Warisan Kolonial Jadi Bibit Konflik

0
171
Perwakilan dari Yayasan Nabil Didi Kwartanada memberikan cinderamata Buku “Tionghoa Dalam Keindonesiaan” pada Rektor Undip dan Dekan FIB Undip (dok.undip.ac.id)
Perwakilan dari Yayasan Nabil Didi Kwartanada memberikan cinderamata Buku Tionghoa Dalam Keindonesiaan pada Rektor Undip dan Dekan FIB Undip (dok.undip.ac.id)

 

“Setelah datang orang-orang Belanda yang menguasai beberapa dermaga di Nusantara. Mereka mencoba mendatangkan orang-orang China yang sebagian besar dari mereka memeluk agama-agama asli China termasuk agama Kong Hu Cu. Pada masa inilah orang-orang China yang berada di sekitaran pantai utara Jawa tidak hanya beragama Islam saja kala itu, bahkan makin lama yang berkembang di daerah tersebut adalah orang China Totok yang memang didatangkan dari Tiongkok. Setelah terjadi konflik geger Pecinan, VOC berusaha untuk memisahkan antara orang China dengan masyarakat pribumi dengan membuat camp-camp yang diberi nama Pecinan,” jelas pria kelahiran 26 Juni 1964.

Kejadian itu membuat mereka begitu tidak mungkin adanya persatuan antara orang-orang China dan Pribumi. Mereka dipisahkan, dan hak-hak mereka dibedakan, begitu juga simbol-simbol budaya mereka juga dibedakan.

Pria berambut cepak itu menerangkan bahwa hal inilah yang membuat hubungan antara orang-orang China dan pribumi semakin renggang dan orang-orang China dijadikan sebagai warga negara kelas dua, yaitu warga negara kelas dua sebagai orang penghubung antara orang Belanda dengan orang pribumi yang sering terjadi adalah orang-orang China banyak yang menjadi mesin eksploitasi orang-orang Belanda yang ingin mengeksploitasi orang-orang pribumi. Kejadian tersebut yang membuat semakin lama hubungan antara orang-orang China dengan pribumi semakin terpisah.

Orang-orang China yang ditempatkan sebagai orang-orang kelas kedua menjadikan ekonomi mereka lebih berkembang ketimbang orang-orang pribumi, pendidikan berkembang, bahkan orientasi politik mereka lebih cenderung ke Belanda, meskipun tidak semuanya begitu. Ada sebagian tokoh-tokoh yang masih memperjuangkan Indonesia, di mana tempat mereka dilahirkan. Sehingga banyak tokoh-tokoh China yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia juga.

“Budaya yang ada saat ini merupakan hasil ciptaan atau warisan masyarakat kolonial yang ditinggalkan oleh Belanda yang rawan akan bibit-bibit konflik dan perpecahan,” ungkap alumnus SPG Purwodadi itu.

Sehingga hal ini menjadi tugas bagi negara, bagaimana negara ini bisa mengondisikan menjadi negara kemakmuran, untuk kepentingan seluruh rakyat agar nantinya keadilan dan kemakmuran itu bisa diwujudkan.

Tanpa keadilan dan kemakmuran maka perbedaan etnik dan kesenjangan sosial ekonomi ini akan mudah disulut menjadi konflik-konflik sosial. Meskipun secara historis orang-orang Tionghoa memiliki kontribusi yang sangat penting dan signifikan dalam membangun Indonesia. Tetapi jasa-jasa seperti itu dalam situasi-situasi yang keos akan mudah dilupakan.

Begitu ada masalah sedikit kemudian dengan dilatarbelakangi oleh ketimpangan sosial, maka sering kali jasa-jasa tersebut tidaklah diperhitungkan kembali. Karena rakyat hanya akan melihat negara sebagai pemberi kesejahteraan, keadilan, dan yang diharapkan. Jadi hal ini adalah tugas negara, di samping kita menjadi warga masyarakat bangsa ini, tetapi ketika negara tidak mampu untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan maka hubungan antara pribumi dan keturunan Tionghoa ini akan rentan terhadap konflik-konflik sosial.

Peluncuran buku Tionghoa dalam Ke-Indonesiaan yang dipandu oleh Dosen Sejarah FIB Undip Prof. Dr. Agus Maladi Irianto, M.A dihadiri oleh Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Undip Dr. Redyanto Noor M.Hum, Ketua Yayasan Nabil Didi Kwartanada Pimpinan Redaksi Majalah Historia Bonnie Triyana, Guru Besar Filsafat FIB Undip Prof. Iriyanto Widisuseno, M.Hum, Pengurus Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong Harjanto Halim . (Yaqin/Lesen)

 

Bagian 1 : Kilas Balik Sejarah Tionghoa di Indonesia

Bagian 2 : Warisan Kolonial Jadi Bibit Konflik