Oleh Alhilyatuz Zakiyah

 

Dasar anak pemalas! Di suruh masak air tidak disegerakan!

Ragil terkaget. Setelah menjemur pakaian, ia hanya beristirahat sejenak duduk di kursi tua ruang tamu, sambil menyalakan kipas angin yang dibeli ayahnya dari tukang rosokan waktu itu. Tentu Ragil sangat mengingat hal ini, karena Ragil bertugas menunggu tukang rosokan jika terdapat kipas angin nanti akan dibeli ayahnya. Ayahnya memang pandai memperbaiki perkakas rumah tangga, terutama terkait listrik. Selalu saja ia ingat kenangan akan kipas angin tua itu jika dinyalakan.

Bukannya masak air malah duduk di sini! Ibu sudah capek kerja, mencari uang agar kamu bisa makan. Baru disuruh begitu saja sudah capek. Lihat itu si Toni dari pagi sampai sore membantu ikut orang tuanya ke pabrik rokok. Ibu selalu saja melihat Toni menyapu halaman belakang pabrik itu ketika ibu berkeliling. Dasar anak pemalas!

Amarah ibunya membuat mendekati Ragil, sambil memajukan tangan kanan. Seakan-akan paham dengan apa yang akan diperbuat ibunya, Ragil berusaha menghindar pelan-pelan. Pantatnya sedikit bergeser ke kanan sedikit demi sedikit. Kursi panjang itu menjadi tempat Ragil dieksekusi.

Haaaaa. Ibu maaf Ibu.

Makannya cepat direbus airnya!

Jerit Ragil menembus udara ruang tamu. Jeritan itu tak keras. Hanya bisa didengar orang rumah saja. Sedangkan di rumah hanya ada adik perempuannya yang masih balita. Sudah 9 tahun bersama ibunya, tentu Ragil paham betul jika ia berteriak keras karena kesakitan, Ibunya tambah marah. Bagi ibunya itu termasuk tindakan perlawanan. Ibunya paling tidak suka jika anak pertamanya itu melawannya. Cubitan sang ibu membuat Ragil menangis. Tangisnya tak bisa tumpah lepas. Sesegera jika ibunya memandangnya, ia cepat menghapus airmatanya dengan kaosnya.

Lalu ibunya berjalan meninggalkannya. Itu artinya Ragil harus segera mematikan kipas angin, lanjut pergi ke dapur memasak air hangat untuk memandikan adik kecilnya. Ragil mengerling kepada langkah kaki ibunya yang pergi. Rupanya ada dendam di hati Ragil. Perasaannya sangat sakit. Apa yang ia lakukan selalu saja salah. Bahkan sang ibu tak pernah memberinya kesempatan untuk melakukan pembelaan. Kebiasaan ibu mencubit Ragil, membuat badan Ragil sakit. Tapi bagi Ragil sakitnya cubitan-cubitan dari ibu yang setiap hari pasti saja ibunya meninggalkan luka fisik di tubuhnya, tak membuat Ragil untuk tidak melaksanakan tugas ibunya.

Ibunya Ragil, memang sangat keras dan disiplin. Sedangkan ayahnya yang bekerja sebagai buruh pabrik rokok di dekat rumahnya berperangai lemah lembut, dan penyabar. Sering Ragil mendengar ayahnya selalu mengalah jika sedang beradu argument dengan Ibunya. Meskipun menurut Ragil dengan pemahaman sederhananya, Ayahnya berada pada posisi benar.

Kadang Ragil berpikir jauh tentang ibunya. Ketika hatinya kacau melahap amarah dari ibunya. Pikiran-pikiran yang tak karuan muncul. Lalu sambil menunggui air matang, Ragil yang sedari tadi masih meneteskan airmata memikirkan sesuatu. Sambil mengusap-usap airmata Ragil berpikir.

Apakah Ibuku ini bukan Ibu kandungku ya? Apa Ibu itu Ibu tiriku ya? Kenapa denganku Ibu selalu marah-marah? Terlebih jika Ayah tidak di rumah seperti sekarang ini. Tak ada yang membelaku. Biasanya Ayah selalu membelaku. Bahkan Ayah rela berdebat, dna mengalah menerima amarah Ibu jika sedang membelaku. Aku merasa sangat dicintai Ayah pada waktu begitu itu. Sedangkan bagiku Ibu, sangat jahat bagiku.

