Faktor Cuaca dan Pembongkaran, Hambat Pembangunan Tol Semarang-Batang

0
147
sumber ilustrasi: beritajateng.net
sumber ilustrasi: beritajateng.net

Justisia.com.“Buruknya cuaca dan relokasi pembongkaran menjadi penghambat para pekerja proyek pembangunan ruas Jalan Tol ruas Batang-Semarang. Proyek milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang di targetkan Presiden Indonesia, Joko Widodo selesai Idul Fitri ini terancam tidak selesai,” ungkap Ketua Pelaksana Proyek Pembangunan Tol Batang-Semarang, saat ditemui reporter justisia.com di Bringin, Ngaliyan, Semarang, Jumat, ( 28/4 ).

Selain itu ia menambahkan, dua faktor yang mempengaruhi lambatnya pembangunan tol. “Cuaca yang tidak mendukung membuat lambatnya para pekerja kami dalam pembangunan. Begitupun dalam pembongkaran rumah warga, banyaknya warga yang tidak terima, rumah, warung, dan ruko nya di bongkar. Hal itu, menjadi kendala terbesar kami dalam pembangunan,” imbuhnya.

Pembebasan tanah milik perhutani juga terkendala kespakatan harga tanah beserta tanamannya.

“Karena pemilik tanah, menargetkan harga yang luar biasa mahalanya, sehingga kami disini, mau tidak mau harus membeli tanah dan pohon tersebut. Karena kami disini sedang mengejar waktu agar pembangunan cepat terselesaikan,” sambungnya

Kadiv Kemanan, Kebrsihan, dan Kenyamanan (K3), Dianto (51) mengatakan, tol ini tidak mungkin selesai Idul Fitri tahun ini, karena disini kami selain dihadapakan pada kondisi cuaca yang buruk dan relokasi pembongkaran kami juga harus membangun jembatan untuk akses warga disini.

“Sehingga, itu tentu membutuhkan waktu yang sangta lama karena dalam penggalian tanah, luas dan tipe per meter. Tanah yang digali kedalamanya minimal 12 meter. Lengkapnya pekerja-pekeja dari berbagai daerah diharapkan bisa saling melengkapi dalam pembangunan tersebut,” kata pria kelahiran 1967.

Salah sorang warga berharap pembangunan tol cepat selesai, sehingga mereka dapat beraktifitas kembali.

“Pembanguna jalan tol ini diharapkan bisa selesai secepatnya agar kami bisa berjualan lagi. Karena berjualan merupakan pekerjaan satu-satu nya sampingan kami,” kata Waluyo, warga Tanjung Sari. (NDR/MFT)