Sumber ilustrasi: rumahwakaf.org

Pola pemikiran seseorang pasti tidak terlepas dari indikasi lingkungan dan masyarakat. Begitupun juga dengan pemikiran para imam madzhab, mereka memberi fatwa dan keputusan hukum juga tidak terlepas dari adat istiadat lingkungannya. Indonesia bahkan muslim yang ada di dunia mempunyai keyakinan atau panutan Imam madzhab yang di percayai oleh masyarakat yang sesuai dengan adat di dearahnya masing-masing. Mayoritas masyarakat Indonesia adalah Ahlusunnah Wal Jamaah dan Indonesia lebih siap menghadapi zaman moderen atau berfikir di luar teks di bandingkan dengan Timur Tengah.

Fadlurrohman menyatakan bahwa tradisi berfikir di luar teks adalah kebiasaan skilogis yang dilakukan para tokoh-tokoh Islam Indonesia. Berfikir diluar teks adalah prekdisian dimasa yang akan datang, dan Islam-islam yang ada di dunia akan diwarnai Islam Indonesia. Diantara tonggak ajaran Islam dimuka bumi muncul beberapa Imam Madzhab raksasa di antara ratusan madzab kecil lainya.

Mayoritas umat Islam Indonesia telah berpegang teguh pada prinsip Ahlussunah Wal jamaah yang berorientasi kepada empat madzhab. Yakni madzhab Syafii, Maliki, Hanafi, dan Hambali. Akan tetapi keempat madzhab tersebut tidak melulu selalu sepemikiran, bahkan banyak sekali. Akan tetapi keempat madzhab tersebut tidak melulu selalu sepemikiran, bahkan banyak sekali pendapat mereka saling berbenturan satu sama lainnya.

Istinbath para Imam Madzhab;

Para Imam Madzhab bukanlah para ulama yang serba ahli dalam segala cabang ilmu, mereka tentu memiliki kecenderungan terhadap satu cabang ilmu tertentu meskipun pada dsarnya mereka dijuluki sebagai imam yang ahli fiqh. Akan tetapi antara satu dengan yang lain mempunyai keahlian yang lebih menonjol, hal ini dapat dilihat dari sistem pengambilan istinbath di atas. (Ahmad Arfi, Terjemah Syarah Al-waraqat Imam Alharamain: 163).

Pemikiran empat Imam yang dijuluki dengan madzhibul arbaah tentu saja sangat menguntungkan umat dalam berpedoman kepada salah satunya sesuai kebutuhan dan kecocokan faktor alam sekitar, karena fatwa dan keputusan hukum mereka tidak pernah meleset dan bertolak belakang dengan kondisi alam sekitarnya.

Maka dari itu kita melihat fikih penduduk Irak sangat berbeda dengan fikih orang-orang hijaz. Bahkan kita kerap melihat seorang ahli fikih yang sama pada kondisi ligkungan tertentu dapat berbeda pendapatnya pada kondisi dan lingkungan yang lain. Sebut saja imam Syafii dengan qoul qodim (hasil pendapatnya ketika di Irak) dan qoul jadidnya (pendapatnya ketika di Mesir). (Yusuf Al-qaradhawi, 2003: 183).

Kenapa harus empat madzhab? Karena dari masing-masing madzhab memiliki cara yang berbeda untuk menyikapi permasalahan yang timbul di masyarakat, setiap masalah yang timbul memliki pasangan atau solusi sendiri-sendiri. Mempuyai cara untuk mengatasi masalah tersebut, tergantung kebiasaan masyarakat di dalam suatu daerah atau adat kebiasaan, jadi para madzhab menyesuaikan dengan keadaan masyarakat yang bermukim di suatu derah. Begitupun masyarakat mengikuti madzhab yang berbeda untuk menyesuaikan keadaan suatu daerah atau adat mereka yang tidak akan menimbulkan oposisi dengan diri mereka atau adat yang sudah ada dalam masyarakat tersebut tanpa harus menghilangkan atau menggantinya dengan yang baru.

Jadi wajar saja ketika madzhab satu dengan lainnya saling berbenturan pendapat, ini dikarenakan dasar pengambilan istinbath mereka berbeda antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, meskipun mereka berbeda pendapat, mereka tidak pernah mengunggulkan madzhabnya sendiri apalagi sampai mencela dan menghina Madzhab lainnya. Ini dikarenakan kesalihan sosial mereka dalam upaya menjaga kerukunan dan persatuan kaum muslimin.(Arif/j)