Agama dalam Tirani Politik Kapital

0
215

“Terus terang, aku ingin sekali bertemu sendiri dengan Nabi Muhammad dan mengajaknya untuk hidup di abad ke 20 ini dan memberikan jawaban-jawabannya. Aku sudah kurang percaya pada orang-orang yang disebut sebagai pewaris-pewarisnya”, ~Ahmad Wahib-Pergolakan Pemikiran Islam~

Dogma yang melekat pada kaum beragama di dunia adalah mempercayai bahwa agama sebagai jalan dari keselamatan. Baik keselamatan di dunia maupun di akhirat. Kedua aspek tersebut melekat pada personal penganut agama, sebagai upaya implementasi ajaran dalam agama.

Keselamatan di dunia dan akhirat tentunya tak bisa dipisahkan. Bahkan keduanya merupakan penjelmaan dari esensi agama itu sendiri. Jika ada cara pandang di dunia yang tak memiliki kedua aspek keselamatan tersebut, maka hal itu tidak bisa disebut sebagai agama. Oleh karenanya, semua agama pasti mempunyai kedua janji keselamatan tersebut. Bahkan hal ini sebagai doktrin bagi pengikutnya. Kedua aspek tersebut merupakan sebagai suatu yang fundamental dalam beragama.

Seruan konsep agama bukanlah suatu kosep yang membolehkan semua jalan dapat ditempuh dengan alasan misi agama itu sendiri. Dalam Islam, istilah seruan ini digunakan oleh Rasulullah dengan sebutanal-futuh, atau pembebasan dari belenggu kemusyrikan, belenggu jiwa atau belenggu tirani manusia. Oleh karenanya, hadirnya agama bukan hanya menebar janji keselamatan. Agama tampil sebagai penyeru dan penjamin kedamaian, serta selalu hadir dalam mewujudkanislah(perbaikan) bagi umat manusia.


Terkungkung
Dunia Politik

Seiring berjalannya waktu, agama dialih fungsikan oleh para penganutnya untuk mengangkat kepentingan sendiri. Tak lepas dari kepentingan pribadi terselubung mereka dengan membawa nama agama.

Hari ini kita disajikan dengan tingkah politisi yang memakai baju agama. Mereka tidak sungkan-sungkannya menggunakan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan politik tertentu, baik yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok maupun institusi tertentu. Hal ini tentunya ada indikasi kerja sama dari pemimpin agama. Pada umumnya, yang lebih diuntungkan dalam upaya adalah para politisinya ketimbang para pemimpin agamanya. Kalaupun para pemimpin agama tampaknya menikmati keuntungan maka sudah tentu keuntungan itu adalah keuntungan politik mereka sendiri, bukan semata kepentingan agama.
Kegiatan politisasi agama mungkin adakalanya dipengaruhi oleh keterbatasan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Di mana ketika muncul orang-orang dengan membawa klaim-klaim kebenaran atas nama agama, di situlah mereka mulai terpancing dan terperangkap atas bujuk rayu muslihat mereka, yang akhirnya membuat mereka terjerumus juga di dalamnya. Oleh karena itulah dapat dipahami bahwa agama adalah sasaran yang paling ampuh unuk menguasai dan mengendalikan manusia termasuk untuk kepentingan dan tujuan politik.

Sebagian kita ketahui bersama bahwa dalam relasi sosial. Kapitalisme dan logika akumulasi kapital berakibat pada tak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak dijadikan sebagai komoditas. Sebagaimana yang dikatakan oleh Adam Smith, dulu air yang dianggapnya sebagai barang yang biasa, justru di kemudian hari bahkan di zaman sekarang, air menjelma menjadi barang komoditas yang diperdagangkan.

Seperti halnya dengan agama Islam di era Muhammad, di mana kala itu agama dijadikan sebagai jalan menuju bertemunya makhluk dengan Sang Khalik (pencipta) sekaligus jalan perjuangan pembebasan manusia dari kondisi yang membelenggunya. Namun kini justru sebaliknya, agama dijadikan sebagai alat untuk membelenggu manusia.

Agama semakin lama semakin dijadikan budak para penguasa yang berkepentingan. Dalil-dalil agama dijadikan alat serang antar kelompok, dijadikan alat politisasi, dan tak jarang agama dicela dan dicaci-maki oleh banyak orang. Bahkan agama acap kali diperjual-belikan layaknya sebuah snack habis makan langsung dibuang. Hanya diperas sari-sarinya untuk mendulang keuntungan yang besar bagi para tokoh agama.

Anehnya lagi, praktik agama sebagai jalan menuju pembebasan dialihfugsikan menjadi alat pembela kejahatan dan ketidak-adilan oleh kalangan orang-orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai sosok agamawan. Para agamawan-agamawan kini hanya menjadikan agama sebagai komoditas bagi isi kantung-kantung mereka. Bahasa suci yang mereka lontarkan bagaikan pernak-pernik buah tangan yang diperjual belikan di tempat-tempat wisata, yang kemudian sengaja mereka jual kepada para elit yang membutuhkan.
Membela perusakan lingkungan, hanya diam melihat rakyat tertindas, dan menyeru kepada para kaumnya untuk melupakan kedzaliman penguasa berdalih agar kaumnya mementingkan kehidupan akhirat ketimbang duniawi mereka.

Pembenahan Moral

Adanya kekerasan terjadi karena timbulnya sikap intoleran kepada pemeluk agama lain dengan landasan dalil-dalil agama. Seperti adanya dalilamar maruf nahi munkar. Doktrin tersebut sering dipergunakan beberapa aliran pembela Islam yang tidak enggan menggunakan kekerasan untuk menegakkan hukum Islam. Namun kenyataannya, Indonesia yang mayoritas penduduk beragama malah masuk dalam nominasi sebagai negara terkorup di dunia. Perpecahan umat beragama dan suku-suku banyak terjadi karena sifat sentimen mereka.

Lagi-lagi agama hanya berdiam diri atas segala realitas yang terjadi. Hal ini juga tampak terlihat dengan semakin tumbuhnya majelis ritual keagamaan dan ideologiclaim of truthantaragama.Adanya kehidupan ritual sentris beranggapan bahwa masalah nantinya akan terselesaikan jika manusia berdoa dengan tulus dan ikhlas kepada Tuhan, berdoa berharap nantinya Tuhan akan mengirim juru selamat untuk mereka. Hal sedemikian ini akhirnya banyak dilakukan masyarakat bahkan hingga muncul di layar kaca. Padahal secara psikologi, tayangan mistis akan menambah rasa takut dalam jiwa seorang anak, yang selanjutnya menciptakan rasa putus asa ketika berhadapan dengan hal serupa.

Maka langkah yang tepat untuk mengatasi hal ini adalah dengan memperbaiki moralitas umat. Karena agama bukan merupakan alat untuk membentuk sistem moneter atau pemerintahan yang baik. Bagaimanapun sistem pemerintahan atau ekonomi itu dibentuk, jika tidak didukung dengan moralitas umat beragama yang baik, sistem itu akan diselewengkan.

Perlu adanya kerja sama dan hubungan baik antar pemeluk agama yang harus segera dibenahi untuk memulihkan kembali hubungan persahabatan pada keadaan semua. Agar terselesainya segala konflik perbedaan dan pertarungan ideologi antaragama. (Yaqin/j)