Secercah Perasaan

0
216
(sumber illustrasi: ukhtiindonesia.com)

“Pagi sayang ku Ari,,,, diumur 18 tahun ini, panjang umur sehat selalu,,,. Maaf kalo ga bisa ngomong langsung lewat televon, aku masih sibuk, harap mengerti ya say,,, mungkin ntar siang kadonya sampai,” Kata dia.

Bagaikan secarik pesan yang tak melegakan hati pembacanya. Mo gimana lagi? Itulah kado yang barusan kudapat dari kekasihku. Wajar saja kalau dia memang sibuk, karena harus bekerja. Dan aku yang menuntut perhatian darinya namun tak pernah kudapat. “Bagaikan pungguk merindukan rembulan kali yaa nuntut perhatian!” gumamku dalam hati setelah membaca pesan dari kekasihku. Seakan tak perduli dengan perasaan ku sendiri, akupun tak membalas pesanya dan segera prepare pergi kekampus.

Hari-hariku seperti robot tanpa perhatian dan kasih sayang dari teman-teman dan sahabatku di kampus. Akupun menghilangkan rasa jengkel dan keceaku dengan ikut banyak kegiatan kampus. Sampai-sampai untuk mengatur jadwal saja aku bingung hehe. “Arin mah sibuknya sama kegiatan lel…beda dengan kita yang sibuknya jeng-jeng sama pacar mulu,” sindiran pun mulai melayang dari mulut teman kos ku. Aku hanya membalas dengan senyuman yang menggores lembut pernafasan. Meski punya pacar hari-hariku layaknya seorang yang lagi jomblo, “Resiko LDR an kali yee…” pekik ku dalam hati yang ingin dihibur.

Mungkin karena keadaan dan perasaan yang menuntun secercah bayangan penyesalan yang pernah kulakukan. Hanya beberapa bulan banyak teman yang kudapat disini. Akupun mulai banyak berteman dengan cowok dibeberapa kegiatan kampus dan dikelas, termasuk dengan Dika. Pertamakali bertemu yaitu dikelas, karena tidak sengaja kami satu kelas. Dia yang mulai duluan sms aku, hingga beberapa bulan kita saling mengenal satu sama lain.

Hingga dipuncaknya, ku fikir Dika hanyalah sebatas teman untuk mengusir kegalauan ku. Singkat waktu setelah kita saling curhat dengan maslah asmara masing-masing, Dika pun menyatakan perasaanya kepadaku. Awalnya kebingungan menyelimutiku hingga fikiranku terhempas kapada kekasih ku yang masih jarang menghubungiku. jikapun menghubungi takpernah sedikitpun perdamaian terjadi dalam pembicaraan kami. Hayalan ku berputar kembali kebelakang 4tahun silam, ketika kenangan manis masa-masa SMA ku denganya.

Meski yang ku tau dalam benaknya hanyalah harta sebagai pemuas kebahagiaan tapi kutetap jalani hubungan ini. Hitam putih berlalu kini akupun tak mampu memendam keinginan untuk mendapatkan perhatiannya setelah kami memutuskan untuk pisah jarak, karena dia yang tak mau melanjutkan pendidikan dan memilih bekerja. Kini hari-hariku berganti senyuman setelah aku diam-diam berhubungan dengan Dika. Dia yang selalu bersamaku disini dan selalu meghiburku kalaku jenuh dengan tugas kuliah. Hubungan kitapun seperti layaknya orang berpacaran.

Meski sebenarnya aku tak memberi jawaban atas perasaanya, Dika pun mengerti perasaan ku karena semua perasaan yang ku rasakan kepada kekasihku ku sertakan dalam curhatan. Namun dengan singkat cerita pula, Dikapun mulai menjauhiku entah apa sebabnya. Tapi yang kutau dia pun juga mempunyai kekasih sama dengan ku. Entah ada apa tiba-tiba iapun mengerim pesan kepadaku, “Rin…maaf untuk semuanya, karna lebih baik kita akhiri saja hubungan ini…kufikir tiada arah hubungan yang kita jalani ini.” Otak ku mulai terrangsang dengan kata-kata nya, hingga beberapa saat ku baru bangun dari kabut kepedihan dan kekecewaan. “aku salah apa Dik?,” pesan pertama kukirim namun tak ada balasan yang masuk hingga beberapa jam ku merenung dalam kesunyian. Akhirnyapun aku mulai membuat keputusan, dan kukirim pesan lagi “oke..kalau itu yang kau inginkan,” juga tiada balasan samasekali.

Kini aku mulai benar-benar terhanyut dalam siksa perasaan. Aku hanya bisa merenug dan merenung dikamar kos ku, entah kenapa ada yang mnegganjal pandanganku seketika itu. Ku mncoba menyadarkan diri dan menghampiri kotak kecil diatas almari. Ku baru mnyadari bahwa kado yang diberikan okeh kekasihku ternyata belum sempat ku buka dan baca isi dari surat itu. “dear Aarini sayang.. aku kangen banget sama kamu say…maafin aku yang ga pernah ada waktu untuk perhatian lebih ke kamu. Pekerjaan yang menuntutku, hingga aku merasa bersalah dengan mu say. Gajiku juga belum seberapa, aku hanya bisa memberikan cincin perak ini. Percayalah sayang,,suatu saat nanti aku pasti akan mengganti cincin perak ini dengan emas dan kita akan mencapai ke jenjang yang lebih serius, entah berapa tahun lagi. Selamat ulang tahun sayang ku Arin.” Kaki ku pun terasa gemetar, matakupun mulai mengembun. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur sembari menunggu balasan telponku.