Perwakilan dari Yayasan Nabil memberikan buku Tionghoa Dalam Ke-Indonesiaan ke Rektor Undip di gedung ICT lantai 5, Rabu (05/04). (dok.justisia/syaifur)

Peluncuran Buku Tionghoa Dalam Ke-Indonesiaan Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro bekerjasama dengan Yayasan Nabil.

Dihadiri oleh narasumber, Guru Besar Filsafat, FIB Undip, Iriyanto Widisuseno, Guru Besar Ilmu Sejarah, Singgih Tri Sulistiyono dan Harijanto Halim dengan dipandu Prof. Agus Maladi Irianto, M.A di Gedung ICT lantai 5, Rabu (05/04).

Dalam sambutannya, Dekan FIB Undip menuturkan mempelajari multukaralisme etnik dan kebudayaan internasional penting bagi kita tanpa terkecuali.

Kita terlalu fokus mempelajari etnik pribadi masing-masing dan mengkesampingkan etnik orang lain, padahal mempelajari etnik orang lain itu penting, bisa dengan melakukan riset tentang kebudayaannya tutur Redyanto Noor.

Untuk mendukung visi dari Yayasan Nabil kami dari segenap FIB Undip siap memberi dukungan dalam bentuk riset tentang kebudayaan, imbuh pria alumni S3 Jurusan Ilmu Sastra UGM.

Rektor Undip menuturkan kita salah kaprah tentang Tionghoa. Etnis Tionghoa selalu diidentikkan tentang pelit dan pengusaha.

Jangan membedakan antara tionghoa dengan etnis yang ada di Indonesia. Dalam Surat Al-Hujarat ayat 13 menjelaskan, yang terhebat dimata Tuhan adalah orang yang taqwa bukan etnis tionghoa maupun pribumi, ujar Yos Johan Utama.

Multikultural etnis di Indonesia harus bisa berdampingan antara satu etnis dengan etnis lainnya, karena akan menjadikan keharmonisan di Indonesia.

Dalam kesempatan itu mantan Dekan Fakultas Hukum menuturkan ketika etnis Tionghoa ada satu yang jelek itu akan dikutuk dari berbagai etnis tak terkecuali dari etnis tionghoa sendiri.

Kita (Indonesia) masih disibukkan masih mencari perbedaan bukan mencari persamaan, pungkas pria usia 54 tahun. (WAHIB/LESSEN)