Suasana pementasan Teater ASA di Audit I Kampus 1, Rabu (07/06). Foto: Fadli justisia.doc
Suasana pementasan Teater ASA di Audit I Kampus 1, Rabu (07/06). Foto: Fadli justisia.doc

justisia.com – Pertemuan naskah Zak Sorga yang berjudul “Berbiak dalam Asbak” dengan Umar Hanafi selaku sutradara yang gelisah akan rutinitas modern yang terpaku sesuai sisten dalam produksi pementasan ke-74.

“Saya mengalami rutinitas yang menghilangkan jati diri. Menanyakan aku yang seperti apa ketika dalam proses kuliah. Kebiasaan itulah yang tidak bermakna dalam perjalanan,” ucap Umar Hanafi dalam diskusi setelah pentas berakhir.

Pentas yang dihelat di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Rabu, (07/6) malam itu menampilkan enam aktor, masing-masing bernama Menthol, Maryam, Rahman, Hana, Wildan, Pongky, dan Hakim.

Selama 65 menit menampilkan naskah surrealis tersebut, para aktor dihadapkan pada kebingungan atas pilihan yang selama ini dipengaruhi oleh kepentingan yang melekat pada manusia sendiri.

“Setiap manusia mempunyai “ke-aku-annya sendiri. Berkembang menyempit atau menghilang ?. Peradaban berkembang, alat-alat elektronik semakin waktu semakin berkenbang. Seiap manusa dapat meihat kejadian di seluruh dunia tanpa hadir di dalamnya. Semua berkembang tapi manusia ?. Sistem yang dibuat untuk menjadi alat berubah menjadi tuan. Manusia mau tidak mau harus menjalankan si sistem. Sehingga manusia lupa akan kenamusiannya. Menjadi generasi ikalah. Kehilangan,” seperti dikutip dalam sipnosis.

Dalam sesi dikusi, Pegiat Teater asal Semarang, Daniel mengatakan bahwa naskah yang ditampilkan oleh Teater ASA memiliki keunikan tersendiri.

“Naskah ini kan realitas yang dilihat oleh Zak Sorga kemudian dituliskan dalam keadaanya waktu itu. Kemudian kamu (sutradara) mencoba menampilkan sesuatu menurut tafsiranmu,” ucap pria berambut panjang.

Keunikan lainnya juga terdapat pada dialog repetitiv yang dituliskan dalam naskah. “Mengambil naskah seperti ini merupakan keberanian. Selamat kepada Teater Asa. Naskah ini bebas ditafsirkan oleh sutradara maupun penonton. Dalam alurnya juga tidak ada kausalitas yang jelas. Tiba-tiba seperti itu tanpa sebab-musababnya,” tukas pria berkacamata itu. (Lesen)