Sebuah Pencarian

0
168
sumber ilustrasi : Pissed Off Geek
the-pshycian
sumber ilustrasi : Pissed Off Geek

Film yang diangkat dari Novel karya Noah Gordon, yang berjudul Der Medicus atau The Physician, bercerita tentang kehidupan masyarakat Persia abad ke 11. Seorang pemuda Inggris yang beragam Kristen bernama Robert Cole, ingin mencari seorang guru di Ishfahan, Persia. Dia terilhami dari peristiwa kematian ibunya yang mederita penyakit tifus. Pada kala itu di daerah tempat tinggalnya tersebut, bahkan di daratan Eropa sistem pengobatannya jauh dari kata layak. Bagi orang Inggris yang menyembuhkan penyakit kala itu adalah golongan orang-orang Barber atau tukag cukur.

Setelah ibunya wafat ia bertemu dengan seorang barbar dan berkelana bersamanya. Suatu hari mata barbar mengalami rabun, kemudian Rob mengantarkannya pada sseorang tabib Yahudi yang terkenal. Oleh tabib tersebut Barbar tersembuhkan.

Terjadilah percakapan antara Rob dan Tabib. Rob bertanya “Darimana kah engkau mempelajari pengobatan ini?” Tabib menjawabnya “Dari seorang tabib-tabib yang terkenal, di daerah Ishfahan engkau akan menemukannya, Ibnu Sina namanya”

Dari situ kemudian Rob bertekad unntuk menemuinya dan sekaligus menjadikan Ibnu Sina seorang guru. Disinilah awal mula perjalanan Rob, dia mengarungi lautan dari Inggris hingga Mesir selama setahun lebih lamanya. Sesampai disana, dia menyamar sebagai seorang Yahudi sehingga lantas ia menyunat kemaluannya sendiri. Karena orang Muslim, Persia, dan Arab kala itu tidak menerima dan melarang orang Kristen untuk memasuki wilayah mereka yang belum khitan.

Pertemuanya dengan Ibnu Sina dan ia dijadikan sebagai salah seorang murid di madrasah tempat Ibnu Sina mengajar. Dalam film ini juga tersaji sebuah bumbu-bumbu konflik politik di dalamnya. Dimana kelompok fundamentalis bersekutu denga tentara Bani Saljuk utuk menggulingkan dan mengkudeta kekuasaan Shah Ad-Daula. Selain itu yang menarik juga dalam film ini yakni selingan antara dogma agama dan ilmu pengetahuan. Seperti halny seorang pasien yang meminta agar tidak dikuburkan atau dibakar saat meninggal. Ia menginginkan mayat dirinyya untuk digantung di atas menara agar bangkai tubuhnya dimakan oleh burun yang akan membersihkkan jiwanya dari materi yang tetap, karena dia adalah seorang penganut Zoroaster.

Akhir cerita para Mulla bersekutu dengan Bani Saljuk dan menggempur Istana. Madrasah Ibnu Sina dihancurkan dan dibumi hanguskan. Saat itu Ibnu Sina duduk terdiam di atas kursi. Dan ia mengakhiri hidupnya dengan meneguk segelas racun yang kemudian merenggut nyawanya.

Pertama, distorsi sejarah sebenarnya. Pasalnya dalam film tersebut tidak singkron dengan sejaarah yang ada di buku-buku. Kematian Ibnu Sina di film dijelaskan dengan meneguk sebuah racun, padahal Ibnu Sina meningal saat ia dalam perjalanan menuju ke Hamdan. Selain itu dalam film digambarkan bahwa Ibnu Sina dan Istana berjarak, sedangkan alam sejarahnya ia bagiian dari interal istana.

Kedua, terjadi sebuah dikotomi antara agama dan ilmu pengetahuan. Dimana pada saat itu kalangan Kriten menilai bahwa tabib bukanlah seorang penyembuh dari berbagai penyakit, yang menyembuhkan hanyalah Roh Kudus (Tuhan). Apabila mengandalkan tabib, maka akan menyalahi aturan gereja. Selain itu antara seni dan agama tidak boleh salinng dikaitkan, karena akan mereusak tatanan akidah nantinya.

Ketiga, disini juga nampaknya dimasuki bumbu-bumbu politik beragama, dimana kaum Yahudi lebih diunggulkan segala-galanya daripada kaum Nasrani. Padahal kalau kita melihat sejarah, sekali lagi orang Nasrani turut berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Dimana Ishak bin Hunain yang beragama Nasrani salah satu jamaat Nestoria sangat berperan dalam penerjemahan buku-buku Yunani yang kemuadian diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, Arab, dan Syiria.

Penulis : Ainul Yaqin

Editor : Rais Lesen