Ramadhan, Kapitalisasi, dan Titik Klimaks Onani Iman

0
156
sumber iluatrasi: visimuslim.net
sumber iluatrasi: visimuslim.net

Oleh: Ainul Yaqin

Aku tidak bisa berpura-pura membanggakan bulan Ramadhan, jika bulan tersebut ternyata penuh dengan kemunafikan di dalamnya. Aku tidak bisa berpura-pura senang menyambut datangnya bulan Ramadhan, jika nantinya hanya diperuntukkan sebagai penyenang hati kalangan tertentu atau aku hanya dianggap sebagai pribadi yang toleran. Dan aku tidak bisa berpura-pura mengagungkan bulan Ramadhan, jika hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja.

Puasa dan seperangkat nilai-nilai di dalamnya, merujuk pada ketaatan dan kesalehan sosial, bukan dibuat untuk kesalehan individual. Menahan diri dari lapar, haus, dan hawa nafsu adalah sebuah aktivitas yang erat kaitannya dengan aktivitas sosial. Nilai-nilai yang terkandung dalam puasa cenderung mengajarkan tentang kepedulian dan kepekaan diri terhadap sesamanya, bukan sebaliknya.

Namun kenyataan yang kita lihat dari tahun-ketahun bulan Ramadhan justru menafikan tentang kepedulian dan kepekaan terhadap sesama. Bahkan yang selama ini kita lihat hanya segumpalan kemunafikan belaka. Di bulan ini yang dalam tanda kutip sebagai Bulan Penuh dengan Kasih Sayang justru hampir tidak terlihat. Banyak terjadi kekerasan yang mengatasnamakan agama di dalamnya. Orang-orang yang tidak punya kuasa atas publik dengan seenaknya melakukan penutupan terhadap warung-warung makan yang buka di siang hari dan cafe-cafe malam. Bahkan kontak fisik tidak jarang terjadi.

Begitu juga dengan tindak kriminal, di bulan ini tingkat tidak kriminal sangat tinggi dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Mulai dari pencurian sandal di masjid, pencopetan di mall, penghipnotisan di stasiun dan terminal, ataupun perampokan rumah yang ditinggal pemiliknya pulang kampung.

Setelah mereka tertangkap oleh polisi, mereka dengan terus terangnya mengatakan bahwa hasil dari jarahan tersebut akan mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang sangat tinggi di bulan Ramadhan. Tak jarang mereka juga memanfaatkan tetangga untuk meminjam uang guna ikut bereuforia menyambut lebaran, dengan jaminan pengembalian uang dua kali lipatnya setelah lebaran.

Tapi sayangnya hal tersebut tak semulus demikian, setelah lebaran mereka tidak bisa mengembalikan uang tersebut yang akhirnya berujung pada penunggakan hutang yang menghimpitnya. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini masyarakat terjebak dalam kapitalisme materialistik yang tidak lebih dari artifisial semu.

Tidak hanya itu saja, bahan makanan yang semula dengan harga standar pasar sontak melonjak tajam. Pemerintah melihat harga bahan pokok yang begitu tingginya terlihat terheran-heran. Padahal jika dipikir-pikir pada bulan Ramadhan konsumsi makanan lebih rendah ketimbang bulan-bulan lainnya, namun nyatanya hal ini terjadi. Inilah barangkali yang dimaksud dalam teori ilmu ekonomi klasik, dimana Ramadhan selalu menciptakan kondisi permintaan akan kebutuhan bahan pokok yang meningkat dari masyarakat (demand) sehingga para produsen tentu menyediakan bahan-bahan pokok itu sesuai dengan harga yang akan dibuat oleh mereka (supply). Ramadhan sudah sejak dulu dicitrakan oleh fenomena kenaikan bahan pokok karena memang kebutuhan orang-orangnya yang telah melebihi porsi biasanya.

Lebih mengherankan lagi, di bulan ini banyak masjid yang berlomba-lomba meramaikannya dengan membagikan tajil gratis yang tentu menunya beraneka ragam dan telah tersedia mulia dari hari pertama hingga akhir akhir Ramadhan. Tak hanya itu, masyarakat rela mendatangkan imam sholat tarawih selama sebulan penuh dari Timur Tengah yang menurut mereka fasikh dan merdu hingga merogoh kantung sedalam-dalamnya.

Begitu juga siaran televisi yang berhasil mencetak dan mengorbitkan ustad-ustadz atau para dai muda (para ustad karbitan) untuk mengisi ceramah-ceramah rohani di setiap menjelang waktu berbuka dan setelah subuh. Ceramah yang mereka hadirkan juga sangat menggelitik, Sedekah, sedekah, dan sedekah. Padahal mereka sendiri tidak sadar kalau diri merekalah yang sebenarnya patut kita sedekahi pula. Seolah-olah mereka dengan seenaknya menjual keimanan mereka demi pundi-pundi rupiah. Ada yang lucu, ada yang berbentuk renungan, dan ada yang membuat terharu. Semakin banyak orang yang menyukainya maka semakin banyak pula pundi-pundi uang yang terkumpul dan ketenaranpun semakin tinggi,

Jadi dari sini kita dapat mengibaratkan kalau puasa itu sebenarnya mirip-mirip dengan mesin cuci tubuh. Tetapi problemnya adalah puasa Ramadhan hanya kolektif milik umat muslim, dan lebih banyak unsur karnaval sosialnya, pamer kebajikan, eksistensi sosial, pamrih pahala dan banyak menuntut ini-itu agar dihormati, ditoleransi dan dihargai ibadah puasa Ramadhannya. Alih-alih bernilai sunyi dan kontemplatif, itulah sebabnya nyaris tak ada perubahan berarti pada diri mereka sebelum dan sesudahnya.