Berpikir Nakal Boleh Saja Asalkan Tetap Membaca

0
137
Wadyabala Justisia foto bersama dengan Ketua PWNU Jawa Tengah dalam acara Workshop Islamic Studies & Sosiologi di Gedung M2 Kampus III UIN Walisongo Semarang. (15/02/2017) (doc: Zizi)

Ketika saya berbincang-bincang dengan Gus Mus, saya sering cerita tentang anak-anak yang berpikir nakal (berpikir liberal-red), terus Gus Mus berkata, mau berpikir apa pun seperti apap pun, ibaratnya berpikir PKI sekali pun misalnya, asalkan tetap belajar dan membaca tidaklah apa mereka akan kembali seperti semua, tutur Abu Hapsin, Rabu (15/02/17).

Menurut Abu Hapsin sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut mengatakan, orang-orang Islam di Indonesia jauh lebih baik dari Islam yang ada di Timur Tengah dalam pemikiran ke-Islaman. Contoh saja pemikir-pemikir yang telah menjadi korban karena berpikir berbeda seperti Fazrul Rahman dari Pakistan, Nasr Hamid Abu Zaid di Mesir yang mengakhiri masa hidupnya di Leiden-Belanda. Mereka bernasib tragis yang diangap menyimpang dari ulama-ulama setempatnya. Karena memang di Timur Tengah masih sangat konvensional dan emosional.

Kemudian, Dia menceritakan saat kedatangan Fazrul Rahman di Indonesia, tahun 84. Tepatnya berkunjung di Jogja. Fazrul Rahman mengatakan salah satu dunia Islam yang akan turut mewarnai di dunia adalah di Islam Indonesia. karena Islam di Indonesia adalah Islam yang moderat, seperti NU.

Umat muslim yang terbesar di Indonesia, adalah pemikiran muslim moderat Indonesia. bener-bener merindukan muslim di indonesia peran tampil dalam perdamaian dunia. Kami pegang Mesir tetapi ada kudeta, ada isis masuk. Berharap dengan Mesir. Mesir masih banyak orang konsevatif. Satu-satunya harapan besa adalah Indonesia, saya merindukan dengan Mr. Wahid (Abdur Rahman Wahid), jelas Dosen Fakultas Syariah UIN Walisongo tersebut saat berkunjung di Israel bulan lalu.

Mengenai pemikiran Hukum empat madzhab, yang dianut oleh kalangan muslim Indonesia. khususnya orang NU, yang dirumuskan oleh KH. Hasyim Asyari. Ke empat Imam tersebut memiliki corak pemikiran hukum yang berbeda. Perbedaan dari para Imam Madzhab tersebut tidak terlepas dari kondisi sosial-politik pada masanya.

Mau yang liberal Imam Hanafi, mau literal Imam Hambali. Kedua Imam tersebut sebagai sebagai patokan. Tidak melewati batas pemikiran mereka. Meskipun sama-sama dilahrikan di Baghdad. tetapi yang membedakan sosial-politis masyarakat saat kehidupan masa itu. Imam hanafi lahir 80 Hijriyah, lahir saat perlaihan dari Ali ke Muawiyah. Pasti akan menyeret-nyeret justifikasi agama,s Jelas lulusan UCLA Amerika Serikat tersebut.