Mantan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal (PDT), Marwan Jakfar, saat mengisi seminar di Auditorium II UIN Walisongo Semarang, Rabu (24/05). foto: Fadli
Mantan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal (PDT), Marwan Jakfar, saat mengisi seminar di Auditorium II UIN Walisongo Semarang, Rabu (24/05). foto: Fadli

Justisia. com. Menurut Mantan DPR RI Fraksi PKB, Marwan Jafar, salah satu pekerjaan yang segera diselesaikan di Jawa Tengah adalah mengurangi angka ketimpangan yang masih cukup tinggi. Jelas Marwan yang juga mantan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal pertama RI seusai acara seminar, di Auditorium II kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Rabu ( 24/5).

“Ketimpangan kita no 2 di Indoensia setelah Jawa Timur. Untuk itu, saya himbau, ini adalah tantangan serius untuk Jawa Tengah. Siapapun yang memerintah Jawa Tangah, ketimpangan adalah tantangan serius,” kata pria asal Pati tersebut.

Ia menambahkan, di tengah-tengah ketimpangan ini, masyarakat Jawa Tengah saat ini memang butuh perhatian serius semua pihak. Sehingga apakah permasalahan Ketimpangan dan juga solusi yang dinyatakan tadi apakah nantinya akan masuk ketika masuk pilgub.

“Ya tentu salah satu opsi yang harus kita perjuangkan dan salah satu opsi yang harus kita masukan dan selesaikan. Dan salah satu solusinya adalah dengan agak memberikan kelonggoran, bahkan kalau perlu kita harus memperhatikan masyarakat kita untuk kita berikan beasiswa gratis, minimal pendidikan sampe 9 tahun,” imbuh mantan anggota DPR RI tersebut.

Namum, kata Marwan, Tidak semua anak yang akan mendapatkan pendidikan gratis, dia akan memilih yang betul betul masyarakat butuhkan. Dan memberikan akses pendidikan itu bukan hanya anak SD, akan tetapi Tingkat Perguruan Tinggi juga bisa

“Kita harus berikan akses pendidikan minimal 9 tahun itu. Dan bagi mahasiswa juga sama, kalau ada putra-putri dari kalangan masyarakat yang belum beruntung, bisa kita dorong melalui APBD. Kita sisihkan sebagian APBD itu untuk kita terjunkan anak-anak kita di perguruan tinggi,” pungkasnya.

Ketua dema UIN menanggapi positif kehadiran Marwan di UIN Walisongo, ia mengatakan kedatangan Marwan ke UIN Walisongo, tidak ada maksud selain untuk mengajarkan bagaimana mengembangkan, atau memasarkan potensi muda dalam rangka menghilangkan kesenjangan sosial.

Ia menambahkan perihal kedatangan Marwan masuk ke UIN Walisongo, tidak ada inisiasi atau rencana dari dema untuk dalam hal apapun kecuali untuk kita ambil ilmunya, yang notabenya sebgaia Mantan Menteri Desa.

“Kehadiran Marwan kesini itu poksinya adalah sebagai mantan menteri untuk membagikan ilmunya kepada segenap mahasiswa, bukan untuk berkampanye,” ujar Ketua DEMA UIN walisongo, Afit Khomsani. (SUN)