Mendokumentasikan Realita Perbedaan Ideologi

0
143
Peserta menyimak talkshow “Bid’ah Cinta” di Auditorium II Kampus III UIN Walisongo, Kamis (02/03) (sumber : dok. justisia/syaifur)

 

Realitas yang terjadi di masyarakat, perbedaan terjadi pada ideologi yang sama. Meski se-ideologi tapi berbeda pendapat dengan kelompok yang lebih kuat dianggap kelompok yang salah.

Hal tersebut menjadi landasan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuludin dan Humaniora (FUHUM) mengadakan Talkshow dengan tema Satu Agama, Beda Perspektif, Memotret Cara Pandang Beragama Masyarakat Melalui Sebuah Film Bidah Cinta, dengan dihadiri Nurman Hakim (Sutradara), Ben Shohib (Penulis Naskah Film Bidah Cinta), dan Yoga Pratama (Pemain Film Bidah Cinta), di Auditorium 2 Kampus 3 UIN Walisongo, Kamis (02/03).

Mahfudz Sulistiyono, diatas mimbar sambutan mengatakan menuju nilai-nilai Islam dalam bermasyarakat dan ber-Tuhan harus melalui beberapa tahap terlebih dahulu.

“Mengutip pernyataan dari Fazlurrahman (dalam buku Islam), ada 4 tahap untuk menuju Islam yang sesungguhnya ; Al-Quran dan Hadist, Modernisme, Neo Revivalisme, dan Neo Feodalisme,” tutur Ketua DEMA FUHUM.

Kondisi dimasyarakat sekarang sedang menghadapi tantangan dalam mengambil sikap soal toleransi antar golongan dalam satu ideologi.

“Semua tahap menuju Islam Rahmatallil Alamin, diekspresikan dengan ajaran agama yang sesungguhnya di dalam Film Bidah Cinta dan semua perbedaan yang ada dibeberapa golongan dibenturkan dengan cinta,” ujar pria yang duduk dibangku semester 6.

UIN Walisongo Beruntung

Wakil Dekan II Mahsyur, menyambut hangat kedatangan tamu dari Jakarta, karena ini menjadi momentum yang bagus masyarakat terkhusus UIN Walisongo. Terimakasih sudah menyambangi kita dalam talkshow Bidah Cinta banyak pelajaran yang bisa diambil dari semua ini.

“Di sini kita bisa terlebih dulu mengetahui sinopsis Film Bidah Cinta dari pada yang lain, diikuti tepuk tangan dari mahasiswa UIN Walisongo,” ujar Wakil Dekan FUHUM.

Kalian harus senang, karena nggak semua orang bisa mengetahui alur cerita Bidah Cinta seperti yang kita rasakan saat ini. Kita diberi pengetahuan langsung oleh orang-orang dibalik layar Film Bidah Cinta, dari Sutradara (Nurman Hakim) dan Penulis Naskah (Ben Shohib).

Nurman Hakim menceritakan beberapa film yang sudah disutradarai olehnnya seperti, 3 Doa 3 Cinta (Dian Sastrowardoyo dan Nicola Saputra), Khalifah (Marsha Timothy dan Ben Joshua), dan yang sekarang Bidah Cinta (Ayushita Nugraha dan Dimas Aditya), bisa dibilang ini menjadi sekuel dari film sebelumnya, katanya.

Bidah Cinta menceritakan perbedaan sudut pandang mengenai Islam, adanya konflik antara Islam Puritan dan Islam Tradisional, tutur Sutradara Film Bidah Cinta.

Terjadinya konflik Islam Puritan dan Islam Tradisional menjadikan alur cerita yang menarik, konflik tersebut dikemas jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh banyak orang.

“Perbedaan sudut pandang, sudah pada tataran siapa yang benar dan siapa yang salah. Namun ini tidak murni soal agama semata, bisa jadi soal politik, ekonomi, dll,” tutur Alumni Pondok Pesantren Futuhiyyah.

Ben Shohib memapaparkan bahwa film “Bid’ah Cinta” diambil dari latar tempat kental dengan budaya betawi.

“Mencari Islam yang sesungguhnya dengan realitas yang ada dimasyarakat di Jakarta dan sekitarnya. Karena latar belakang film ini mengambil kehidupan masyarakat Betawi. Jakarta menjadi mudah dalam kita bermasyarakat, karena merupakan poros Indonesia dan banyak sudut pandang yang berbeda,” pungkasnya.(FA/SA)