Waktu Memang Kejam

0
208

waktu-memang-kejam

Oleh : Hasan Ainul Yaqin*

Aktifitas manusia dalam kesehariannya selalu bergandengan dengan waktu, kemana saja, dan kapan saja. Seakan perjalan hidup manusia di atur oleh waktu, dan ada kala manusialah yang mengatur jalannya waktu. Pepatah Arab mengatakatakan al-waqtu ka saif, waktu layaknya pedang. Artinya kalau manusia tidak menggunakan waktu, maka waktu akan membunuhnya.

Dalam realitas sosial, waktu menjadi alarm yang mengingatkan manusia untuk melakukan suatu pekerjaan. Semisal, manusia berangkat sekolah, karena waktunya berangkat, orang makan karena waktunya makan. Semua tindakan yang dilakukan manusia tidak lepas dengan namanya waktu. Namun jangan kira, waktu bukan hanya sekedar mengingatkan manusia, melainkan dapat membunuhnya, itulah sifat dari kekejaman waktu.

Pembunuhan yang dilakukan waktu dikarenakan dua sisi. Disatu sisi, karena manusia tidak memanfaatkan waktu dengan semaksimal mungkin. Di sisi lain karena manusia yang sering mengolor waktu yang sudah terjadwalkan. Kedua sisi itulah yang dapat membunuh manusia, jika manusia tidak mampu untuk membenahi dirinya.

Dalam sehari semalam ada 24 jam, waktu ini tentunya tidaklah sedikit bagi manusia sebagai subjek pengguna waktu tersebut. Contoh pada jam 07.00 s/d 16.00 merupakan waktu yang digunakan oleh mayoritas orang untuk ber aktifitas, entah sekolah, bekerja, ataupun aktifitas lainnya. Namun disela sela waktu tersebut tentulah banyak keluangan waktu yang tidak dimanfaatkan sehingga waktu tersebut terbuang dengan sia sia.

Nafas manusia di dunia digunakan pada dua waktu. Pertama saat ia hidup kedua saat ia mati. Namun matinya bukanlah mati yang secara hakiki, melainkan matinya adalah tidurnya. Artinya, tidur dan matinya manusia adalah sama. Sama sama tidak menikmati aura kehidupan. Perbedaannya, terletak pada nafas yang ada pada diri manusia, kalau mati sudah tidak bernafas, sedangkan tidur sebaliknya. Menurut Sayyid Abdullah bin Alwi memberi batasan dalam kitabnya risalatul muawanah, seyogyanya waktu untuk tidur maksimal delapan jam. Dari sisa waktu tersebutlah dapat dimanfaatkan dalam kehidupan ini.

Seandainya manusia memnfaatkan waktu luang yang ada, baik yang ada pada sela sela waktu yang ditetapkan ataupun waktu yang belum ada jadwalnya untuk digunakan pada hal hal positif seperti membaca, menulis, berdiskusi, berkarya maka manusia berada dalam taraf keberuntungan. Karena secara garis besar manusia dalam keadaan kerugian. Seperti yang difirmankan oleh Allah dalam surat al Asr. Demi masa, bahwasannya manusia dalam keadaan rugi, kecuali orang beriman, dan mengerjakan amal sholeh/hal positif, dan taat mentaati suapaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya menatapi kesabaran.

Faktor kedua dari kekajaman waktu karena kesalah manusianya yang semestinya on time atas waktu yang telah ditetapkan, malah mengulur waktu. Fakta sosial yang ada, mengulur waktu sudah mulai ditradisikan oleh sebagian masyarakat. Misalnya masyarakat desa menyelenggarakan pada jam 08.00, namun bersatunya masyarakat untuk berkumpul bukan pada waktu yang telah di handle, melainkan molor dari waktu itu. En