Peserta Pondok Damai ke-10 foto bersama di Vihara Buddhagaya Banyumanik, Semarang (23/04/2017) (doc: anas)

Justisia.com – Guna mengikis prasangka-prasangka intoleran antar agama di Indonesia, Paguyuban Lintas Iman daerah Jawa Tengah menyelenggarakan Pondok Damai ke-10 pada hari Jumat sampai Minggu 21-23 April 2017 di Vihara Buddhagaya Watugong, Banyumanik, Semarang

Acara yang diselenggarakan satu tahun sekali ini diikuti oleh 31 peserta dari berbagai agama dan kepercayaan. Pada acara tersebut, para peserta belajar tentang benih-benih perdamaian dengan berdiaolog dan belajar saling mengenal perbedaan antar agama.

“Disini kita belajar benih-benih perdamaian di dalam keberagaman, berbagi cerita masa lalu kita dan saling mengetahui perbedaan masing-masing. Sehingga prasangka-prasangka buruk atau prasangka-prasangkan kecurigaan yang ada diantara umat beragama itu lama-lama akan terkikis,” ujar Manto (20) selaku Panitia Paguyuban Pondok Damai ke-10.

Pria yang menjadi fasilitator ini menjelaskan arti penting pembelajaran perdamaian. “Pemuda-pemudi sekarang (harus) sadar akan posisinya sebagai agen of peace (agen-agen perdamaian), sehingga perdamaian yang sudah diletakkan dasar-dasarnya oleh founding father(pendiri) bangsa Indonesia dilanjutkan dan diperjuangkan,” harapnya.

“Seluruh peserta diajak menceritakan dan mencurahkan hatinya tentang kenapa mereka beragama A dan kenapa meraka beragama B. Pengalaman baik dan pengalaman buruk selama beragama tersebut. Melalui cara tersebut, meraka saling terbuka dan tidak malu untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak bisa diceritakan kepada sembarang orang,” imbuh pria beragama Kristen itu.

“Di sini ada banyak sekali cerita proses bagaimana seseorang beragama A, Beragama B, dan ternyata itu ada lika-likunya sehingga dia mengungkapkan dengan lapang dada tanpa ada rasa khawatir apabila nantinya disebut sesat, kafir, aneh dan lain sebaganya,” jelasnya

Peserta bercerita

Dalam acara tersebut, respon peserta cukup antusias. Misalnya ungkapan dari mahasiswi STAB Syailendra sebagai tuan rumah Pondok Damai ke-9 tahun lalu. “Yang jelas paling suka acara lintas iman seperti ini kalau kami, Jadi kalua ada info pasti selalu diusahakan ada yang hadir,” tutur Candra.

Ungkapan gembira juga dirasakan oleh Hanif karena bisa lebih memahami dan berdiskusi dengan peserta lintas iman lainnya. “Saya ingin dari Pondok Damai ke-10 ini, diadakan acara lagi yang mengarahnya pada kerja sama, follow up yang lebih berkembang lagi, bukan hanya rasa toleransi saja. Misalnya dari peserta Pondok Damai ini diadakan pelatihan Hukum dan HAM untuk mengatasi masalah-masalah intoleransi sehingga karena sudah ada rasa kekerabatan, maka akan muncul rasa yang saling menyatu,” ujar remaja dari Jemaat Ahmadiyaah tersebut.

Kesan menarik juga diungkapan oleh Nanda yang pertama kalinya ikut acara Pondok Damai. “Jarang-jarang kita dapat masuk ke tempat ibadah lain, dan ini menjadi suatu pengalaman yang menarik. Tidak ada hal yang membuat ganjal di hati atau perasaan, Karena di sini kita harus selalu berdampingan, “pungkas mahasiswa dari jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nuswantoro Semarang itu. (danil/j)