Bigo Live; Menyatunya Sex, Video Porno, dan WPS

0
5901
sumber ilustrasi : januaryan.com

Bigo live, aplikasi live streaming yang sedang di gandrungi para penggunanya. Aplikasi asal Singapura yang muncul di awal 2016, sudah mencapai 50 juta lebih penggunanya. Bigo live merupakan sebuah aplikasi siaran langsung melalui smartphone dan bisa dilihat dan dinikmati oleh para pengguna lainnya.

Munculnya aplikasi tersebut ternyata menggundang banyak persoalan. Hal ini disebabkan pengguna aplikasi tersebut didominasi oleh perempuan remaja, mirisnya lebih bahyak dari mereka memperlihatkan bagian sensitive tubuh meraka. Dengan kenyataan ini bigo live lebih familiar sebagai aplikasi mesum dan mengandung konten negatif.

Fenomena ini banyak menimbulkan pertanyaan. Mengapa para penggunyanaya (mayoritas perempuan) dengan sukarela mempelihatkan bagian tubuh mereka ? tanpa ada motif ekonomi dan kepentingan, semua hanya hiburan semata.

Faktor uang sangat sedikit sekali, karena uang akan di dapat ketika para pengguna lain memberikan Gift (poin) maka semakin banyak diamond yang terkumpul. Kemudian diamond tersebut dapat ditukarkan menjadi uang cash sesuai aturan yang sudah berlaku.

Adanya aplkasi ini bukan tanpa bahaya. Tingkat bahayanya bahkan lebih tinggi, di karenakan para penonton menyaksikannya secara langsung. Namun untuk video dewasa hanya sebatas video yang di putar ulang dan berdampak pada individu pribadi saja, bukan secara luas seperti bigo live. Diawali dengan perkataan maupun tingkah yang menggoda, dan merayu-rayu, cewek tersebut memamerkan bentuk tubuhnya secara langsung.

Dengan model seperti ini, orang akan lebih penasaran apa yang akan dilakukan cewek yang sedang live. Hal ini menimbulkan penasaran yang sangat tinggi atau kepo yang tinggi bagi para lelaki yang menyaksikannya, walaupun hanya sekedar melihat sang cewek membuka baju dan pakaian dalamnya. Bahkan tidak sedikit pula laki-laki yang melihatnya diberengi dengan manual orgasm.

Bagi para penikmat bigo, temtu labih ekonomis dari pada Wanita Pekerja Seksual (WPS). Cukup bermodalkan paketan internet, laki-laki juga bisa melihat tubuh wanita tanpa harus membayar mahal tetapi juga bisa merangsang layaknya menyewa WPS di lokalisasi atau prostitusi. Terlebih pengguna yang hanya sebagai penikmat konten siaran live, bukan menjadi broadcaster.

Mengapa kenyataan ini lebih hina dari seorang WPS ?. Kita mengetahui bahwa orang yang menjadi WPS di tempat-tempat prostitusi itu merupakan orang-orang yang memang rendah dalam sisi ekonomi dan pendidikan. Selain itu latar belakang ekonomi mereka memang memprihatinkan, di tengah dapur yag harus terus mengebul. Intinya suatu tindakan yang memang cukup beralasan.

Berbeda dengan perempuan yang live di bigo, dengan memperlihatkan bagian tubuh mereka, akan mendapatkan uang namun dalam jumlah yang kecil. Semua semata hiburan, bersenag-senang, dan fantasi fana. Tidak atas suatu alas an yang mendesak. Artinya mereka mempunyai latar belakang ekonomi tidak terlalu buruk. Bahkan orang-orang berduit dan wanita berpendidikan melakukan hal yang serupa. (ARIS/MUFTI)