Imam Taufiq foto bersama keluarga besar dalam acara Pengukuhan Guru Besar Ilmu Tafsir, di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, (18/04/2017) (Doc: Inunk)

Justisia.com – Kebahagiaan Arikhah tidak tapat ditutupi saat menyaksikan suaminya Imam Taufiq pada acara Pengukuhan Guru Besar Ilmu Tafsir di Audit II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Selasa (18/04)

“Senang sekali bisa menemani beliau meraih predikat tertinggi dibidang pendidikan. Sayaberharap , dengan dikukuhkannya gelar guru besar terhadap suamisaya, tidak membawa madhorot , tetapi membawa maslahat dan keberkahan hidup bagi keluarga khususnya dan masyarakat indonesia umumnya, termasuk UIN Walisongo Semarang.” tutur wanita yang juga dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora.

Harapan juga datang dari putra pertamanya Muhammad Fawwaz Hilmy.

“Semoga apa yang diraih ayah, mengalir kepada anak anaknya, muridnya, dan juga mahasiswanya,” ujar Fawwaz

Sebagai orang tua, Imam Taufiq dan Arikhah tidak pernah lalai mendidik putra putranya untuk belajar ilmu pengetahuanya dalam bidang agama, salah satunya pendidikan al Quran.

“Setelah jama’ah salat magrib, (ketika) waktu anak kami belum mondok. kami ajari membaca al-Quran disimak oleh suami dan saya secara bergantian,” tutur wanita kelahiran Kudus.

Selain sebagai kepala kelurga , Imam Taufiq juga sebagai tokoh masyarakat dan kyai di pondok pesantren Darul Falah Ngaliyan Semarang.

Menurut Arikhah, setelahshubuh, ada beberapa hari beliau mengajar untuk santri santrinya, dan mengamalkannya kepada masyarakat sekitar, lewat pengajian rutin di mushollah kampung setiap hari sabtu bada shubuh.

“kita berdua berusaha untuk membina santri dengan memberi contoh yang baik, termasuk membina perdamaian, baik perdamaian kepada sesama manusia, makhluq allah yang lain, termasuk dengan bumi dengan cara merawat bumi dengan baik,” pungkas Ibu dua anak tersebut. [ink/j]