Nasib Buruh Ditangan Pemerintah

0
126
(sumber: Republika.co.id)
(sumber: Republika.co.id)

Membicarakan peristiwa pemburuhan, tiada habisnya didiskusikan sebagai bahan pokok pembicaraan dan disuarakan di jalan dari masa-kemasa, karena sejarah buruh merupakan bagian dari sejarah dunia. Ditetapkannya tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional yang dikenal dengan May Day, adalah bentuk menilai buruh dalam aspek kemanusiaan. Bahwa buruh juga manusia punya hati, jiwa, dan raga yang perlu dilindungi dan diperhatikan.

Buruh dalam kontek yang sama, tidak jauh berbeda dengan perbudakan yang sudah ada semenjak makhluq bernama manusia itu tercipta, yaitu sebagai alat pekerja yang hidupanya menggantungkan kepada raja ataupun tuan. Namun ditetapkannya sebagai Hari Buruh Internasional, awal terjadi di Chichago Amerika Serikat pada tahun 1886, dengan melakukan aksi turun ke jalan untuk mendesak pada kebijakan pemerintah dikala itu.

Begitu pula di Indonesia, sebelum merdeka 72 tahun yang lalu, tidak pernah hanyut menghisab para budak dan pemaksaan terhadap buruh untuk bekerja malampau batas kemampuannya, seperti Romusha yang dilakukan bala tentara Jepang ataupun kerja rodi yang dilakukan kolonial saat menjajah bumi pertiwi.

Jika membuka jas merah, bahwa bangsa Indonesia belum sembuh dari penyakit yang sudah dulu dideritanya yakni pengebirian dan kemiskinan. Petani perlahan-lahan kehilangan kebun untuk dibangun suatu pabrik sebagai pusat Industri. kehilangan tanah untuk di disewa oleh kolonial demi kepentinggannya. Dengan demikian, semakin hari masyarakat tidak menikmati tanahnya sendiri dan mata pencaharian, melainkan tersisa kelaparan dan dahaga yang menimpa.

Ada benarnya jika pepatah mengatakan uang adalah segalanya, hal ini dapat dilihat ketika mereka (kapitalis asing) saat menjajah Indonesia, berhasil memaksa desa untuk menyewakan tanah desa melalui kepala desa dengan memberikan premi tertentu, sehingga sawah milik komonal petani, dijadikan perkebunan tebu, sedangkan penduduk Indonesia menjadi kullinya. Para lurah bukan lagi sebagai kepala desa untuk kepentingan rakyat, melainkan dijadikan alat pengusaha.[1]

Disadari atau tidak, rupanya Indonesia meskipun telah diproklamasikan kemerdekaannya, tapi sayang, kemerdekaan tidak dirasakan oleh segenab bangsa Indonesia. Keadilan masih di angan- angan para buruh, petani, dan pekerja pada sektor bawah lainya. Seperti apa yang disampaikan BJ Habibie bahwa Indonesia kaya tapi miskin (kaya sumber daya alam, miskin penghasilan), merdeka tapi terjajah (merdeka secara politik tapi terjajah secara ekonomi).

Buktinya, seberapa banyaknya perekonomian negeri ini?, tapi seberapa banyaknya pula yang dirasakan oleh bangsa Indonesia secara keseluruhan? jangan mimpi keseluruhan.! karena kalau keseluruhan jauh dari fakta dan realita. Moh Hatta pernah menyampaikan pidatonya di Banda Aceh ketika Indonesia berusia 25 tahun pasca kemerdekaan yaitu:

“Setelah Indonesia merdeka 25 tahun, kemiskinan tidak hilang, malahan bertambah, pertentangan antara kaya dan miskin lebih menonjol. Setelah indonesia merdeka, sudah ada orang Indonesia yang kekeyaannya terbilang miliaran rupiah dan beratus-ratus yang dapat melakasanakan perniagaan luar negeri. Tidak sedikit yang memiliki perusahaan sendiri dalam negeri & mempunyai hubungan hubungan tertentu dengan luar negeri.”[2]

Dari pidato Hatta, dapat difahami, bahwa kekayaan dan kemerdekaan sudah tercapai bagi mereka yang kaya, namun bagaimana dengan rakyat jelata seperti petani, kuli, dan buruh? Jangan bilang sudah, atau mendingan. Karena jika kita tak jujur. sama halnya membunuh hati nurani kita sendiri.

Pertentangan antara kaya-miskin dapat berkurang apabila pemerintah mengadakan perbaikan ekonomi politik dan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan cara menjadikan industri hak bersama, membuka pertanian besar besaran, memperbanyak mendidik koperasi rakyat dengan bunga rendah, dan menaikkan gaji buruh dengan mengurangi jam bekerja.[3]

Seandainya segala apapun dan dalam keadaan apapun, pemerintah tidak lepas tangan untuk mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia utamanya buruh, maka kemerdekaan yang sesungguhnya dapat di implementasikan tidak hanya tertera pada teks proklamasi saja, tetapi pada kehidupan sehari hari bangsa Indonesia. (Inunk/j)

_______________________

[1] Soe Hok Gie. Dibawah Lentera Merah. Yogyakarta : Yayasan Banteng Budaya . 1999 hal 7-8

[2] . Moh Hatta. Sesudah 25 tahun. Disampaikan pada Dies Natalis ke sembilan Universitas Sjiah Kuala Darussalam di Banda Aceh 2 September 1970

[3] Tan Malaka. Aksi Massa. Yogyakarta : Penerbit Narasi. 2016 hal 76-77