Eko Prasetyo (pengarang buku Kitab Pembebasa), saat menyampaikan materinya dalam acara bedah buku di American Corner, Rabu (24/05). Foto: Inunk
Eko Prasetyo (pengarang buku Kitab Pembebasa), saat menyampaikan materinya dalam acara bedah buku di American Corner, Rabu (24/05). Foto: Inunk

justisia.com – Mahasiswa sebagai pemangku tanggung jawab sosial, semakin hari mengalami keruntuhan gerakan terhadap tantangan sosial yang dihadapinya.

Menurut Eko Prasetyo, saat ditemui reporter justisia.com usai mengisi acara Bedah Buku Kitab Pembebasan Tafsir Progresif atas Kisah-kisah Dalam Quran di Aula American Corner, Kamis, (24/05). Minimnya gerakan mahasiswa merupakan akibat dari struktur kampus yang orientasinya menjauhkan mahasiswa dari khalayak umum.

“Struktur kampus yang berperan mirip seperti koorporasi, menuntut mahasiswa untuk lebih pragmatis, efisien, dan memilih lebih cepat menyelesaikan kuliahnya. Tentunya struktur ruang yang sedemikian menjauhkan mahasiswa dari ruang publik,” tutur penulis buku Kitab Pembebasan Tafsir Progresif atas Kisah – kisah Dalam Quran.

Ia menambahkan, bahwa pengaruh paling penting yang mengendorkan semangat gerakan mahasiswa adalah orientasi kampus yang mengembangkan mahasiswa dengan model baru.

“Penerimaan mahasiswa melalui jalur prestasi merupakan salah satu model baru yang dijadikan primadona oleh kampus, sehingga model semacam itu meninggalkan karakter lama mahasiswa yang suka demo, protes dan lain – lain,” imbuhnya.

Untuk mengembalikan ruh mahasiswa yang semakin lama ditelan zaman, perlu ada strategi baru dalam menyusun langkah baru.

“Langkah yang harus dilakukan yaitu membuat kaderisasi baru yang mengembangkan praktek gerakan yang bermanfaat langsung bagi mahasiswa,” ucap pria lulusan UII Yogyakarta.

Menurut penulis buku Orang Miskin Dilarang Sekolah tersebut, bahwa praktik kerja lapangan, mengembangkan pendidikan alternatif bagi kaum miskin, mengembangkan model kewirausahaan yang berbasisi sosial merupakan contoh membangun kaderisasi gerakan mahasiswa dalam segi sosial, sedangkan dalam segi intelektual, yaitu mengajarkan perlawanan bagi mahasiswa dengan cara yang lebih alternatif.

“seperti kampanye yang bersifat komonikatif, mitsalnya melalui film, dan diskusi buku yang saat ini sangat penting,” pungkasnya.[J/Ink]