Sang Inovator Konsep Pembaharuan Hukum Islam

0
155
sumber ilustrasi : amoe.hirata.blogspot.com
sumber ilustrasi : amoe.hirata.blogspot.com

Bermodal kecerdasan, ia mendapat beasiswa dari pemerintah Syiria ke Moskow, Rusia untuk melanjutkan kuliah di bidang Teknik Sipil (al-Handasah al-Madaniyyah) pada Maret 1957.

Anak kelima dari seorang tukang celup bernama Daib dan Shiddiqah bin Shaleh Filyun. Dilahirkan di Damaskus pada 11 April 1938. Muhammad Syahrur mengawali petualangannya di dunia pendidikan dari Madrasah Ibtidaiyah, (sederajat SD) dan Tsanawiyah (sederajat MTS) di Damaskus. Dalam usianya yang ke-19, Syahrur memperoleh ijazah Aliyah dari Madrasah Abdurrahman al-Kawakibi pada tahun 1957 M.

Ia menempuh pendidikannya di perguruan tinggi selama lima tahun dan setelah itu ia kembali ke negaranya untuk mengabdikan diri menjadi pengajar di Fakultas Teknik Sipil Universitas Damaskus hingga tahun 1965.

Selang waktu yang tidak lama syahrur diutus oleh Universitas Damaskus ke Dublin Irlandia tepatnya di Ireland National University (al-Jamiah al-Qaumiyah al-Irilandiyah) guna melanjutkan studinya pada jenjang Magister dan Doktoral dalam bidang yang sama dengan spesialisasi Mekanika Pertanahan dan Fondasi (Mikanika Turbat wa Asasat).

Pada tahun 1969 Syahrr meraih gelar Master dan tiga tahun kemudian, tahun 1972, beliau behasil menyelesaikan program Doktoralnya. Pada tahun yang sama ia diangkat secara resmi menjadi dosen Fakultas Teknik Sipil Universitas Damaskus dan mengampu mata kuliah Mekanika Pertanahan dan Geologi (Mikanika at-Turbt wa al-Mansyat al-Ardhiyyah). Dari riwayat pendidikannya dapat diketahui bahwa Syahrur tidak pernah bergabung dalam institusi Islam bahkan mendapat sertifikat dalam ilmu-ilmu keislaman.

Konsep Pembaruan Hukum: Antara al-Quran, al-Kitab, dan Umm al-Kitab

Istilah alkitab digunakan Syahrur sebagai istilah umum yang mencakup pengertian seluruh kandungan teks tertulis (mushaf) yang dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri surat an-Nas. Sedang al-Quran merupakan istilah khusus yang hanya mencakup salah satu bagian dari alkitab yaitu terdiri dari ayat-ayat mutasyabihat yang berdimensi al-Nubuwwah dan bersifat istiqamah yang mengandung kumpulan informasi dan pengetahuan tentang kealaman dan kesejarahan sehingga dapat diketahui benar dan salah yang terdapat di alam wujud (realitas empiris). Sementara um al-Kitab menurut Syahrur ialah salah satu bagian dari alkitab yang terdiri dari ayat-ayat muhkamat yang berdimensi ar-Risalah dan bersifat hanifiyyah yang berarti penyimpangan dari istiqamah.

Didalamnya terkandung ajaran yang wajib dipatuhi diantaranya ibadah, muamalah, akhlaq, dan hukum halal dan haram. Dari penjelasan di atas, hermeneutika Syahrur membuahkan rumusan dalam menginterpretasi ayat-ayat hukum dengan memaparkan tiga teori filsafat. Pertama, al-Kaynunah (kondisi berada); kedua, al-Sayrurah (proses); al-Shairurah (menjadi). Pandangan Syahrur tentang pengklasifikasian al-Quran terhadap alkitab ialah tetap, tidak bisa berubah teks dan maknanya.

Dan tidak diperbolehkan berijtihad. Sedang di dalam ummul kitab pintu ijtihad dibuka lebar meskipun nash dzahir didapat qathi. Pandangan Syahrur terhadap ijtihad bertentangan dari ulama terdahulu. Baginya berijtihad hanya boleh pada teks suci. Bagi Syahrur ijtihad juga harus disesuaikan dengan realita. Jadi pemahaman dan kesesuaian terhadap realitas obyektif merupakan tolok ukur seberapa jauh hermeneutika tersebut dianggap benar atau salah

Teori batas syahrur

Dalam teori batas Syahrur dikenal batas minimal (hadd al-adna), dan batas maksimal (hadd al- ala). Adapun pengaplikasian hukumnya sebagai berikut:

Pertama, yang hanya memiliki batas bawah. Hal ini berlaku pada perempuan yang boleh dinikahi (QS. [4]: 22-23), jenis makanan yang diharamkan (QS. [5]: 3), [6]: 145-156), hutang piutang {QS. [2]: 283-284), dan pakaian wanita (QS. [4]: 31).

Kedua, yang hanya memiliki batas atas. Berlaku pada tindak pidana pencurian (QS. [5]: 38) dan pembunuhan (QS. [17]: 33, [2]: 178, [4]: 92).

Ketiga, yang memiliki batas atas dan bawah sekaligus. Berlaku pada hukum waris (QS. [4]: 11-14, 176) dan poligami (QS. [4]: 3).

Keempat, ketentuan batas bawah dan atas berada pada satu titik atau tidak ada alternatif lain dan tidak boleh kurang atau lebih. Berlaku pada hukum zina dengan seratus kali cambuk (QS. [24]: 2).

Kelima, ketentuan yang memiliki batas bawah dan atas sekaligus, tetapi keduanya tidak boleh disentuh, jika menyentuhnya berarti telah melanggar aturan Tuhan. Berlaku pada hubungan laki-laki dan perempuan. Jika antara laki-laki dan perempuan melakukan perbuatan mendekati zina tetapi belum berzina, maka keduanya belum terjatuh pada batas-batas hudud Allah.

Keenam, yang memiliki batas atas dan bawah, di mana batas atasnya bernilai positif dan tidak boleh dilampaui. Sedang batas bawahnya bernilai negatif dan boleh dilampaui. Berlaku pada hubungan kebendaan sesama manusia. Batas atas yang bernilai positif berupa riba, sementara batas bawahnya bernilai negatif berupa zakat. (FA/SA)