Jadwal Imsakiyah dan Awal Ramadhan Masih Menjadi Perdebatan

0
140
Para narasumber saat memaparkan materinya dalam seminar. (justisia.doc/pribadi)
Para narasumber saat memaparkan materinya dalam seminar. (justisia.doc/pribadi)

Justisia.com Menanggapi perbedaan penentuan jadwal imsakiyyah dan awal bulan Ramadhan tahun 1438 H, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak(HMJ IF) UIN Walisongo Semarang dan CSSMoRA menyelenggarakan Seminar Pra-Ramadhan di Kantor Kecamatan Ngaliyan, Sabtu (20/5).

Seminar dengan tema “Khazanah Ilmu Falak di Bulan Ramadhan” tersebut, menghadirkan narasumber praktisi-praktisi falak muda dari UIN Walisongo Semarang.

Perbedaan jadwal imsakiyah seringkali terjadi karena adanya pembulatan hasil perhitungan, baik itu ke atas dan ke bawah. Selain itu, nihilnya kesepakatan antar berbagai pihak yang melakukan perhitungan jadwal imsakiyah dalam suatu wilayah menyebabkan kebingungan masyarakat tentang kepastian jadwal.

“Padahal jadwal imsak ini mulanya dibuat sebagai wujud kehati-hatian kita dalam beribadah puasa. Namun seringkali beberapa pihak semaunya sendiri mengumumkan jadwal imsakiyah hasil perhitungan masing-masing tanpa koordinasi dulu dengan pemerintah,” terang Ahmad Fuad Al-Anshari dalam penyampaian materinya.

Selain itu, penentuan awal Ramadhan masih terus menjadi perdebatan sejumlah kalangan di Indonesia. Sebagian kaum telah menghitung awal qomariah melalui metode hisab, sementara kaum lain cenderung menggunakan metode rukyat yang bisa diterima masyarakat umum, sementara ada juga model lain seperti rukyat global dan wujudul hilal. Menurut Ahmad Syifaul Anam, salah satu narasumber, ekspresi keberagaman pendapat telah dijamin undang-undang. Dan hal inilah yang membuat masing-masing kalangan berusaha mempertahankan argumen mereka.

“Jika sudah terjadi perbedaan seperti ini, jangan lantas merasa paling benar lalu menyalahkan hasil perhitungan orang lain. Islam itu tasamuh, bijaksana. Maka harusnya sebagai masyarakat kita mengikuti pemerintah (Kemenag). Karena dalam keputusannya mereka tidak hanya melibatkan pakar Falak, tapi juga menimbang pendapat pihak lain seperti BMKG dan MUI,” kata Dosen Jurusan Ilmu Falak tersebut.

Tujuan acara ini mengundang sejumlah takmir masjid di sekitar Ngaliyan agar mereka dapat menyebarluaskan informasi pada masyarakat bahwa perbedaan awal Ramadhan dan jadwal imsakiyah bukan sesuatu yang harus diperselisihkan. Di samping itu juga untuk memberi arahan kepada para takmir dalam menentukan waktu untuk adzan dan sholat di masjid masing-masing mereka bertempat. (Vivi)