Kapalli dan Masyarakat Selayar

0
322

Judul Buku : Kapalli; Kearifan Lokal Orang Selayar

Penulis : Ahmadin dan Jumadi

Penerbit : Rayhan Intermedia Makassar

Halamam : 101+Cover

ISBN : 978-602-95545-2-6

Peresensi : Nur Hikmah

Kesadaran kembali ke pengetahuan asli (natural science) atau kearifan tradisional yang berlandaskan keyakinan, nalar adilogika, dan metafisik mulai bangkit kembali. Munculnya slogan-slogan Back To Nature, Grean Heart, dan Go Green Do it, menjadi bukti masyarakat kembali melirik kearifan lokal. Tema inspiratif ini muncul kembali seiring dirasakannya kemunduran kehidupan masyarakat modern kontemporer masa kini. Kerusakan alam dan tata kehidupan di muka bumi yang tak lain adalah akibat dari kebrutalan manusia dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Semula di maksudkan untuk lebih menyamankan kehidupan manusia, kemudian disadari, bahkan berakibat sebaliknya

Salah satu kearifan lokal yaitu Mitodologi Jawa. Dulu mitodologi ini dianggap hanya kisah-kisah fiksi dan bahkan dianggap takhayul, tapi ternyata mengandung nilai pendidikan moral dan budi pekerti yang universal dan abadi (perenial), nilai etika dan estetika, nalar sehat (logika), adilogika dan metafisika. Kesemuanya hanya bisa difahami bila kisah-kisah itu ditafsirkan secara benar sesuai dengan kunci tafsir bahasa Jawa yaitu jarwa sasmitaning susastra (hermeneutika jawa).

Penulis buku ini, Ahmadin dan Jumadi sangat lihai menjelaskan kearifan lokal dalam bukunya. Terlihat jelas bahwa ia paham dengan mitos dan perkembangan kesusastraan Jawa. Penulis berpendapat bahwa karya-karya para pujangga dan sastrawan Jawa yang masih bertahan hingga sekarang, seperti pakem pedalangan, dongeng rakyat, babad dan legenda merupakan perpaduan kisah-kisah dari zaman Jawa asli, Jawa Saka, dan kebudayaan zaman pra Islam.

Selain Mitodologi Jawa, ada juga kapalli sebagai kearifan lokal orang Selayar. Kapalli sendiri bermakna pantangan. Dalam perkembangannya telah dimaknai beragam yang ditentukan oleh seberapa besar kadar kepercayaan dan keyakinan seseorang. Disadari atau tidak, kapalli sudah menjadi sistem sosial masyarakat, terutama orang Selayar.

Selayar sendiri merupakan salah satu pulau besar di Kabupaten Tanadoang. Secara astronomis berada antara 5042-7035 Lintang Selatan (LS) dan 120015-1220 30 Bujur Timur (BT). Posisi geografisnya berbatasan dengan wilayah pemerintahan daerah kabupaten Bulukumba di sebelah utara, laut Flores di sebelah timur. Laut Flores dan Selat Makassar sebelah barat dan propinsi Nusa Tenggara Timur di sebalah selatan. (hal.30)

Lahirnya kapalli sebagai kearifan lokal menjadi tahap dinamika pemikiran manusia. Tidak seimbangnya antara dorongan ingin tahu dengan kemampuan berpikir inilah yang menyebabkan lahirnya mitos. Seperti tidak bolehnya menunjuk pelangi yang akan mengakibatkan jari tersebut buntung. Hal ini dianggap lancang karena pada saat ada pelangi, para bidadari sedang turun. Kalaupun terlanjur menunjuk pelangi dengan jari, maka ia harus menggigit jarinya sebagai permintaan maaf. Selain itu, keluar pada saat menjelang maghrib yang konon kita akan menabrak atau tertabrak makhluk-makhluk ghaib, dan masih banyak lagi. Interval waktu yang relatif lama ini masih menjadikan kearifan lokal sebagai pola yang menjadi sistem sosial yang diyakini bersama.

Penjelasan kapalli dalam buku yang dikarang oleh pria kelahiran Bumi Tanadoang Selayar dan Butta Salewangan Maros ini mengurai tiga kategori utama. Kategori tersebut yaitu; Pappasang, yang diyakini sebagai pesan leluhur dan tidak diperkenankan untuk dilnggar, Papisangka, larangan melakukan sesuatu karena diyakini telah terbukti dalam banyak hal meski tidak selamanya terjadi, dan Pau-pau naseha, berhubungan dengan masehat (etika) yang bertujuan baik terutama sebagai alat rekayasa sosial.

Suatu sistem sosial merupakan tahap lanjutan dari tindakan sosial yang terpola. Implementasi kapalli dalam kehidupan masyarakat di era modern bisa dihubungkan dengan teori fungsionalisme struktural. Dimaksudkan untuk menganalisis tentang masih tetap bertahannya nilai-nilai kappali di tengah kehidupan masyarakat.

Buku ini mengajak pembaca masuk ke sebuah ranah kultural dengan ruang dan karakteristik yang khas. Serta cocok dibaca siapa saja terutama para pecinta kearifan lokal. Meski buku ini tidak terlalu tebal, tapi isinya komplit. Selain berisi gambaran umum kapali, terdapat juga beberapa contoh kapalli disertai dengan keterangan akibat yang sudah terbukti dengan jelas maupun belum. Guna mengkaji kearifan lokal ini, penulis menggunakan empat metode pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi, serta diskusi kelompok terfokus. (hal.25)