Mohammad Arifin: Beliau Sosok yang Inklusif

0
210
Sumber ilustrasi Elshinta.com
Sumber ilustrasi Elshinta.com

Mantan Ketua PBNU K.H Hasyim Muzadi meninggal pada 16 Februari 2017, jenazahnya dikebumikan di Pondok Pesantren Al-Hikam II Beji, Depok.

Untuk mendoakan kepergian K.H Hasyim Muzadi. Civitas akademika UIN Walisongo mengadakan sholat ghaib bada dzuhur di masjid kampus III, Kamis (16/03).

Seusai sholat, reporter justisia.com mewawancarai Imam Sholat Ghoib Mohammad Arifin mengenai sosok yang telah berpulang itu.

 

Bagaimana sosok Kyai Hasim Muzadi di mata bapak ?

Kyai Hasyim Muzadi itu orangnya terbuka, dan tidak pernah menyalahkan orang lain, beliau sosok yang inklusif tidak eksklusif. Masyarakat Indonesia sangat kehilangan beliau, karena memang pengaruhnya dalam meredam konflik-konflik keagamaan yang terjadi di Indonesia ini sangat besar.

Beliau juga merupakan sosok figur yang tasamuh, tidak membedakan ras, suku, agama, dan golongan.

Pria kelahiran Tuban itu juga suka bertatap muka dengan para pemuda, terlebih mahasiswa. Dia tahu karena mahasiswa dalam fase pengembangan.

Apa pengaruh besar atas peran Kyai Hasim Muzadi menurut bapak ?

Dalam hal pengaruh dia lebih berpengaruh dalam dunia akademik dan organisatoris, karena ia memang kemasyhurannya tidak seperti Gus Dur sehingga dalam masyarakat awam banyak yang tidak mengenalnya. Kyai Hasyim Muzadi memulai berkiprah di organisasi dari ranting sampai PBNU. Sumbangsihya untuk negara ia termasuk orang yang diminta Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menjadi anggota pertimbangan kepresidenan (wantimpres).

Apa yang bapak ketahui mengenai sepak terjang beliau ?

Beliau memulai berkiprah di organisasi dari Jawa Timur hingga Jakarta. Setelah di Jakarta ia mengetahui bahwa miniatur Indonesia itu adalah Jakarta. Oleh karena itu disamping menjabat sebagai ketua PBNU periode 1999-2010. Ia juga mendirikan pesantren di Depok.

Apa yang harus di contoh oleh mahasiswa tentang figur beliau ?

Sosok Kyai Hasyim Muzadi perihal yang perlu dicontoh oleh mahasiswa adalah kematangannya dalam berorganisasi. Tanpa berkelompok tidak mungkin dikenal orang dan gagasan-gagasan kita tidak mungkin tersampaikan, seperti yang disampaikan Aristoteles manusia tidak akan pernah hidup tanpa orang lain.

Semakin hebat seseorang itu maka akan semakin membutuhkan orang lain bukan malah sebaliknya, karena ia akan semakin membutuhkan banyak kolega. (RURI/LESEN)