Jika sedang menangis seperti ini, batin Ragil berontak terhadap rasa sakitnya. Pikiran, hati, dan perasaannya mengantarkan Ragil pada kisah orangtuanya lagi. Pernah suatu ketika Ragil mendengar ayah dan ibunya berkelahi. Ibunya berkata pada ayahnya,

Coba kalau aku mau dikawin dengan pengusaha itu, atau mas itu anaknya guruku yang kaya, pasti aku tidak akan hidup serba kekurangan. Tidak harus bekerja keliling menjual sayur-mayur. Ucap Ibunya pada sang Ayah.

Mengingat kenangan itu, Ragil semakin deras airmatanya. Ragil tidak tahu apa salahnya, kenapa menanggug semuanya ini. Kenapa memiliki Ibu seperti itu, seperti majikan yang ia rasakan karena selalu menyuruh ini itu tak pernah habis, kecuali ketika sednag belajar ia barulah ia terbebas dari pekerjaan yang diberikan ibunya.

Begitulah keseharian Ragil. Selalu membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, memasak, menyirami tanaman, mencari rumput makanan kambing, memberi makan ayam, sampai menemani tidur adik perempuan yang masih berusia setahun. Walau begitu Ragil adalah anak yang cerdas, berprestasi. Meski belum pernah mengikuti perlombaan sekolah, Ragil selalu terbaik 3 besar di sekolahnya.

***

20 tahun kemudian

Terlihat pohonnya masih kuat. Hijau daunnya, tak seperti yang dibayangkan semasa dulu. Ragil sudah 11 tahun berada di sini, Mesir. Kota yang diimpikannya sejak kecil karena melihat tetangga depan rumahnya bersekolah di Mesir. Rumah itu ia ingat sekali rumah yang besar dan megah. Sedangkan rumahnya tak ada setengahnya, jangankan setengahnya mungkin ruang tamu tetangganya itu seukuran rumah Ragil. Sejak mulai mengerti rumah yang bagus, ia mengidamkan rumah sebesar tetangga depan rumahnya itu. Semenjak mengerti pentingnya bersekolah, ia mulai memimpikan bersekolah di luar negeri seperti tetangga depan rumahnya itu.

Di usia ke 29 tahun ini Ragil tak jua ingin pulang. Setiap kali Ragil mengingat akan rumah, ia tak kuasa meneteskan airmatanya.

Arif, kau tahu? Di bawah pohon ini lah Sayyidah Maryam dan anaknya tercinta menghabiskan waktu berdua. Dulu Herodus Raja Romawi mengejar mereka, lalu di sinilah mereka bersembunyi. Dalam versi Injil Sayyidah Maryam ditemani Yusuf Annajar tunangannya, sedangkan dalam al-Quran ia adalah kerabatnya.

Wah, seorang ibu dan anak yang kemesraannya dikenang dunia. Pohon ini menjadi saksi atas perjuangan mereka Ragil!

Itu benar Rif.

Ragil sudah 11 tahun kau di sini kau paling lama di sini tak seperti teman-teman yang lebih memilih segera pulang. Tanya Arif penasaran.

Kenapa kau ingatkan aku pada Ibuku Rif?

Lho kenapa? Kau ini dosen Al-Azhar seorang yang dihormati, saya ingatkan tentang Ibu seharusnya kau menyimpan kerinduan yang besar bukan?

Aku menjadi di sini, atas usahaku sendiri Rif, bukan atas jerih payah siapa pun, apalagi Ibuku.

Aku sakit hati dengan Ibuku Rif! Wanita Padang yang tak sabar hidup bersama ayahku. Ibuku keluarga bangsawan di sana. Ibuku wanita yang memilih meninggalkan kampung halamannya atas dasar cinta kepada Ayahku. Tetapi setelah berumah tangga Ibuku tak tahan dengan kondisi ekonomi Ayahku. Selalu aku yang menjadi santapannya setiap hari. Ayah selalu membelaku, tetapi pembelaan terhadapku itu terasa sia-sia dan hanya membuat mereka berdua semakin ramai di rumah. Aku kasihan terhadap Ayah. Ku putuskan setelah aku lulus sekolah aliyah, aku akan ke Mesir. Atas izin Ayah, aku pergi dna tak pernah kembali. Bagaimana mungkin, coba kau bayangkan! Ibuku tak memberiku izin hanya karena aku nanti tak dapat menemaninya membersihkan rumah, apa aku ini dianggap pembantu?

