Habib Abu Bakar Adni Al-Mashur serta Syekh Musaib Penfound dari Yaman melakukan sesi foto bareng bersama Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Muhibbin Noor, M.Ag, Wakil Rektor I, Dr. H. Musahadi, M.Ag, dan Wakil Rektor III, Prof. Dr. H. Suparman, M.Ag di Kantor Rektorat lantai 3. (dok.Fachriza Dimas)

Justisia.com UIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Majelis Al Muwasholah Baina Ulama Al Muslimin Tarim Yaman mengadakan acara Public Lecture Al-Manhaj An-Nabawiy Fi Hadd Al-Musykilat Al-Muashirah dari Public Lecture yang bertempat di Kantor Rektorat lantai 3 Kampus I UIN Walisongo, Senin (10/04).

Dihadiri oleh narasumber, Habib Abu Bakar Adni Al-Mashur serta Syekh Musaib Penfound dari Yaman. Tak ketinggalan juga Rektor UIN Walisongo Semarang beserta jajarannya turut hadir dalam Public Lecture tersebut.

Pantauan reporter justisia.com mahasiswa pasca sarjana UIN Walisongo serta 20 orang delegasi mahasiswa bidikmisi S1 dari berbagai jurusan juga mewarnai acara siang hari itu yang bernuansa putih.

“Tujuan dari majlis muwasholah ini untuk merangkul para ulama, dunia kepesantrenan, serta Universitas Islam di Indonesia yang mana kita bersama-sama memperkuat ukhwah islamiyyah demi meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW,” kata Habib Abu Bakar Adni Al-Mashur.

Rektor UIN Walisongo dan jajarannya menyambut baik atas penuturan Habib Abu Bakar Adni Al-Mashur.

Tak luput, Habib Abu Bakar Adni Al-Mashur memberikan sedikit tausiyahnya mengenai manhaj nabawiyyah kepada mahasiswa, rektor beserta jajarannya.

Manhaj Nabawiyyah sebagai Hidayah dari Tuhan

Habib Abu Bakar Adni Al-Mashur menuturkan, Manhaj Nabawi berdiri dengan mahabbah, rahmah serta hidayah dari Allah SWT, sebab tidak ada agama yang diterima disisi Allah selain Islam. Sehingga ketika kita menjadi muslim, maka beban tanggung jawab sangat besar dipundak kita.

“Melihat begitu banyaknya aliran saat ini dan mayoritas menyimpang dari manhaj nabawi, aliran tersebut telah mempengaruhi masyarakat dan kian membuat resah. Sebab yang terjadi saat ini antar kelompok saling mengkafirkan, menjelek-jelekkan, serta menyalahkan. Hal tersebut sama sekali tidak diajarkan oleh Rasul,” tutur pria berjanggut putih.

“Pada hakikatnya mereka yang menyimpang hanyalah mengikuti hawa nafsu yang menuju ke madlaratan. Selain itu, diutusnya Rasulullah sebagai rahmatan lil alamin bukan berarti bahwa Rasul hanya untuk umat uslam, melainkan untuk semua makhluk termasuk jin. Sehingga Rasulullah tidak pernah mengkafirkan dan mencela umat lain. Hal tersebut membuktikan bahwa dakwah yang dilakukan Rasulullah merupakan dakwah wasathiyyah (dakwah tengah-tengah),” lanjut pria murid dari Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf.

“Merangkul semua umat tanpa pengecualian merupakan prinsip dakwah dari Rasulullah. Hal inilah yang saat ini mulai meredup, sehingga perlu adanya kembali ke manhaj nabawiyy secara keseluruhan,” pungkas pria lulusan Jurusan Tarbiyah Universitas Aden. (SALWA/SFR).