Kisah Wahab, Memajukan Bangsa Melalui Karya Apapun

0
204
Wahab sedang mepersiapkan peralatan streaming video. (sumber foto : facebook/Wahab)
Wahab sedang mepersiapkan peralatan streaming video. (sumber foto : facebook/Wahab)

Wahab sapaan sehari-hari pemuda asal Tegal itu membuka diskusi disambut tawa oleh peserta yang hadir.

“Saya ini tidak pintar seperti kalian (peserta diskusi). Hanya Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang itupun tidak lulus Ujian Nasional, yang kemudian memutuskan untuk menjadi seorang santri,” tuturnya dalam diskusi di Kantor PWNU Jawa Tengah, Jumat (3/3) sore.

Begitu juga saat dia nyantri, pria berambut panjang itu juga tidak sampai menamatkan dunia pesantrennya karena kembang kempisnya ekonomi keluarga. Meskipun proses belajar di pesantren terhenti di tak pernah patah semangat dan memiliki prinsip membangun Indonesia.

“Saya sebagai anak muda Indonesia ingin memajukan Bangsa ini entah lewat apapun itu, yang bisa saya kembangkan. Impian tersebut terwujud ketika tahun 2016 kemarin dia mendapatkan sebuah penghargaan dari KEMENPORA (Kementrian Pemuda dan Olahraga) sebagai Pemuda Inspiratif,” ucapnya sambil menghembuskan asap rokok untuk kesekian kalinya.

Pilihannya untuk berdakwah di Papua selama dua tahun semenjak tahun 2014 mendapatkan berkah tersendiri. Sebelumnya ia tidak dikenal oleh NU namun setelah dia mendirikan berbagai acara di Papua. Dia tidak ingin memberi nama di setiap acaranya dengan mengatasnamakan dirinya sendiri. Tapi dia selalu mengatasnamakan NU di setiap acaranya. Dari situlah dia mulai dilirik oleh orang-orang NU dengan berbagai ide kreatifnya.

“Dalam dua tahun hidup di Papua, dia dihormati dan diterima dengan baik di sana, bahkan mulai dari tempat tinggal, makan sehari-hari hingga keperluan apapun dia difasilitasi oleh salah satu tokoh pemuka agama Katolik di sana. Orang Papua sangat menghormati NU. Mereka menganggap orang-orang NU sebagai anak dari Gus Dur. Mereka cinta terhadap NU karena orang-orang NU itu menyejukkan dan penuh dengan rasa toleransi,” jelas salah satu admin santrionline.com

Ada cerita yang sangat menggelitik yang Wahab sampaikan, ketika dia sedang berdakwah tiba-tiba dia dikalungi parang lehernya oleh sekelompok orang Papua. Namun ketika dia bilang bahwa Saya adalah orang NU seketika sekelompok orang tersebut tertegun dan ketakutan, sembari langsung meminta maaf kepadanya.

Aktifitasnya sekarang bersama dengan kelompok teman-teman santrinya mengembangkan sebuah usaha, mulai dari media online ataupun penerbitan. Melalui wadah bernama Santri Progresif hingga membuat microphone kepekaan suara untuk para kyai atau pemuda yang ingin berdakwah di media online sebagai penjelas dari suara yang dihasilkan.

Harapannya Wahab akan mengembangkan media online dan juga majalah cetak sebagai counter attack dari gerakan-gerakan radikal yang ada di Indonesia terutama kalangan Hizbut Tahrir Indonesia.

“Kalau orang ingin mengetahui dunia adalah dengan cara membaca, sedangkan kalau kita ingin dikenal dunia adalah dengana cara menulis. Sekaligus untuk menjadi benteng dan perekat bagi masyarakat Indonesia demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cinta ini,” tukasnya. (FA/YA)