air putih pilihanmu sedangkan aku teh hangat. Katamu ini tempat kesukaanmu. Makan di pinggir rel kereta api. Gila sekali kau, tapi aku suka gila darimu sempurna. Apalagi bunyi klakson kereta yang terdengar kencang dari 5 meter jarakku duduk. Getaran yang menggembirakan membuat grogiku seketika turun, lantas mengalihkan pandanganku lalu menatapnya sembari menutup mata. Seakan kau tahu aku menikmati, kau bilang “indahkan?” Tanyamu. Aku hanya menganggukkan kepala. Debu-debu akibat mesin kereta saat ini sedang memasuki perutku.

Kau dan aku duduk di bawah langit yang berhias bintang-bintang. Terkadang pesawat pun lewat. Ini malam penuh kendaraan tetapi masih saja ada angin segar. Kau mulai bercerita. Suasana mencair, aku yang sudah terbiasa berhadapan dengan lawan jenis mencoba memberanikan diri untuk berusaha biasa saja. Sesekali ku lempar wajahku pada langit. Aku senang ceritamu menenangkan dan membuatku sadar bahwa kau sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk hidupmu kecuali kuliahmu. Aku tahu karaktermu, sejak sekolah dulu kau memang beprestasi, tetapi pelajaran kau acuhkan.

Anggap saja kau dan aku seperti kawan lama yang baru saja bersua malam itu. Satu alasan aku ingin menemuimu, dalam hatiku yang tak ku ungkapkan. Membuktikan bahwa kau memang tidak bercerita tentang wanita, dan ternyata itu benar. Aku tenang. Obrolan kita melalui telepon genggam bisa dipertanggungjawabkan.