Mungkin benar aku anak tirinya Rif! Meski nyatanya memang tidak. Jika aku pulang, aku takut tak bisa menerima kenyataan akan sikap ibuku. Aku yakin ibuku tak bahagia aku di sini.

Seorang ibu sengaja disatukan dengan bayinnya oleh Allah. Seorang ibu yang memiliki bayi dalam kesunyian malam diganggu oleh tangisan anak bayinya. Ibu itu akan bangkit dari kasurnya untuk memenuhi kebutuhan bayinya. Sebagai pihak yang menyatukan diri dengan bayi, ia menyerahkan dirinya kepada pihak memanggilnya untuk bersatu si bayi. Kenikmatan seorang ibu tidak terasa nikmat waktu itu. Bagaimana bisa menikmati?Waktu istirahat hilang. Tetapi kenikmatan seorang ibu adalah saat ini, saat kau tumbuh menjadi seorang laki-laki yang cerdas, berpendidikan tinggi, menjadi akademisi di negeri orang. Ibumu orang Padang Ragil, kau butuh waktu mengenal ibumu. Ibumu rela meninggalkan tanah kelahiran demi ayahmu. Tetapi kau tidak terima akan penyesalan ibumu melihat kondisi ekonomi yang sebelumnya tak terpikirkan oleh ibumu. Kau lihat pohon itu, pohon persaksian seorang ibu Maryam yang melindungi anaknya Isa. Pengorbanan yang selamanya hadir dalam ruh seorang ibu untuk anaknya. Kau terlalu angkuh, mungkin sifat leluhur darah Padang hadir dalam dirimu. Kau hanya terfokus dengan perlakuan ibumu yang keras, sewenang-wenang, menganiaya. Kau tak membuka mata hatimu untuk menembus ibumu Ragil! Pulanglah, saya yakin selama keluargamu tak mengirimkan surat untukmu, kedua orang tuamu masih hidup.

Tidak Arif, hatiku belum terpanggil untuk pulang. Aku hanya akan pulang ketika mendengar suara ibuku menyuruhku pulang! Tetapi sayang pasti ibuku tak akan mengharapkan itu karena menganggapku telah hilang ditelan bumi.

***

Pertemuan di Makkah Al-Mukarromah

Ragil melaksanakan ibadah haji bersama rekan-rekannya dari Mesir. Hari ini terjadwal tawaf wada[1], setelah melaksanakan serangkaian ibadah haji. Haji pertama kali yang dilaksanakan Ragil ini, mengingatkan Ragil pada kedua orang tuanya. Orang tua yang dirindukannya itu selalu membayangi langkah kakinya. Terlebih ibunya, seakan-akan tak berhenti menghantuinya, semakin dekat dengannya. Terasa sangat dekat. Kian hari kian dekat. Seperti hari ini, ibunya terasa semakin hadir ketika ia berpamitan di Kabah.

Tawaf dilaksanakan sebanyak 7 kali putaran mengelilingi Kabah dengan membaca doa. Dimulai dari Hajar Aswad (garis cokelat). Pada putaran pertama Ragil mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad dan kali ini Ragil dengan gigih mengejar kesunnahan untuk menghadap Kabah sepenuh badan. Sedikit lagi kira-kira 7 meter jarak mendekati Kabah, tetapi Ragil mulai sempoyongan. Arif teman seperjuangannya mengenali kondisi sahabatnya yang mulai tidak kuat. Jari telunjuk Arif menunjuk ke arah belakang, tanda mengajak Ragil untuk mengamankan diri meski jarak akan menjauhi Kabah. Tetapi kondisi badan Ragil semakin mengenaskan.

Bismillahi wallahu akbar. Bismillahi wallahu akbar. Bismillahi wallahu akbar.[2]

Ragil dan Arif menangis sejadi-jadinya. Dalam hati Ragil bergumam;

Ibu Ibuku sayang maafkan anakmu ini Ibu. Ibuku Ibu aku mencintai Ibu. Aku berjanji akan menemui Ibu setelah dari Mekkah. Ibu kenapa kau terasa dekat di sini Bu?Allah tak memaafkanku jika Ibu tak memaafkanku Bu. Ibu andai hari ini kita sedang berdua, akan ku kecum jidadmu Bu. Ku peluk engkau Ibu. Aku ingin mencium telapak kakimu Bu. Izinkan aku Ya Allah, izinkan aku Ya Allah, izinkan aku mencium kaki Ibuku Ya Allah. Ampuni dosanya Ya Allah, ampuni dosannya Ya Allah. Aku mohon ampuni Beliau Ya Allah. Ibu aku merindukanmu Bu. Aku janji jika aku masih hidup dari sini, aku akan menemuimu Bu. Aku tak peduli apa yang akan kau lakukan padaku, menghukumku aku sangat ikhlas Bu. Aku rela Ibu.

