Perhelatan Cap Go Meh di Semarang Pecahkan Rekor MURI

0
159
Pertujukan Barong sai menambah kemeriahan acara “Semarak Cap Go Meh 2017” di Balaikota Semarang. (19/02/2017) (Dok: Justisia)

Semarang, Justisia.com-Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Jawa Tengah menghelat acara Cap Go Meh, yang merupakan perayaan terhadap malam ke-15 pasca tahun baru Imlek. Bertepatan dengan bulan purnama pertama Tahun Baru Imlek, Minggu (19/02).

Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh sejumlah tokoh lintas agama seperti; Romo Aloysius Budi Purnomo Pr (Katolik), Bhante Dhammasubho Mahathera (Buddha), Marga Singgih (Pengurus Tri Dharma Jawa Tengah). Berbagai pertunjukan kebudayaan turut menghibur para hadirin. Mulai dari Liong (naga-nagaan), Barong Sai, Dance, Drama teatrikal, dan Musik ala Tionghoa. Diakhiri dengan dialog budaya oleh para tokoh lintas agama.

Lebih menariknya, acara ini berhasil memecahkan rekor ke-7.826 Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam memakan lontong Cap Go Meh secara serentak terbanyak dengan jumlah peserta sebanyak 11.760 , yang mana telah mematahkan rekor yang sebelumnya di pegang oleh Kabupaten Berau, Kalimantan Tengah dengan peserta sebanyak 11.000.

Kenapa lontong Cap Go Meh, Karena dikenal di seluruh Indonesia dan berasal dari dari Jawa Tengah. Ini dari Semarang untuk Indonesia, saya ingin ajak seluruh warga Kota Semarang mari serukan kebhinekatunggalikaan,” kata Dewi.Ujar ketua PMSTI Jateng, Dewi Susilo Budhiarjo, saat di wawancarai.

Wali Kota Semarang mengatakan bahwa perbedaan ini akan menjadi kekuatan dalam keberagaman khususnya Kota Semarang “Kita majemuk dan perbedaan ini jadi kekuatan bagi Kota Semarang, ujar Hendi. (j/Afif)