Musthofa Bisri: Waspada Ulama Media Penyebar Doktrin Intoleran

0
180
Gus Mus saat mengisi tausiyah dalam acara Khotmil Quran dan Isra Mi’raj Nabi Muhammad saw. di Pondok Pesantren Quran Al-Aziziyah, Beringin, Ngaliyan, Semarang. (25/04/2017)
Gus Mus saat memberi tausiyah kepada warga Ngaliyan dalam acara Khotmil Quran dan Isra Miraj Nabi Muhammad saw. di Pondok Pesantren Quran Al-Aziziyah, Beringin, Ngaliyan, Semarang. (25/04/2017) (Doc: www.nu.or.id)

Justisia.com – Mewaspadai maraknya ulama produk media, K.H. Mustofa Bisri memberikan tausiyah kepada warga Ngaliyan Semarang dalam acara Khotmil Quran dan Isra Miraj Nabi Muhammad saw. di Pondok Pesantren Quran Al-Aziziyah, Beringin, Ngaliyan, Semarang. (25/04/2017)

Dalam tausiyahnya, kyai yang akrab dipanggil Gus Mus tersebut berpesan kepada wisudawan-wisudawati Khotmil Quran bahwa tanggung jawab penghafal al-Quran itu ada dua jalan yang harus di jalani, yaitu memahami al-Quran dan mengamalkanya.

“Karena di era sekarang ini, banyak orang hafal al-Quran tapi tidak memahami al-Quran itu, banyak orang faham al-Quran tapi tidak mengamalkanya. jadi itulah problem masyarakat indonesia saat ini,” ungkap mantan Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut.

Menanggapi problematika tersebut, Gus mus menjelasakan pentingnya peran wisudawan-wisudawati Khotmil Quran untuk siap-siap menghadapi orang-oang yang seperti itu, yaitu harus berani dan pandai memahami dan mengamal al-Quran.

Waspadai Ulama Seleb

Penulis buku “Sang Pemimpin” tersebutmenambahkan selain problem krisisnya orang memahami dan mengamalkan Al-Quran, masyarakat saat ini juga dihadapkan pada perkembangan ulama-ulama produk media. Yaitu, ulama abal-abal yang hanya terkenal oleh orang media yang tidak memahami ilmu agama.

“Selain ngaku-ngaku ulama, mereka sering sekali mendoktrinasi masyarakat sekitarnya untuk berpijak pada tafsir Al-Quran dan Hadisnya saja, secara teks saja tanpa memahami secara konteksual. Ulama-ulama ini akan sangat berbahaya jika terus dibiarkan berkembang di masyarakat yang dalam mengajarkan ajaran Islam dengan modal terjemah Al-Quran tanpa di berpedoman pada kitab-kitab kuning,” imbuh kyai asal Rembang tersebut.

Ia juga mengingatkat kepada para golongan muda untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap semakin maraknya golongan umat Islam yang cenderung radikal dan intoleran.

“Kita harus meningkatkan kewaspadaan agar tidak terdoktrinisaasi dengan kelompok ormas garis keras semacam Hizbut Tahrir Indonsia ( HTI ), Front Pembela Islam ( FPI ), dan Negara Islam Indonesia ( NII ). Karena saat ini, kelompok ormas-ormas tersebut sedang gencar-gencarnya berusaha untuk mengganti negara Indonesia yang berdasarkan dasar Pancasila menjadi Khilafah. Dan ini harus di cegah-cegah betul oleh genersi muda dari sekarang,” pungkas kyai Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Rembang (NDR/MFT)