Ragil semakin terhempas, terpinggir bersama Arif. Mereka berdua berpegangan erat. Namun Ragil tak kuat menggenggam tangan Arif. Arif terjatuh oleh orang-orang berbadan kekar perawakan Arab. Arif tak kuat mencapai uluran tangan Ragil yang semakin lemah. Mereka terpisah. Tangis Ragil semakin pecah. Di akhir tawaf pada putaran ke 7, Ragil semakin jauh dari jamaah. Ia tiba-tiba merasa mendengar suara ibunya.

Ragil RagilRagil

Anakku sayang Ragil

Ragil.

Ragil menoleh ke kanan pada perempuan yang terkapar di lantai. Sekitar 3 meter dari Ragil. Dengan sempoyongan, Ragil menuju perempuan itu. Terlihat dari belakang nampak seorang bapak-bapak yang sudah memutih rambutnya. Perawakan seperti tubuh ayahnya. Jantung Ragil berdetak sangat kencang. Tiba-tiba langkahnya cepat, tak melemah.

Allahu akbar Ibu

Ibu… Ya Allah… Tangis Ragil pecah menjadi-jadi.

Anakku sayang, ibu rindu padamu nak. Ragil sayang, ibu sayang padamu.Maafkan ibu nak, dulu ibu sangat kasar terhadapmu. Ibu titip pondok pesantren eyang di Padang nak!

Ibu jangan pergi Bu. Ibu, Ragil janji tidak akan marah pada Ibu meninggalkan Ibu.Ibu, Ragil mencintai Ibu. Izinkan Ragil merawatmu Bu.Ibu…

***

Itulah kisah Kyai Ragil yang sampai saat ini belum menikah.Di ujung usia yang hampir satu abad itu ia habiskan untuk mencintai sang Ibu semata.Rasa sesal karena tidak merawat sang Ibu yang ternyata dulu meninggalkan pondok ini, karena menikah dengan sang Ayah di Jawa .Kepergian Kyai Ragil ke Mesir, membuat sanak-saudara di Padang mencari penerus pondok pesantren ini.Keluarga dari Padang menjemput kedua orang tua Kyai Ragil, beserta sang adik untuk menghabiskan waktu di Padang untuk pesantren ini.Selama di Padang Nyai Latief ini merasakan kerinduan yang mendalam terhadap anak puteranya itu.Akhirnya atas permintaan Nyai Latief ibunda Kyai Ragil untuk haji, karena merasa ini haji terakhirnya sekaligus pertemuannya pada anak lelakinya yang berada di Timur.Pergilah Nyai ke Mekkah sekaligus mencari keberadaan anak lelakinya.Akhirnya Kyai Ragil dengan berbekal ilmu dari negeri timur yang menamatkan hafalan quran di sana, mengabdikan dirinya untuk pondok pesantren ini.Karena sebelum meninggal dunia sang ibu menitipkan pondok ini pada Kyai Ragil.Itulah kisah Nyai Halimah dan putranya yang sangat mengasihinya. Semoga Kyai Ragil selalu dijaga kesehatannya oleh Allah SWT.

Begitulah sebuah cerita yang mengharumkan Padang kala itu. Cerita yang dikenang oleh Nyai Salsabila, adik Kyai Ragil yang menceritakan kisah itu di depan para santri dan santriwati baru dalam mauidhoh hasanah[3].

[1] Tawaf wada adalah tawaf yang menjadi wajib haji, jika ditinggalkan hajinya tetap sah, akan tetapi ia harus membayar dam (denda). Tawaf wada ini dilaksanakan sebelum meninggalkan Mekkah untuk kembali ke kamnpung halamannya.

[2] Bacaan tawaf sambil mengangkat tangan, sambil mengecup hajar aswad jika memungkinkan sampai hajar aswad.

[3] Mauidhoh hasanan merupakan ceramah dari seorang yang alim, biasanya disampaikan dari kalangan kyai yang dianggap mumpuni ilmunya.