sumber foto : freeislamiclibrary.com
sumber foto : freeislamiclibrary.com

sumber foto : freeislamiclibrary.comOleh : ARIF

Muhammad hanya beristri Khadijah, selama limah belas tahun sebelum kerasulan hingga 10 tahun sesudahnya. Setelah Khadijah wafat, Muhammad SAW menikah dengan Aisyah, yang merupakan putri sahabat Abu Bakar As-shidiq RA. Tetapi pernikahannya dengan Aisyah baru disempurnakan setelah hijrah ke Madinah.

Setelah menikah denganAisyah, Muhammad SAW menikah lagi dengan Saudah binti Zamah, seorang janda yang suaminya pernah hijrah ke Ethiopia dan meninggal setelah kembali ke Makkah. Setelah perang Badar Muhammad SAW menikah dengan Hafsah binti Umar bin Khatab yang ditinggal mati suaminya Khunais.

Pada tahun 4 H / 626 M, Muhammad SAW memilki empat orang istri: Saudah binti Zamah, Aisyah bint Abu Bakar, Hafsah binti Umar bin Khatab, dan Zainab binti Khuzaimah.

Empat bualan setelah Zainab wafat, Muhammad SAW mengawini Ummu Salamah yang berusia 29 tahun. Ia adalah janda Abu Salamah, sepupu beliau yang ditinggal mati suaminya 4 bulan sebelumnya.

Setelah penaklukan Bani Mushtaliq, Muhammad SAW menikah dengan Juwairiyah binti al-Harits bin Abi Zirar. Juwairiyah pada mulanya termasuk salah satu tawanan perang dan ingin menebus dirinya. Kemudian Muhammad SAW menikahinnya dan diikuti dengan pembebasan tawanan lainnya.

Mengenai hal ini Aisyah RA berkomentar, Tidak pernah saya lihat seorang wanita lebih besar membawa keuntungan buat golongannya seperti dia ini.

Dalam memimpin rumah tangganya, Muhammad SAW dikenal sebagai seorang suami yang penuh cinta kasih, yang mampu berlaku adil terhadap seluruh istri-istrinya. Ia senantiasa berbagi pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian, memerah susu kambing, atau memperbaiki rumah.

Ia juga dikenal sebagai ayah yang perhatian kepada anak-anaknya, meskipun sudah dewasa dan berkeluarga. Misalnya, Muhammad SAW berpesan kepada Usman bin Afan, untuk tidak ikut bersamanya ke perang Badar, dan diminta menjaga Ruqqayyah, putri Muhammad SAW yang sedang sakit.

Satu minggu setelah pulang dari perang Badar, Muhammad SAW mendorong Ali bin Abi Thalib untuk melamar Fatimah secara resmi. Beberapa bulan kemudian, Muhammad SAW meminta Usman untuk menikahi Ummu Kalsum, adik Ruqqayyah.

Rasulullah SAW merupakan ayah yang teladan bagi anak-anaknya, mertua yang pengertian, kakek yang penyayang terhadap cucu-cucunya. Sebagai suami teladan Rasulullah SAW, Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan, Bahawasanya beliau duduk di sisi unta beliau, kemudian beliau meletakkan lututnya, lalu istri beliau Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut Nabi SAW hingga naik di atas unta.(ARIF/LESEN)