Jejak Nabi Muhammad Dalam Memimpin Rumah Tangga

0
141
sumber foto : freeislamiclibrary.com
sumber foto : freeislamiclibrary.com

Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam struktur sosial. Ia dianggap sebagai pilar utama untuk kokohnya bangunan masyarakat. Jika keluarga-keluarga itu baik maka baik pula masyarakat tersebut. Sebaliknya, jika dalam suatu masyarakat banyak keluarga yang rusak, maka rusak pula masyarakat tersebut.

Nabi Muhammad sebagai salah satu contoh nabi terakhir lebih sering di dengungkan gagah dipanggung politik sebagai contoh kepala negara. Sangat jarang umatanya mengekspolarasi utusan Alloh terakhir persfektif privat.

Muhammad SAW merupakan teladan yang baik dalam memimpin keluarga. Meskipun banyak kritikan yang diaarahkan kepada beliau oleh kalangan non-Muslim berkaitan dengan rumah tangga beliau, Muhammad SAW tetaplah seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya dan suami yang baik pula bagi istri-istrinya.

Muhammad SAW menikah untk pertama kali saat berusia 25 tahun dengan Khadijah binti Khuwailid. Sebelumya hubungan mereka adalah hubungan antara shahibatul mal ( pemilik modal) dan mudharib (manager bisnis). Belakangan Khadijah tertarik untuk menjalin rumah tangga dengan Muhammad SAW.

Baik keluarga Muhammad SAW maupun Khadijah menyetujui rencana pernikahan keduanya. Sesuai dengan adat setempat, pihak laki-laki harus memberi maskawin tanpa diperkenankan mengganggu harta pihak perempuan.

Sejumlah 20 ekor unta muda sebagai maskawin, Muhammad memberi Khadijah (sumber lain menyebutkan ditambah dengan emas 12,5 uqiyah (ons) dari hartanya sendiri), pernikahannya berlangsung pada 595 M. Menjadi wali bagi Khadijah adalah pamannya Amr bin Asad karena ayahnya, Khuwaylid, sudah meninggal. Sementara keluarga Muhammad SAW diwakili oleh Abbas bin Abdul Muthalib.

Dari perkawinannya dengan Khadijah, Muhammad SAW dikaruniai dua anak laki-laki, dan empat anak perempuan, yaitu Qasim, Abdullah, Ruqayyah, Zainab, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Qasim dan Abdullah meninggal di usia kurang dari dua tahun. Mereka meninggal sebelum Muhammad SAW diangkat menjadi rasul. Ibrahim, anak laki-laki yang merupakan buah hati dari perkawinannya dengan Maria, wanita asal Mesir juga meninggal semasa kecil.

Beliau hidup di zaman yang menganggap bahwa anak laki-laki lebih baik dibanding anak perempuan. Bahkan, kebalikan pada waktu itu membenarkan anak-anak perempuan dikubur hidup-hidup oleh orang tua mereka karena dikhwatirkan akan membawa kesusahan dan aib bagi keluarganya.

Seperti pada umunya, Muhammad SAW juga menginginkan adanya anak laki-laki. Hal ini tersirat dari pengankatan Zaid bin Haritsah sebagai anak angkat beliau. Zaid yang sebelumnya adalah seorang budak yang dibeli oleh Khadijah, oleh Muhammad SAW dimerdekakan dan diangkat sebagi anak angkat. Sejak saat itu Zaid dikenal sebagai Zaid bin Muhammad (ARIF/LESEN)